Tampilkan postingan dengan label Journey Of My Memories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey Of My Memories. Tampilkan semua postingan

Selamat panjang umur, Lina Fatinah!

"Selamat panjang umur, Lina Fatinah! Jiwamu semakin muda, hanya bajumu yang tua" ucapmu dalam sajak

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan menghela nafas untuk menumbuhkan bintang-bintang di pekarangan, mengukir tari lebih indah, setia mengecap pada kerling tasbih, dan merindu lepuh dalam mihrab hingga tubuh ini terkulai di tangan-Nya.

Subuh 25 Mei 2015, Allah memberikan rasa kasih sayang-Nya melalui tangan-tangan kekasih kecil-Nya.
Doa-doa tertuang pada kertas putih yang menggantung pada payung, serta ucapan-ucapan selamat yang menjadi dering kematian untukku, kini.
Semoga doa-doa yang terpanjat baik secara tertulis, lisan dan atau hanya diam-diam, dikabulkan oleh Allah SWT, dan insyaAllah pasti dikabulkan. :)
Rasulullah SAW bersabda: "Do'a seorang Muslim untuk saudaranya (sesama Muslim) tanpa sepengetahuannya adalah mustajab. Setiap kali dia memanjatkan do'a kebaikan untuk saudaranya, di dekat kepalanya ada seorang malaikat yang berkata: "Aamiin, semoga engkau juga beroleh hal yang sama." (Kitab Mukhtarol Hadits)


Terima kasih kado-kado di usia yang menginjak angka kembar ini. Tak lupa kepada keluarga dan teman-teman tercinta yang telah menitipkan ucapan pada angin. Betapapun, kalian adalah salah satu tangan yang memapahkanku pada kesuksesan, dan menjadi bagian dalam sejarah kehidupan.
Untukmu, yang membaca status ini. Semoga kita berjumpa dan berteman karena Allah, bisa mencapai tingkatan ukhwah yakni Ta’aruf (Saling Mengenal), Tafahum (Saling Memahami), Ta’awun (Saling Menolong), Takaful (Saling Menanggung), Itsar (Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri). Karena Tuhan tidak akan tanpa alasan untuk mempertemukan — Lina Fatinah.

Semoga kita (aku dan kau yang membaca tulisan ini) bisa berjumpa kembali di Surga. ^^
Aamiin :)

Assalamu'alaikum, yaa ikhwah fillaah

And you must watch!

Gerakan Nasional Cinta Pasar Modal GeNTa Pasar Modal | Oleh: Lina Fatinah









Gerakan Nasional Cinta Pasar Modal (GeNTa Pasar Modal) adalah suatu gerakan yang diprakarsai oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bekerjasama dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Asosiasi Profesi Pasar Modal Indonesia (APPMI), dan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), dan didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta media partners untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap investasi di pasar modal yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah investor di Pasar Modal Indonesia.
Acara yang berlangsung pada tanggal 27 Oktober 2014 ini dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan investor (Mahasiswa/i Se-Indonesia) berjumlah 5066 orang di Istora Senayan Jakarta.
Hiburan diisi oleh RAN, Raisa, Nidji, Piyu, Cak Lontong dengan MC oleh Edwin & Jhody.

Fatin CS Fatinah | Wanna Be X-Factor 2015

Sudah lama rasanya ingin tampil di atas panggung besar, imajiku liar membayangkan aku berdiri di depan ribuan penonton, lalu menghiburnya dengan lagu-lagu positif. Dari kecil sudah terbiasa mengikuti lomba, hanya saja semakin sini tidak begitu sering karena kesibukan kuliah, organisasi dan di pesantren. Tapi setidaknya di sisi itu masih bisa aktif di dunia tarik suara karena itulah yang menjadi salah satu bakat yang aku genggam sedari kecil, namun sedikit tidak begitu dimenonjolkan karena ketidakenakan atas pendapat orang tua yang tidak begitu menyetujui di dunia tarik suara, kecuali syiar dalam syair (Nasyid - Lagu Religi). Alhamdulillah, selama ini hanya bisa menjadi artis keliling hehe, saya tarik suara di dunia Nasyid dan diundang dari kota ke kota. Suatu hari pernah diundang oleh Asosiasi Nasyid Nusantara untuk menjadi bintang tamu di parade nasyid. Dan yang menjadi kebangganku adalah saya bisa menghibur penonton di Studio MetroTV sesaat akan tapping Kick Andy Show. You wanna see? Watch and enjoy via youtube -->> Pasti Bisa (Citra Scholastika Cover) by Lina Fatinah
Ya, pada intinya aku ingin yang menjadi passionku, yang dianugerahkan oleh Allah kepadaku tersalurkan dan menjadi cemerlang bak mutiara. Aku ingin apa yang digenggam olehku dan pada hakikatnya itu kembali kepada Allah, ingin menjadi hal yang bermanfaat yang bisa dirasakan oleh semua orang.
Sebelum menutupkan pelupuk mata selamanya, aku ingin mempunyai banyak karya, dan malam ini saya baru saja mendaftarkan diri sebagai peserta X-FACTOR 2015. Awalnya saat baru booming X-Factor di Indonesia saya tahu dari teman-teman yang di asrama. "Fatin.. Fatin.. Fatin.." apa maksud? Di asrama gak ada yang namanya Fatin, yang ada Fatinah, dan itu nama kepanjanganku -Lina Fatinah-. Oalah, ternyata setelah aku selidiki katanya Fatin adalah peserta X-Factor yang banyak digemari, suaranya enak. Penasaran. Gerutu dalam hati. Aku pun langsung surfing di youtube, lalu melihat awal pertama Fatin menyanyi di panggung X-Factor, dia membawakan lagu Bruno Mars - Grenade. Wah.. ketika aku lihat benar-benar granat suaranya, membikin bulu kuduk berdiri. Serius! Entah kenapa kalau melihat dan mendengar orang yang sedang mengikuti lomba lalu suaranya bagus pasti bulukuduk berdiri. Ketika itu juga saya meyakini dan mengitikadkan bahwsaya harus bisa menjadi The Next X-Factor! Dari sana kepercayaan diri saya meningkat dan optimis akan menjadi The Next X-Factor. Ya.. untuk tahun 2013 namanya Fatin, untuk 2015 namanya Lina Fatinah. Sama-sama ada Fatin. Pernah mention Fatin di twitter cuman gak diwaro haha. Aku sih orangnya tidak begitu antusias dan berlebihan ngfans, yang ada orang-orang ngfans kepada saya hehe. Nanti kalau sudah menjadi artis dan aktris ngetop mau bikin fanspage "Sahabat Lina Fatinah" dan mau follow up yang suka, biar lebih produktif tuh "SLF"nya, karena aku kan punya prinsip ingin mengamalkan "Khoirunnaas Anfauhum Linnas".
Dulu, sewaktu Fatin sudah menang dari X-Factor saya pernah bermimpi dengannya, jadi ceritanya.. (lumayan panjang sih, aku ceritakan intinya saja ya). Intinya, saya berjalan sama Fatin, eh..saya??atau Fatin ya?? kecebur gitu di kolam besar, terus salah satu dari kita menolong ikut renang. Intinya aku membantu Fatin. Atau Fatin membantuku dengan uluran tangannya. Nah.. ketika bangun, pagi harinya saya lagi asyik depan laptop tiba-tiba temanku yang sangat suka Fatin teriak "Waaaah Fatin mau ke Bandung!" Aku diam saja awalnya karena tidak begitu exited. Rasanya berlebih jika terhadap orang seperti itu. Haha. Tapi saya ingat mimpi semalam, terus memikirkan kenapa bisa mimpi seperti itu? Apakah ada korelasinya dengan sekarang atau nanti? gerutupku dalam hati saat itu. Seperti biasa imajiku liar sepersekian detik seperti ini: saya daftar dan ikut meet and greet with Fatin S.L. Lalu saya nyanyi di sana duet sama Fatin! Ahahah, kejauhan imajinya. Stop! Saya langsung ceritakan mimpi itu kepada temanku, dan dia pun langsung menyuruhku ikutan. Ouch! pas liat uang pendaftarannya mahal gila! Bagi Mahasiswa uang 250ribu itu... aaah untuk 2 minggu juga lumayan :'''). Sudahlah, planing hari itu failed.
And Now! Come The X-Factor 2015! Ajang di mana saya bisa menunjukan bakat, passion, kemampuan. Aku ingin membuktikan bahwa saya bisa. Bukan, bukan hanya itu. Aku ingin ajang ini menjadi tolak ukur untukku, sudah sampai tangga yang mana aku dalam tarik suara. Yups, Great! Terlebihnya adalah saya ingin menjadi juara, dan hadiahnya bisa dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan, sangat membutuhkan. Biarkan aku hanya menjadi mediasi saja. Bismillah. Kun Faya Kun! Semoga Allah menghendaki apa yang akan saya ikuti ini, semoga diberkahkan, dimudahkan dan dilancarkan segala-galanya. Aamiin..

Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) Bandung 3-4 Februari, I'm Coming. I wanna sing a song. InsyaAllah, saya akan membawakan lagu Stand Up For Love. Mau lihat penampilanku? Mari.. merapat. :) Mohon doanya ya :)
And.. this is it! My ticket :)
 
 FP: Lina Fathiinah Eljamil
Twitter: @LinaFatinah_
about.me/linafatinah
Kind Regards,
Lina Fatinah

Mengecup Tubuh Cianjur



Senin yang baru terlahir di Tahun baru ini, aku memulai hari yang berbeda dari sebiasanya. Pakaian rapi sudah kukenakan. Kukecup tangan kedua orang tua.
“Doakan ya mah pah, semoga dilancarkan dan diberkahkan. Aamiin. Assalamu’alaikum” ucapku sembari meninggalkan pintu rumah. Kaki kulangkahkan bersama Adik yang hendak berangkat sekolah pertama setelah libur dua minggu. Dan hari ini, adalah hari pertama aku akan menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan). Setelah membatalkan PKL di Stock Exchange Indonesia (BEI) dan BSM KCP Jatinangor karena satu dan lain hal, aku pun menyebarkan surat perijinan ke tiga Bank Syariah yang ada di Cianjur, dua hari kemudian ada telfon dari BJBS Cianjur yang memberitahukan bahwa suratku di ACC.
Kabut menyelimuti, embun masih berjatuhan satu-satu. Tepat pukul 06.15 sudah berangkat menuju kantor BJBS Cianjur. Di dalam angkutan umum kulihat siswi MTsN Rancagoong, sekolahku dulu, termasuk siswi MAN Cianjur. Ada juga siswi SMA1, SMK1 dan lainnya. Pemandangan ini mengantarkanku pada gambar masa silam dulu, ketika masih duduk di bangku putih abu. Beberapa menit kemudian adikku turun di depan sekolah MTsN Rancagoong, sedang aku melanjutkan perjalanan. Ketika turun di depan Toserba selamat untuk menaiki angkutan yang menuju BJBS, aku melihat Kepala Sekolah waktu SD dulu, aku pun menghampiri.
“Assalamualaikum” sapaku sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman “Saya Lina pak, murid SDN Jambudipa dulu” lanjutku seraya melemparkan senyum termanis
“Wa’alaikumsalam.. oh, iya iya, di mana sekarang?” tanyanya
“Saya kuliah di UIN Bandung, sekarang lagi PKL di BJBS”
“Bagus..bagus” jawab ia dengan senyumnya yang khas
“Mohon Doanya ya Pak” ucapku menutup pembicaraan
“Iya, insyaAllah. Sukses ya”
Aku pun kembali berjalan dan langsung menaiki angkutan umum yang kedua kalinya menuju BJBS di Jl. Ir. H. Djuanda
Al-Ma’tsurat pemberian dari temanku menemani pagi ini. Menenangkan.
“Assalamualaikum. Silakan masuk” sapaan manis dari Pak Satpam ketika memasuki BJBS
Lalu bagian CS (Costumer Service) pun melemparkan senyumnya. Aku pun berkenalan dan membicarkan perihal PKL, lalu datang karyawan lain dengan senyum semangatnya. Senang sekali rasanya pagi-pagi sudah mendapatkan senyuman yang tulus dari beberapa orang. Beberapa menit kemudian ketika aku duduk di ruang tunggu, datanglah seorang laki-laki yang sudah berumur, berpakaian rapi dan memakai dasi pink. Aku langsung berdiri menyambut dan memberikan salam untuknya.
“Assalamualaikum Pak, Saya Lina”
“Wa’alaikumsalam. Oh iya iya, yang PKL ya”
“Ir. Arif mengajar apa di sana?”
“Manager Risk, Pak” jawabku sembari baru menyadari bahwa beliau adalah Kepala Cabang Pembantu BJBS ini, setelah beberapa hari yang lalu salah satu Dosenku (Ir. Arif) memberitahukan nomor kontak beliau untuk perijinan PKL
Lalu, semua karyawan dari lantai dua mulai turun satu-satu. Briefing pun dimulai. Membuka pagi dengan Bismillah adalah suatu keharusan, lalu berdoa dipimpin oleh karyawan Bank. Pak Agus (Ketua Cabang Pembantu BJBS) pun mulai membuka briefing dengan membicarakan hal internal, dilanjut memperkenalkanku selaku Mahasiswi yang akan melaksanakan PKL selama satu bulan mendatang.
“Lina sudah punya pacar belum?” sontak pertanyaan dari Pak Agus
“Tidak pacaran Pak” jawabku seraya tersenyum malu dan sedikit merefleksikan tubuh karena baru tahu bahwa tidak begitu formal ternyata di dunia perbankan
“Di sini ada dua orang yang masih single” ucapnya sembari menyebutkan karyawan yang dimaksud
Tiba-tiba terlihat ada tamu dari luar sembari bertanya-tanya kepada Pak Satpam
“Oh mungkin itu yang PKL di sini juga” ucap Pak Agus
“Ada dua atau tiga orang pak yang PKL di sini?” tanya karyawan perempuan
“Dua orang, dari UIN juga” jawabnya. Membikin aku penasaran.
Ketika Mahasiswi itu masuk ruangan ternyata Fitry, teman sekelasku dulu waktu semester 1, sekarang sudah berbeda kelas.
Setelah perkenalan kami pun menutup perkenalan dengan membaca doa bersama. Lalu kami diarahkan untuk ke lantai dua. Kami duduk melihat kesibukan karyawan pagi itu. Membuka komputer masing-masing dan membuka programnya masing-masing. Sedang kami membaca buku yang ada di BJBS, aku melaha buku Financing BJBS, klausul akad iB maslahah, growth innovation, juga buku kepemimpinan. Hari itu kami hanya baca buku dan sharing. Tidak lebih.
