Mengecup Piala Lomba Baca Puisi

Mengecup Piala Lomba Baca Puisi

Aku juara 2 Lomba Baca Puisi !!
Akhirnya....
Alhamdulillah. Segala puji kupanjatkan kepada Allah yang selalu memberikan hal terindah di tengah penantian dan kesabaran. Setelah lama kunantikan, kuimpi-impikan untuk memegang Piala Lomba Baca Puisi sembari teriak “AKU JUARA!”

Jum’at 11 Juli 2014
Hari ini saya akan mengikuti Lomba Baca Puisi Islami yang diadakan oleh Teater Awal Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dalam rangka Gelar Ramadhan.

Tepat pukul 10.30 saya masih saja mager (Malas Gerak), lembaran naskah puisi tampak di depan mata, tapi enggan rasanya untuk membaca apalagi latihan. Awalnya saya sudah menyiapkan puisi Rendra, tapi sayang dihapus dari list puisi pilihan untuk dibacakan para peserta. Mungkin dengan sebab itu saya sedikit malas untuk kembali latihan. Sekisar tiga jam lagi Lomba Baca Puisi akan segera di gelar di gedung Student Centre Kampus. Sedang saya masih asyik berdua dengan pacar (laptop). Tiga puluh menit kemudian saya mulai memegang naskah, dan membacanya. Lalu mulai menentukan puisi yang akan dibacakan, benar-benar mendadak!! Tapi di sisi lain saya percaya, di tengah SKS (Sistem Kebut Satu jam) pasti ada inspirasi yang brilliant. :D

Akhirnya, saya memilih puisi A. Mustofa Bishri “Ijinkan Aku Mencintaimu Semampuku” dan dengan puisi wajib dari pengarang yang sama “Puisi Islam”. Lalu pergi ke kamar (asrama) sebelah untuk pinjam gamis polos berwarna hitam, sekaligus kerudung hitam bercorak abu (pinjam juga ke kamar yang lainnya) hehe. Setelah mendapatkan baju dan kerudung, saya langsung pergi ke kamar dan mengunci diri dengan sedikit cahaya yang masuk dari jendela. Saya berdiri di depan kaca dan mulai membaca puisinya. Awalnya jauh-jauh hari ketika daftar lomba ini, saya ingin minta bantuan kepada Ayah di sanggar (Komunitas Sastra Cianjur DKC); Iwan B. Setiawan dan Yusuf Gigan untuk mengajarkanku membaca puisi sekaligus minta doanya. Tapi sayang, hatiku menciut ketika mengingat aku terlalu sering meminta doa dan minta diajari membaca puisi (selain menulis) dari sejak SMA dan saya tidak pernah juara dalam Lomba Baca Puisi ini, jadi saya memilih mundur saja. Diam. Tetapi meminta doa dan dukungan kepada keluarga dan teman-teman seasrama tidak dilewati.

Satu jam saya membaca puisi disertai gerakannya di depan kaca. Lalu langsung bergegas shalat dan pergi ke kampus. Saya shock ketika membuka tas di angkutan umum, naskah puisi tertinggal! Oh, Tuhan... Bagaimanakah? Saya belum latihan lagi, mana naskah yang tadi sudah saya tandai vokal membaca dan klimaksnya. Ah... saya langsung hubungi teman-teman, tapi sayang sekalipun menghubungi tetap saja tidak dapat membuat saya kembali ke asrama, pasti mengulur waktu! Sudahlah.. akhirnya saya putuskan untuk meminta naskah lagi di SC nanti. Temanku (Cima) berkata di pesan singkat “Semangat Lina, jangan jadiin penghalang buat kamu jadi juara, ini cuma kerikil kecil. Yeay”. Dan teman sekamarku (Laras) berucap “InsyaAllah, Allah pasti kasih yang terbaik”. Bibirku seolah tertarik membentuk senyum, dada mengembang. Semangat.

