Tampilkan postingan dengan label Cerpen LF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen LF. Tampilkan semua postingan

Salam Rindu Dari Dandelion Yang Terbawa Angin



Angin begitu kencang, menyapu langit menjadi cerah; sirus. Menyapa tubuh kami yang sedang berjalan di atas bukit. Dari ketinggian kudapatkan padang ilalang, dandelion yang beterbangan terbawa angin.
“Dek, liat itu” ucapku sembari merangkul tangan adik kecilku, Nova. Untuk memperlihatkan burung-burung putih bercorak hitam beterbangan yang tak terhitung jumlahnya.
Kami menikmati pemandangan yang memanjakan mata, menikmati angin yang mendekap erat hingga mengantarkan kami di sini. Ya, di sini. Duduk berdua, memaknai hidup untuk hidup yang sebenar-benarnya hidup.
Lalu, aku terbangun dari tidurku. Membuka pelupuk mata dan seketika rindu. Rindu adik-adikku. Entah kenapa tiba-tiba bermimpi indah seperti itu. Aku merindu dan mencari hikmah dari balik mimpi yang menyapaku sebelum beranjak dari tempat tidur.
O, aku tahu.
Aku tidak merindu yang seharusnya kurindu. Sedang aku hidup untuk menghidupkan, berdiri untuk membuat yang lain berdiri lebih. Aku, di sini; diciptakan Tuhan bukan tanpa alasan. Ada hal indah yang harus cicipi dan dinikmati bersama.
Pagi itu, kutuliskan sepucuk surat beramplop merah jambu untuk Adik tercinta:
Dik, kakak rindu. Rindu bermain bersama, menghabiskan waktu pagi dan senja atau sekedar berbagi cerita di beranda. Maaf, kakak tidak begitu bisa memperhatikanmu. Tidak bisa berdiri seutuhnya berdiri di sampingmu. Menemani tidurmu, mengaji, atau mengisi soal matematika bersama. Tapi, satu hal. Salah satu alasan berdirinya kakak di sini adalah untukmu, untuk kakak, untuk Ayah dan Ibu kita. Dan kau, kau adalah ruh yang mengisi kekosongan hati, kau salah satu ruh yang menggelorakan semangat kakak. Terima kasih dik, kau sudah menitipkan rindu pada kuncup dandelion yang terbawa angin, terbang hingga menepi di permadani mimpi yang indah.

Salam rindu,
Kakakmu Tercinta.

Bandung, Pondok Aljawami - 08 Maret 15
Lina Fatinah

Recomended untuk ditonton :)
 

Menemukan Gunung Megalithic Dalam Mimpi

                        Menemukan Gunung Megalithic Dalam Mimpi

Malam tadi tepatnya di malam terakhir 2013, dalam tidur  yang panjang saya bermimpi:
Saya menemukan gunung batu-batu andesit basaltik—gunung megalithic yang megah, seperti Stonehenge dari Inggris, Carnac dari Prancis, Guci dari Laos, Nan Madol dari Mikronesia atau Mount Padang West Java, Terrace Pyramid from Ancient Megalith Era!

Yang membedakan adalah bebatuan yang muncul dalam mimpi ini menjulang seperti gunung padang yang ada di daerah saya—Cianjur, namun lebih besar. Batu-batu yang menumpuk menjadi satu itu ukurannya besar dan lebar, tidak seperti batu Stonehenge, Carnac ataupun batu di gunung padang yang bentuk batunya persegi panjang. Akan tetapi batu ini tebal, lebar, panjang dan di atasnya atau teras batunya terdapat banyak tempat tinggal yang minimalis seperti sanggar (satu teras batu, satu sangar). Uniknya bentuk tumpukan batu yang membentuk gunung itu bukan seperti gunung biasa, melainkan seperti gunung yang sudah meletus, di tengahnya membentuk lubang, kosong melompong menjadi kawah.