“Di sini mah santai saja..” ucap Pak Hadi yang single dan mirip Harry Potter
Sebenarnya, ada dua sisi yang aku rasa; tidak enak karena tujuanku ingin praktek, enak karena tidak begitu dituntut ini dan itu. Jenuh memang membaca terus. Tapi, untuk hari pertama mungkin perkenalan sudah cukup. Perkenalan SDI dan tentang BJBS itu sendiri. Ketika sharing pembicaraannya mengasyikan, santai ditemani tertawa renyah karena selalu diselingi jokes. Karyawannya pada ramah, terbuka dan enjoy. <>
Adzan Dzuhur pun berkumandang, waktunya ishoma. Saya dan Fitry shalat di mushola Bank, lalu pergi ke tempat makan karena ternyata tidak disediakan makanan dari dalam terkecuali untuk karyawan. Oke, no problem. (Dalam hati “big problem”) :D
Aku perhatikan satu-satu kesibukan karyawan di sana. Telfon kantor tiap menitnya berdering, ada yang sibuk ngecopy, ngeprint dan bolak-balik bak setrika. Aku tetap memegang buku. Lalu sharing lagi ketika karyawan sudah tidak begitu sibuk. Ya, begitulah hari pertama. Tapi, menyenangkan karena membikin saya jatuh cinta membaca buku di sana.
“Jadi ya, liburan ke pangandaran” ucap kepala Cabang kepada karyawannya. Mereka pun membicarakan sembari mengerjakan ini dan itu. Aku sedikit menguping. Lalu, beberapa menit kemudian setelah Kepala Cabang kembali ke ruangannya, aku pun menanyakan hal itu kepada salah satu karyawan. Ternyata mereka akan melangsungkan perjalanan untuk berlibur.
“Kita kan sudah tutup buku di akhir Desember kemarin dengan begitu sibuk. Nah, sekarang butuh refreshing agar semangat kembali” jawabnya
Dalam hati langsung menggerutu: pada hakikatnya ketika kita ingin refreshing hanya butuh satu. Yakni, Allah. Bermuhasabah lebih dekat itu akan memberikan efek yang lebih dari refreshing yang dimaksud kebanyakan orang dengan berlibur. Kalau berlibur saya rasa cukup untuk dijadikan tadabbur alam.
Astaghfirulloh, saya juga masih belajar untuk seperti itu.
Air mata menitik di atas sejadah setelah melaksanakan shalat ashar. Memikirkan satu hal, menjadi karyawan Bank setelah kuperhatikan seharian ternyata seperti itu. Berat menurutku. Berangkat pagi, pulang malam, dan itu rutin hingga hari jum’at, disibukkan dengan urusan dunia. Itulah salah satu sebab mengapa saya tidak mau menjadi karyawan Bank, kecuali jadi DSN, DPS atau Presidennya. Aku melihat terlalu melalaikan waktu. Tapi semua kembali kepada niat.
Dengan itu, sekalipun aku jurusan Hukum Ekonomi Syariah prodi Perbankan Syariah. Aku tidak memprioritaskan diri saya untuk menjadi karyawan Bank. Aku hanya ingin setelah lulus S1 langsung study abroad dengan beasiswa full. Entah itu ke Durhem University of London, Tilburg University of Netherlands, Melbourne University of Ausie. Or wherever, yang penting di luar negeri dengan beasiswa erasmus mundus atau beasiswa dari pemerintah dan atau darimanapun yang penting halal. Lalu setelah S2 di luar negeri, saya menerbitkan buku-buku inspirasi, novel, puisi. Diundang menjadi pembicara (studi keilmuan, motivator, motivasinger, keilmuan sastra dan lainnya) dalam seminar, training atau apapun itu. Di sisi itu mempunyai perusahaan yang banyak dengan mempunyai passive income. Direkrut menduduki kursi penting di BI, BEI, OJK. Mengajar dimana-mana, menjadi pembawa acara dalam traveler islam. Pada intinya, aku hanya ingin menjadi sosok yang bermanfaat untuk yang lain, memberikan nilai dalam bentuk apapun itu, entah dari ilmu atau pengalaman. Aku hanya ingin, waktuku tidak sia-sia digunakan di pasar fana ini. Aku ingin memberikan perubahan yang berarti untuk banyak orang. Aku ingin passionku tersalurkan semua. Menjalaninya dengan suka ria tanpa beban, mencapai karir (meaning full life), dan menjadi nilai ibadah disetiap langkahnya. Semoga terwujud. Aamiin Yaa Rabb. Faidzaa Azamta Fatawakkal Alallah. Kun Faya Kun! Man Jadda Wa Jadda.
Beberapa menit kemudian sekitar pukul 16.30 kami pun pulang.
Kulangkahkan kaki seorang diri menuju jalan depan Hypermart karena akan menaiki angkutan umum dari sana. Hujan gerimis menemani. Setengah hari mengelilingi jalan Cianjur; Jl. Ir. H. Djuanda - Jl. K.H Abdulloh bin Nuh, hypermart, SMA1, MAN (Sekolahku tercinta), lalu belanja ke Toserba. Rasanya berjalan sembari membuka kenangan diam-diam. Ya Allah.. Nelangsa. Mengecup tubuh Cianjur seutuhnya.
“Cianjur, aku kembali. Akan menyulam cerita sebulan mendatang nanti. Dekap eratlah.” Gerutup dalam hati
Alhamdulillah. Syukurku Rabbii.
Aku tahu, Allah tidak akan semata-mata menempatkan seseorang di suatu tempat manapun itu. Kejadian hari ini pasti akan ada korelasinya di masa yang akan datang.
Mungkin Allah menginginkanku untuk lebih menghargai kota kelahiran, untuk membesarkan dan mengharumkan dengan prestasi-prestasi yang lebih cemerlang, dengan seni budaya yang harus dilestarikan.