Sesampainya di kampus saya langsung meminta naskah kembali, beruntungnya saat di asrama saya merekam suara ketika latihan baca puisi. Jadi, saya tinggal menandai kembali di naskahnya agar memudahkan untuk membaca nanti di depan khalayak. Saya duduk ditemani Gemi. Lalu pergi ke kamar mandi untuk ganti kostum karena acara akan segera dimulai. Setelah Opening Ceremony dimulai dan pengarahan dari Dewan Juri, satu persatu peserta Lomba Baca Puisi pun terpanggil. Terdapat beberapa mahasiswa yang ikut dari Universitas yang berbeda, jurusan yang berbeda dan ada pula dari SMA dan bapak-bapak. Saya duduk barisan ketiga dari belakang, melihat penampilan peserta lain. Jantung rasanya berdegup lebih cepat dari sebiasanya. Saya menggerak-gerakkan kaki untuk menghilangkan nervous, juga menghela nafas dalam-dalam dan menggerak-gerakan wajah agar nanti berpengaruh kepada mimik dan artikulasi saat tampil.

Nomor Pesera 3, Ya... rasanya tidak mau memang mendapatkan nomor urut yang awal-awal, apalagi setelah saya pernah mendengar dari salah satu teman bahwa nomor urut peserta yang paling awal itu suka dijadikan tumbal. Sigh. Entahlah, itu pendapat soheh atau dhoif hehe, dan (juga) Entah kenapa saya selalu mendapatkan nomor urut yang paling dekat-dekat, dulu saat Lomba Baca Puisi Rendra tingkat Nasional saya mendapatkan nomor urut 4. Huhu..

Sayang, para audience begitu gaduh ketika peserta baca puisi di depan. Rasanya tidak menghargai! Huft. Hanya awalnya saja ketika peserta membacakan judul dan paragraf pertama tidak gaduh, kesananya ngobrol-ngobrol gitu, tetapi ada juga yang memperhatikan. Tapi, dalam hati saya percaya, ketika saya tampil saya harus bisa membikin penonton terdiam dan terpaku melihat penampilan saya. Saya pun mengimajinasikannya sebelum beberapa menit lagi tampil nyata di depan. Teman saya Gemi meyakinkan dengan memberi semangat “Tenanglah, pasti juara”. Nomor urut 1 dan 2 pun selesai diakhiri dengan tepuk tangan.

Akhirnya MC memanggil nama saya “Selanjutnya, peserta nomor urut 3, Lina Fatinah..” tepuk tangan dan teriakan semangat menghantarkanku berjalan menuju depan stage. Saya ingat kepada juri yang sewaktu lomba baca puisi Rendra, beliau menuturkan bahwa yang pertama ketika peserta akan membaca puisi harus tegap santai, siap.
Saya berjalan dengan perlahan, ketika di tengah stage saya sedikit membungkukan badan tanda hormat, menatap audience dilanjut menatap naskah. Mimik dan jiwa raga mulai masuk dunia naskah yang ada di tangan.
Para audience diam. Dewan Juri menatap (Andi Piteuk, Pungkit Wijaya, dan Sugiyanti Ariani). Seperti hendak menyerang rasanya. Judul puisi kubacakan—semua diam. Lalu membaca—hening. Entah kenapa ketika saya membaca semua hening, tidak seperti sebelumnya ketika peserta lain sedang tampil. Duh! Tepukan meriah membikin bulu kuduk berdiri ketika saya selesai membaca puisi yang pertama (Puisi Islam), dilanjut yang kedua (Ijinkan Aku Mencintaimu Semampuku), dan ini naskah paling panjang—2 lembar. Ketika membacanya situasi sama, semua menatap. Saya semakin semangat ketika ternyata Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan dan staff jajarannya hadir mengisi ruangan untuk melihat penampilan saya.
Tiga belas menit saya merampungkan puisi itu. Kering rasanya tenggorokan, di hari puasa mengeluarkan suara dengan keras.

||Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku||
||Agar cinta itu mengalun dalam jiwa||
||Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.||

Itu bait terakhir yang saya baca—lalu membungkukan badan tanda hormat dan pembacaan puisi selesai. Semua tepuk tangan dan ada pula yang teriak. Saya berjalan menuju kursi belakang. Ada beberapa yang memperhatikan atau kah ini hanya saya saja yang GR hehe. Subhanallah. Luar biasa. Saya merasakan kenikmatan membaca puisi di sini. Meski tenggorokan kering, keringat di kening; saya merasakan kepuasan. Teman-teman; Gemi dan Muti menyambut.