Cianjur,
05 Januari 2015
Lina Fatinah
@LinaFatinah_

  First Day Colase Photos




Schedule Fails

Sedih itu ketika tidak bisa pergi ke acara yang sudah diplaningkan; European Higher Education Fair di Balai Kartika dan acara Indonesia International Book Fair di Senayan. Yang paling menyedihkan lagi adalah hari ini tidak bisa pergi ke Meridian Hotel mengikuti Business Negotiation Workshop yang sudah tentu ditunggu kedatangannya oleh Recruitment Coordinator International & Executive MBA, dia mengirimkan saya email:
I discussed it again with the lady giving the workshop and since you are so enthusiastic about it, we decided that you can still join the workshop.
I won't be there, but I will be at EHEF on Saturday and Sunday so looking forward to meeting you there.
Setelah kami saling berkirim pesan, hingga akhirnya saya memutuskan tidak pergi ke Jakarta karena ada beberapa hal yang harus dilakukan di Bandung. Akhirnya setelah saya berkirim pesan banyak dan mengabari, dia pun membalas:
Hi Lina, sorry for not replying earlier but we have been very busy. Unfortunately I won't be able to go to Bandung since I have a lot of work to do in Jakarta and I'll fly back to the Netherlands tomorrow.
Sedih sekali rasanya, dia harus pergi ke Belanda esok hari. Semoga dilain kesempatan saya bisa bertemu dengannya.
Dan hari ini, saya cukup menikmati jalan kaki dari Bundaran Cibiru hingga Jalan Dua Arah Cileunyi karena jalanan padat dengan lautan biru bobotoh persib. Dan aku menikmati euforia meski lelah di hati dan fisik :')
Terima kasih Tuhan, sekali lagi saya katakan; saya percaya Tuhan tidak sedang bermain dadu.

Menerima Email Khusus Dari Coordinator International & Executive MBA, Nyenrode Business Universiteit, Netherlands.

Tepat pada tanggal 04/11/2014. Saya mendapatkan email dari Coordinator International & Executive MBA (Sophie van der Hulst). Email ini saya dapatkan langsung dari Netherlands. Negara kincir angin yang menjadi salah satu list dalam mimpi saya untuk diwujudkan agar bisa study ataupun hanya summer school di sana.
Isi emailnya seperti ini:
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear Lina,

Thank you for your email. The workshop will be given in English, is that ok with you? If so, I herewith confirm that you are selected as one of our participants during the workshop which will be held from 11:00 until 13:00 in the Meridien Hotel in Jakarta.

Ms. Hetty van Roozendaal would like to ask you to prepare some questions in advance and send your answers to her by Thursday November 6th the latest. The questions she would like you to answer are the following:

  1. Have you ever been in a conflict situation before?
  2. In what capacity ( friends, family, business, work) have you experienced a conflict situation?
  3. Describe the situation in 4 lines.
  4. What did you do to solve the conflict?
  5. What was the outcome of the conflict?
  6. How is the situation now?

You can send your (short) answers to the questions to her directly via H.vanRoozendaal@nyenrode.nl.

Please do not hesitate to contact me, should you have any questions.

Kind regards,

Sophie


Sophie van der Hulst
Recruitment Coordinator International & Executive MBA

Nyenrode Business Universiteit

 Straatweg 25 - 3621 BG                                         
P.O. Box 130 - 3620 AC                              
Breukelen, The Netherlands                              
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Betapapun, saya bahagia dan bangga akan kiriman email pagi ini. Namun, di sisi lain hal ini juga menjadi sebuah campakan buat saya. Saya bahagia dan bangga karena saya tidak menyangka bahwa setelah saya mengirim aplikasi untuk mengikuti Bussiness Negotiation Workshop ternyata saya diterima, saya LOLOS! Saya lolos terpilih menjadi salah satu partisipan yang akan mengikuti Workshop itu yang hanya untuk 20 orang saja. Awalnya, saya hanya bermodalkan nekad mengisi form yang disediakan dan hanya main upload. Saya percaya rizki tidak kemana, tapi harus kita jemput. Dan ternyata Workshop tersebut akan full menggunakan english language, dan kemampuan berbahasa asing saya kurang memadai. So, what should I do?
Ada masukan kah?
Jika detik ini, saat ini saya bisa menggunakan bahasa inggris dalam keseharian, pasti 6 November saya akan duduk bersama 19 orang yang lain di Meridien Hotel, bertemu langsung dengan orang-orang Nyenrode Business Universiteit, Breukelen Netherlands. Namun, apalah daya. Kemampuan belum siap. Benar ternyata, kesempatan dan kesiapan harus berada pada garis yang sama.
Mohon Doanya, semoga suatu saat nanti saya bisa.

Allohumma inii as’aluka fahman nabiyyiin wa hifdzol mursaliin, allohumma aghninii bil ilmi, wa zayyinii bil hilmi, wa akrimnii bittaqwaa, wa zammilnii bil aafiyah. Yaa Arhamarroohimiin. Aamiin.


Regards.
Lina Fatinah
04/11/2014

Dutch Placement Day 2014

This an honor, I can ask more about study in Holland. Dutch Placement Day 2014 at Hotel Grand Royal Panghegar Thanks Nuffic Neso Indonesia - Studi di Belanda!

Hari Sumpah Pemuda

Hallo Muda Mudi Indonesia!
Salam Sejahtera, Salam semangat untuk kita semua.
Btw, di Hari Sumpah Pemuda ini apa yang kalian lakukan? Hehe..
Di Hari Sumpah Pemuda ini saya mau share rekaman pembacaan naskah Sumpah Pemuda nih.. dibaca oleh saya sendiri bersama teman saya A. Zulkarnaen. Harapan saya pribadi, semoga muda mudi Indonesia bisa terus berkarya dan mampu membuat harum Indonesia.
Selamat Hari Sumpah Pemuda.
Salam Semangat Pemuda SATU! :)

Selamat mendengarkan :)

Penerima Beasiswa Bank Indonesia

Tepat pada tanggal 15 September saya berdiri di tanah Bank Indonesia dengan menaruh harapan yang besar, hati berdegup lebih kencang dari sebiasanya ketika hendak tes interview. Sekarang, pagi (30/09) saya berdiri di tengah orang-orang hebat untuk mengikuti Penandatanganan MOU Beasiswa dan Penyerahan Beasiswa Reguler Bank Indonesia Tahun 2014. Sungguh, betapapun ini kado terindah dari Allah. Setelah lima hari yang lalu saya mendapatkan kabar bahwa saya lolos menjadi Penerima Beasiswa Bank Indonesia. Pada akhirnya kita harus menancapkan keyakinan dalam hati, karena rasa yakin akan memapahkan kita pada harapan-harapan yang diimpikan, lalu dilandasi dengan ikhtiar, doa dan tawakal kita kepada Allah. Kun faya kun! Man Jadda Wa Jadda.
Terima kasih kuhaturkan kepada orang-orang tercinta yang setia memanjatkan doa diam-diam. Semoga keberkahan, kesuksesan setia serta menyertai disetiap hela nafas dan langkah kita. Aamiin :)



Lina Fatinah menjadi MC dalam Acara Muamalah for Gaza and Dhuafa

18 Juli 2014
Saya diundang untuk menjadi MC dalam acara Muamalah for Gaza and Dhuafa, dengan senang hati saya terima tawaran ini, karena selain tanggung jawab menjadi pengurus HIMA saya lebih bersemangat acara ini digelar untuk menggalang dana dan diberikan untuk saudara di Gaza dan para anak yatim. Semoga berkah :)
Alhamdulillah bisa berdiri di tengah wajah-wajah yang berbinar, anak-anak yatim yang masih mempunyai harapan dan masing-masing mempunyai berlian yang akan berkilau.

Setelah selesai memegang acara formal, saya langsung duduk di tengah-tengah anak itu, saya membaurkan diri, dan mendengarkan cerita-cerita mereka, saya tanyakan tentang cita-cita yang ingin mereka capai, ternyata cita-cita mereka sungguh mulia, ada yang ingin menjadi guru, dokter, dokter anak, polwan dll. Inilah wajah setelah saya tanya satu-satu

 




Berbagi itu indah :)

Ceria Bersama Berbagi Ilmu di Sanlat Ceria Ar-Rahmat

Di bulan penuh berkah ini saya diamanati untuk mengajar di Sanlat Ar-Rahmat. Berat sebenarnya menerima tawaran itu, karena ilmu saya belum begitu radikal, namun hanya karena yang memberikan amanat ini adalah keluarga dari Pondok Pesantresn yang saya pun tinggal di pondoknya, maka sebagai rasa takdzim kepada guru saya terima tawaran ini. Jika mereka sudah mempercayakan kenapa harus saya sia-siakan? Lalu kapan lagi saya bisa berbagi ilmu yang sudah didapat? Dalam kitab ta'lim muta'alim pun sudah dijelaskan bahwa ilmu itu harus disebarluaskan agar supaya manfaat dan berkah, pun kita mendapatkan pahala.

Pagi-pagi yang biasanya saya tidur kembali (karena biasanya bulan ramadhan habitnya seperti itu) hehe, namun sekarang tidak, karena harus berbagi ilmu kepada anak-anak yang mempunyai semangat tinggi untuk mengenyam ilmu.
Hari pertama, saya berkenalan lebih dekat kepada anak-anak. Wajah-wajahnya berbinar, senyumannya menyejukan, setelah aku memperkenalkan diri, lalu kusuruh anak-anak untuk memperkenalkan dirinya dan memberitahukan mimpi-mimpinya di depan kelas. Saat itu, bulu kuduk berdiri karena mendengar mimpi-mimpi yang luar biasa mulia dari seorang anak-anak, ketika hendak menceritakan mimpinya, teman-teman yang lainnya mengaminkannya. Semoga doa-doa yang terpanjat di bulan penuh berkah ini dikabul. Istajid du'a.. InsyaAllah.

Setelah proses belajar mengajar selesai, seluruh pengajar mengadakan evaluasi di hari pertama. Hasil dari evaluasi itu adalah bahwa saya harus kondisional antara kelas A (TK) dan C (SD).

Keesokan harinya, saya mengajar di kelas C dan memberi tugas untuk dikerjakan saat itu juga, lalu aku tinggal dulu untuk pergi ke kelas A.