Beberapa menit kemudian setelah duduk, ada laki-laki yang menghampiri.
“Bisa bicara? Boleh ikut duduk?” katanya
“Oh boleh, silahkan” jawabku, sambil menahan rasa capek

“Namanya siapa?”
“Lina”
“Oh Lina. Wah tadi baca puisinya bagus” katanya membikin saya tersipu malu.
Panjang lebar dia bertanya di samping kananku, dari mulai dia menyangka saya adalah orang yang juara nasional tingkat SD dan dia mengira orang itu adalah saya yang sudah besarnya, dia bertanya tentang sastra, tidak terlewat semester dan jurusan. Semua di bahas. Beberapa menit kemudian, teman saya (Muti) akan tampil. Saya pun minta ijin kepadanya untuk ke depan dulu karena mau ngambil gambarnya. Saya pun duduk di depan bersama Gemi. Setelah teman saya tampil, kami langsung ke belakang. Saya tidak duduk (lagi) di samping lelaki itu, karena ingin duduk bersama teman-teman.
“Tadi kamu ngobrolin apa saja dengannya?” tanya Gemi
“Panjang lebar”
“Dia itu Jajaka UIN kan?”
“Masa?” jawabku sambil memutarkan otak, mengingat tabloid yang ada foto Jajaka UIN-nya. Ternyata saya baru ingat! Ya, dia jajaka UIN.
Saya melihat wajah dia untuk meyakinkan bahwa dia Jajaka UIN, oh benar ternyata. Beberapa menit kemudian, dia berdiri dan pamit kepada saya
“Saya duluan ya, mau ada perlu dulu” Ucapnya seraya melemparkan senyum
“Oh ya, silahkan” jawabku
Setidaknya, dengan adanya saya ikut lomba baca puisi ini saya sudah bisa membikin orang menikmati puisi. Termasuk Jajaka UIN. Hehe

Selanjutnya, tinggal menunggu esok hari PENGUMUMAN PEMENANG. Sore itu saya tidak bisa menonton hingga tuntas karena ada lain hal yang harus saya kerjakan. Saya pun pulang ke asrama.
Menunggu esok rasanya degdegan.

12 Juli 2014
At Gazebo UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Closing Ceremony Lomba Baca Puisi Islam dimeriahkan oleh beberapa seniman. Menyanyi.
Langit semakin gelap saja, maghrib sebentar lagi tiba tapi pengumuman kejuaraan belum diberitakan. Akhirnya, setelah hiburan-hiburan itu terlaksana, pengumuman kejuaraan pun di mulai.
Di awali dengan juara 3 diraih oleh Mahasiswa UIN, suasana semakin menegang termasuk saya yang membikin tangan membeku, melihat penonton menambah berlipat kali jantung ini berdetak.
“Juara 2, diraih oleh nomor pesertaaa......” teriak MC “Nomor Peserta 3. Lina Fatinah.... jurusan Muamalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung”
Tepuk tangan penonton membikin saya ingin menjatuhkan air mata tapi kutahan.
Subhanallah. Saya tidak menyangka, kulangkahkan kaku menuju stage. Piala kupegang!
Dan juara 1 diraih oleh Mahasiswa UNISBA.
Alhamdulillah. Saya pulang bisa membawa piala! Ucapan selamat datang silih berganti.
Wanita yang pertama kutelfon adalah Mamahku. Aku terenyuh memberitakan kejuaraan ini, mamahku ikut bahagia dan mengucapkan selamat. Lalu kutelfon sahabatku, Neidya. Dia lah yang setia mengajarkan puisi sedari SMA. Aku bahagia!
Hujan gerimis seolah mendekap. Menghantarkan langkah kaki.
#RamadhanBerkah

Piala ini kupersembahkan untuk Kedua orang tua, keluarga, keluarga Komunitas Sastra Cianjur, Dewan Kesenian Cianjur, dan sahabat-sahabat semua. Tentunya Jurusanku (Hukum Ekonomi Syariah) Fakultas Syariah dan Hukum. Terima kasih atas doa-doa yang telah terpanjat. :)


Ini link video ketika saya membaca puisi
Via Youtube
http://youtu.be/sL_eV8tzV6s

Dan ini link video detik-detik kejuaraan. Nama saya terpanggil!
http://youtu.be/Bm4pCWUXubY


Kolase