Ketika memasuki kelas A begitu ramai, ada yang lari-lari, duduk terdiam, ada yang tiduran, ada yang membaca Iqro, ada yang iseng dan banyak lagi. Inilah suasana kelas TK. Wajah-wajah yang menjelmakan kejujuran, keluguan dan penuh keikhlasan. Anak-anak, ya aku suka anak-anak.

Saya langsung memegang kelas dengan penuh ekspresif dan lebih aktif lagi, suara pun sedikit dinaikan dan penuh kelembutan dan manja kepada anak-anak layaknya guru TK.
"Assalamualaikum anak-anak, apa kabar hari ini?" sapaku ketika memasuki kelas
"Wa'alaikumsalam, baik ibu..."
interaksi pun terjadi, ada yang sedikit malu-malu ada yang terus bertanya ada yang kukuh mau langsung baca Iqro. Subhanallah.
Setelah introducing, langsung memulai membaca Iqro
hari-hari kulewati bersama anak-anak yang masih belum jauh mengenal dunia, Alhamdulillah dengan adanya saya berada ditengah anak-anak ini kebahagiaan pun merasuki sukma setiap saatnya.
Ternyata ada 5 anak yang benar-benar selalu ingin terus bersamaku. Hingga suatu hari mereka ingin duduk dipinggir saya, mereka saling rebutan dan saling menendang untuk menyingkirkan teman yang lainnya. Subhanallah, ya Allah aku merasakan keindahan bersama di sana, cinta yang tulus dari seorang anak. Saya pun langsung menyuruh mereka yang satu di sebelah kanan, dua kiri, dua di depan. :D aku bahagia!
Pokoknya setiap pertemuan pasti mereka langsung menyambut dengan senyuman lalu bersalaman.
Bukan hanya itu yang kulalui, ternyata ada juga yang menangis saat membaca Iqro, dan waaaah bingungnya minta ampun kenapa bisa menangis, ternyata ingin duduk di samping uminya, saya pun meredakan nangisnya.
Ada juga yang pipis di celana :D Subhanallah... ada-ada aja, dan ternyata dia memang masih sangat kecil, sekisar usia 3 tahun, dia hanya ikut bersama kakaknya.
Disela-sela belajar
Selain belajar perkelas, setiap ba'da dzuhur semua siswa/i kumpul di aula untuk shalat berjamaah dilanjut dengan mendengarkan ceramah dan Tebak ayat Al-Qur'an, ada juga yang tahfidz.
Dan bukan belajar di indoor saja, melainkan langsung terjun ke lapangan, indoor. Untuk tadabbur alam dan memunguti sampah di sekisar wilayah pedesaan sana.





Hari-hari kulewati bersama anak-anak yang memberikan kedamaian dan kebahagiaan.
Pernah suatu waktu saya benar-benar malas untuk pergi pagi-pagi ke yayasan karena masih ngantuk, namun jauh di lubuk hati paling dalam saya merasakan sakit karena saya tidak tanggung jawab terhadap amanah, namun saya lawan itu semua. Ketika rasa kemalasan menggerogoti, saya langsung mengingat wajah-wajah anak-anak yang penuh dengan senyuman dan semangat juang untuk menggali ilmu, mereka merelakan waktunya untuk pergi ke yayasan pagi-pagi ketika kabut masih menyelimuti pedesaan dengan jalan kaki yang lumayan jauh dari rumahnya, merelakan waktu tidur dan bermainnya untuk mencari ilmu. Rasa malas saya pun langsung terdobrak dari sana. Subhanallah.


2 minggu kemudian tibalah hari puncak Sanlat (Pesantren Kilat) Ceria di Ar-Rahmat. Hari terakhir diisi dengan lomba-lomba dan penutupan acara Sanlat.
Saya ditunjuk sebagai juri lomba baca puisi islam:
Sedang memberitahukan tekhnis lomba baca puisi islam kepada sebagian peserta
Perlombaan lainnya ada cerdas cermat, mewarnai gambar, adzan, pidato, saritilawah.
Ini saat-saat lomba dan langsung penutupan dengan acara tampilan-tampilan, pembagian hadiah juga buka bersama :)
Saat-saat sebelum acara penutupan dimulai

Saya pun menjadi MC saat penutupan dan menyumbang satu buah lagu hehe
acara buka bersama pun berlangsung dengan meriah. Dihadiri oleh orang tua para murid.
Yang membikin air mata terjatuh itu adalah ketika anak-anak kelas C yang saya pegang ternyata mereka memberikan lagu "Guruku Tersayang" tanpa saya ajarkan, satu kelas mereka menyanyikan saat acara hiburan tiap kelas. Liriknya seperti ini:
"Guruku tercinta, guruku tersayang, tanpamu apa jadinya aku"...
benar-benar membikin merinding. Subhanallah.
Ada pertemuan ada perpisahan, saya bangga kepada salah satu murid yang benar-benar "jail" dan diakhir acara dia berubah menjadi baik, mengikuti perlombaan dan juara, lalu aku memberikan pesan untuknya ketika hendak meninggalkan yayasan ini
"Jadi anak yang soleh ya, jadi anak yang pintar, harus rajin belajar. Oke?" ucapku sembari mengusap kepalanya
"Iya" jawabnya sambil mengangguk membikin aku ingin menangis karena ini saat-saat terakhir berjumpa dengan mereka. Aku pasti merindukan mereka.
Ketika semua murid pamit pulang satu persatu ada orang tua yang menghampiriku
"Terima kasih ya, sudah memberikan ilmu, maaf merepotkan sering nangis anaknya, terima kasih anak saya jadi berani tampil di depan" ucap seorang Ibu dari salah satu murid
"Iya Ibu, sama-sama. Alhamdulillah" jawabku
Benar-benar ingin menjatuhkan air mata, tapi kutahan. Subhanallah. Aku baru mengerti, di sinilah mulianya seorang guru. Seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Aku rindu kalian anak-anakku! Yayasan Ar-Rahmat. ({})
Terima kasih sudah memasuki kehidupanku, memberikan sejarah yang berarti. Dan sejarah akan bercerita bahwa aku pernah berdiri di sini.

Mengecup Piala Lomba Baca Puisi

Mengecup Piala Lomba Baca Puisi

Aku juara 2 Lomba Baca Puisi !!
Akhirnya....
Alhamdulillah. Segala puji kupanjatkan kepada Allah yang selalu memberikan hal terindah di tengah penantian dan kesabaran. Setelah lama kunantikan, kuimpi-impikan untuk memegang Piala Lomba Baca Puisi sembari teriak “AKU JUARA!”

Jum’at 11 Juli 2014
Hari ini saya akan mengikuti Lomba Baca Puisi Islami yang diadakan oleh Teater Awal Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dalam rangka Gelar Ramadhan.

Tepat pukul 10.30 saya masih saja mager (Malas Gerak), lembaran naskah puisi tampak di depan mata, tapi enggan rasanya untuk membaca apalagi latihan. Awalnya saya sudah menyiapkan puisi Rendra, tapi sayang dihapus dari list puisi pilihan untuk dibacakan para peserta. Mungkin dengan sebab itu saya sedikit malas untuk kembali latihan. Sekisar tiga jam lagi Lomba Baca Puisi akan segera di gelar di gedung Student Centre Kampus. Sedang saya masih asyik berdua dengan pacar (laptop). Tiga puluh menit kemudian saya mulai memegang naskah, dan membacanya. Lalu mulai menentukan puisi yang akan dibacakan, benar-benar mendadak!! Tapi di sisi lain saya percaya, di tengah SKS (Sistem Kebut Satu jam) pasti ada inspirasi yang brilliant. :D

Akhirnya, saya memilih puisi A. Mustofa Bishri “Ijinkan Aku Mencintaimu Semampuku” dan dengan puisi wajib dari pengarang yang sama “Puisi Islam”. Lalu pergi ke kamar (asrama) sebelah untuk pinjam gamis polos berwarna hitam, sekaligus kerudung hitam bercorak abu (pinjam juga ke kamar yang lainnya) hehe. Setelah mendapatkan baju dan kerudung, saya langsung pergi ke kamar dan mengunci diri dengan sedikit cahaya yang masuk dari jendela. Saya berdiri di depan kaca dan mulai membaca puisinya. Awalnya jauh-jauh hari ketika daftar lomba ini, saya ingin minta bantuan kepada Ayah di sanggar (Komunitas Sastra Cianjur DKC); Iwan B. Setiawan dan Yusuf Gigan untuk mengajarkanku membaca puisi sekaligus minta doanya. Tapi sayang, hatiku menciut ketika mengingat aku terlalu sering meminta doa dan minta diajari membaca puisi (selain menulis) dari sejak SMA dan saya tidak pernah juara dalam Lomba Baca Puisi ini, jadi saya memilih mundur saja. Diam. Tetapi meminta doa dan dukungan kepada keluarga dan teman-teman seasrama tidak dilewati.

Satu jam saya membaca puisi disertai gerakannya di depan kaca. Lalu langsung bergegas shalat dan pergi ke kampus. Saya shock ketika membuka tas di angkutan umum, naskah puisi tertinggal! Oh, Tuhan... Bagaimanakah? Saya belum latihan lagi, mana naskah yang tadi sudah saya tandai vokal membaca dan klimaksnya. Ah... saya langsung hubungi teman-teman, tapi sayang sekalipun menghubungi tetap saja tidak dapat membuat saya kembali ke asrama, pasti mengulur waktu! Sudahlah.. akhirnya saya putuskan untuk meminta naskah lagi di SC nanti. Temanku (Cima) berkata di pesan singkat “Semangat Lina, jangan jadiin penghalang buat kamu jadi juara, ini cuma kerikil kecil. Yeay”. Dan teman sekamarku (Laras) berucap “InsyaAllah, Allah pasti kasih yang terbaik”. Bibirku seolah tertarik membentuk senyum, dada mengembang. Semangat.

Sesampainya di kampus saya langsung meminta naskah kembali, beruntungnya saat di asrama saya merekam suara ketika latihan baca puisi. Jadi, saya tinggal menandai kembali di naskahnya agar memudahkan untuk membaca nanti di depan khalayak. Saya duduk ditemani Gemi. Lalu pergi ke kamar mandi untuk ganti kostum karena acara akan segera dimulai. Setelah Opening Ceremony dimulai dan pengarahan dari Dewan Juri, satu persatu peserta Lomba Baca Puisi pun terpanggil. Terdapat beberapa mahasiswa yang ikut dari Universitas yang berbeda, jurusan yang berbeda dan ada pula dari SMA dan bapak-bapak. Saya duduk barisan ketiga dari belakang, melihat penampilan peserta lain. Jantung rasanya berdegup lebih cepat dari sebiasanya. Saya menggerak-gerakkan kaki untuk menghilangkan nervous, juga menghela nafas dalam-dalam dan menggerak-gerakan wajah agar nanti berpengaruh kepada mimik dan artikulasi saat tampil.

Nomor Pesera 3, Ya... rasanya tidak mau memang mendapatkan nomor urut yang awal-awal, apalagi setelah saya pernah mendengar dari salah satu teman bahwa nomor urut peserta yang paling awal itu suka dijadikan tumbal. Sigh. Entahlah, itu pendapat soheh atau dhoif hehe, dan (juga) Entah kenapa saya selalu mendapatkan nomor urut yang paling dekat-dekat, dulu saat Lomba Baca Puisi Rendra tingkat Nasional saya mendapatkan nomor urut 4. Huhu..

Sayang, para audience begitu gaduh ketika peserta baca puisi di depan. Rasanya tidak menghargai! Huft. Hanya awalnya saja ketika peserta membacakan judul dan paragraf pertama tidak gaduh, kesananya ngobrol-ngobrol gitu, tetapi ada juga yang memperhatikan. Tapi, dalam hati saya percaya, ketika saya tampil saya harus bisa membikin penonton terdiam dan terpaku melihat penampilan saya. Saya pun mengimajinasikannya sebelum beberapa menit lagi tampil nyata di depan. Teman saya Gemi meyakinkan dengan memberi semangat “Tenanglah, pasti juara”. Nomor urut 1 dan 2 pun selesai diakhiri dengan tepuk tangan.

Akhirnya MC memanggil nama saya “Selanjutnya, peserta nomor urut 3, Lina Fatinah..” tepuk tangan dan teriakan semangat menghantarkanku berjalan menuju depan stage. Saya ingat kepada juri yang sewaktu lomba baca puisi Rendra, beliau menuturkan bahwa yang pertama ketika peserta akan membaca puisi harus tegap santai, siap.
Saya berjalan dengan perlahan, ketika di tengah stage saya sedikit membungkukan badan tanda hormat, menatap audience dilanjut menatap naskah. Mimik dan jiwa raga mulai masuk dunia naskah yang ada di tangan.
Para audience diam. Dewan Juri menatap (Andi Piteuk, Pungkit Wijaya, dan Sugiyanti Ariani). Seperti hendak menyerang rasanya. Judul puisi kubacakan—semua diam. Lalu membaca—hening. Entah kenapa ketika saya membaca semua hening, tidak seperti sebelumnya ketika peserta lain sedang tampil. Duh! Tepukan meriah membikin bulu kuduk berdiri ketika saya selesai membaca puisi yang pertama (Puisi Islam), dilanjut yang kedua (Ijinkan Aku Mencintaimu Semampuku), dan ini naskah paling panjang—2 lembar. Ketika membacanya situasi sama, semua menatap. Saya semakin semangat ketika ternyata Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan dan staff jajarannya hadir mengisi ruangan untuk melihat penampilan saya.
Tiga belas menit saya merampungkan puisi itu. Kering rasanya tenggorokan, di hari puasa mengeluarkan suara dengan keras.

||Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku||
||Agar cinta itu mengalun dalam jiwa||
||Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.||

Itu bait terakhir yang saya baca—lalu membungkukan badan tanda hormat dan pembacaan puisi selesai. Semua tepuk tangan dan ada pula yang teriak. Saya berjalan menuju kursi belakang. Ada beberapa yang memperhatikan atau kah ini hanya saya saja yang GR hehe. Subhanallah. Luar biasa. Saya merasakan kenikmatan membaca puisi di sini. Meski tenggorokan kering, keringat di kening; saya merasakan kepuasan. Teman-teman; Gemi dan Muti menyambut.

Beberapa menit kemudian setelah duduk, ada laki-laki yang menghampiri.
“Bisa bicara? Boleh ikut duduk?” katanya
“Oh boleh, silahkan” jawabku, sambil menahan rasa capek

“Namanya siapa?”
“Lina”
“Oh Lina. Wah tadi baca puisinya bagus” katanya membikin saya tersipu malu.
Panjang lebar dia bertanya di samping kananku, dari mulai dia menyangka saya adalah orang yang juara nasional tingkat SD dan dia mengira orang itu adalah saya yang sudah besarnya, dia bertanya tentang sastra, tidak terlewat semester dan jurusan. Semua di bahas. Beberapa menit kemudian, teman saya (Muti) akan tampil. Saya pun minta ijin kepadanya untuk ke depan dulu karena mau ngambil gambarnya. Saya pun duduk di depan bersama Gemi. Setelah teman saya tampil, kami langsung ke belakang. Saya tidak duduk (lagi) di samping lelaki itu, karena ingin duduk bersama teman-teman.
“Tadi kamu ngobrolin apa saja dengannya?” tanya Gemi
“Panjang lebar”
“Dia itu Jajaka UIN kan?”
“Masa?” jawabku sambil memutarkan otak, mengingat tabloid yang ada foto Jajaka UIN-nya. Ternyata saya baru ingat! Ya, dia jajaka UIN.
Saya melihat wajah dia untuk meyakinkan bahwa dia Jajaka UIN, oh benar ternyata. Beberapa menit kemudian, dia berdiri dan pamit kepada saya
“Saya duluan ya, mau ada perlu dulu” Ucapnya seraya melemparkan senyum
“Oh ya, silahkan” jawabku
Setidaknya, dengan adanya saya ikut lomba baca puisi ini saya sudah bisa membikin orang menikmati puisi. Termasuk Jajaka UIN. Hehe

Selanjutnya, tinggal menunggu esok hari PENGUMUMAN PEMENANG. Sore itu saya tidak bisa menonton hingga tuntas karena ada lain hal yang harus saya kerjakan. Saya pun pulang ke asrama.
Menunggu esok rasanya degdegan.

12 Juli 2014
At Gazebo UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Closing Ceremony Lomba Baca Puisi Islam dimeriahkan oleh beberapa seniman. Menyanyi.
Langit semakin gelap saja, maghrib sebentar lagi tiba tapi pengumuman kejuaraan belum diberitakan. Akhirnya, setelah hiburan-hiburan itu terlaksana, pengumuman kejuaraan pun di mulai.
Di awali dengan juara 3 diraih oleh Mahasiswa UIN, suasana semakin menegang termasuk saya yang membikin tangan membeku, melihat penonton menambah berlipat kali jantung ini berdetak.
“Juara 2, diraih oleh nomor pesertaaa......” teriak MC “Nomor Peserta 3. Lina Fatinah.... jurusan Muamalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung”
Tepuk tangan penonton membikin saya ingin menjatuhkan air mata tapi kutahan.
Subhanallah. Saya tidak menyangka, kulangkahkan kaku menuju stage. Piala kupegang!
Dan juara 1 diraih oleh Mahasiswa UNISBA.
Alhamdulillah. Saya pulang bisa membawa piala! Ucapan selamat datang silih berganti.
Wanita yang pertama kutelfon adalah Mamahku. Aku terenyuh memberitakan kejuaraan ini, mamahku ikut bahagia dan mengucapkan selamat. Lalu kutelfon sahabatku, Neidya. Dia lah yang setia mengajarkan puisi sedari SMA. Aku bahagia!
Hujan gerimis seolah mendekap. Menghantarkan langkah kaki.
#RamadhanBerkah

Piala ini kupersembahkan untuk Kedua orang tua, keluarga, keluarga Komunitas Sastra Cianjur, Dewan Kesenian Cianjur, dan sahabat-sahabat semua. Tentunya Jurusanku (Hukum Ekonomi Syariah) Fakultas Syariah dan Hukum. Terima kasih atas doa-doa yang telah terpanjat. :)


Ini link video ketika saya membaca puisi
Via Youtube
http://youtu.be/sL_eV8tzV6s

Dan ini link video detik-detik kejuaraan. Nama saya terpanggil!
http://youtu.be/Bm4pCWUXubY


Kolase