Dengan mobil Jeep Wranger yang kunaiki dan dikendarai oleh supir, melaju seperti di tengah padang kerikil batu yang masih terdapat rerumputan hijau dicelah-celahnya. Saya berdiri di atas Jeep dan melihat pemandangan ke atas gunung yang megah dan unik itu. Seperti belum terjamahi. Saat hendak memasuki tumpukan batu besar yang membentuk gunung itu bau hawanya seperti di pedalaman—dusun.
Sayangnya, saat itu saya langsung terbangun dari tidur. Dalam mimpi itu saya hanya bisa menikmati pemandangan gunung dari kejauhan saja, belum menjamah dan mendaki ke atasnya.

Yang menjadi pertanyaan dan renungan setelah mimpi menemukan gunung megalithic itu adalah:
Apakah gunung megah yang kulihat dalam mimpi itu ada? Jika ada, di mana? Sudah ditemukan kah oleh orang-orang sebelumnya?
Dalam hati menggelitik, saya pikir pasti ada, dan belum terjamahi. Barangkali.
Saya harap bisa menemukan gunung itu, seperti Johann Rebmann seorang misionaris dari Bangsa Swiss yang menemukan gunung diselimuti salju di garis khatulistiwa—Gunung Kilimanjaro yang ada di Afrika. Dia menemukan gunung yang berselimut salju dengan mata kepalanya sendiri, meski pendapatnya dan catatannya tentang penemuan gunung itu dipublikasikan dalam Chruch Missionary Intelligencer (dikutip dari buku Norman Edwin) akan tetapi banyak kontroversi, seperti yang dikemukakan oleh William Desborough Cooley, seorang ahli geografi pedalaman Afrika, mengejek Rebmann dengan mengatakan bahwa penglihatannya ke arah Gunung Kilimanjaro adalah kombinasi antara imajinasi dan pandangan mata yang buruk.

Lalu bagaimana dengan saya? Yang menemukan Gunung Megalithic Megah dan Unik dari alam mimpi hehe
Bagaimanapun saya akan percaya bahwa gunung itu ada, dan Tuhan tidak akan senonoh memberikan mimpi yang tidak bermakna (menurut saya). Atau mungkin Tuhan menyuruh saya untuk mencari gunung itu? Akan menjadi kado terindah bagi saya jika saya berhasil menemukannya di dunia nyata, dan itu entah berantah di mana keberadaannya. Karena saya mempunyai prinsip baru setelah membaca buku Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam. Saya mencintai alam dan saya ingin menjamahi alam yang belum terjamah orang. (termasuk alam akhirat kali ya yang belum kujamahi hehe *jokes*) Saya ingin mendaki dan bukan hanya sekedar mendaki untuk taddabur alam, menyalurkan hobby atau gaya-gaya-an mendaki, tetapi untuk mencari sesuatu yang baru dan mencerahkan, memiliki pengetahuan baru yang nantinya dijadikan ilmu seperti metode ilmiah yang dipakai para filsuf, menemukan apa yang belum ditemukan, entah itu akan menjadi sejarah atau menemukan prasejarah. Dan menunjukan pada dunia bahwa gunung yang saya temukan dalam alam mimpi, saya temukan pula di alam nyata. It’s so Amazing!! *laugh* Ya..bisa disamakan dengan pemikiran Plato, bahwa dunia ini lahir berawal dari dunia ide. hehe

Ya.. walaupun pasti ada orang yang menganggapku aneh bahkan gila, atau apalah yang membuat orang mencibir bahkan mengucilkan. Pertanyaan yang lantas timbul: masa iya gunung yang ditemukan dalam mimpi ditemukan dalam dunia nyata?. Berbanding lurus lah jika disamakan dengan penemuan Rebmann, dia menemukannya di dunia nyata dan dibuktikannya pun pasti akan nyata karena ada peluang. Lah ini? Ya..kembalikan lagi ke masing-masing diri kalian, mau menganggap ada, bagus, dan menganggap tidak ada juga harus. Hehe
Andai ada perintis kartografi, dan menunjukan keberadaan gunung dalam mimpi saya itu ada di dunia nyata pasti akan kudaki. *wink*

Kenapa aku percaya ada? Karena aku ingat kejadian kakak saya yang bermimpi diberi nomor telfon oleh seseorang, lalu saat mau menghubungi nomor itu (di dunia nyata) ternyata nomor itu menghubungi duluan, dan yang punya nomor itupun sama memimpikan nomor kakak saya, dan akhirnya mereka bisa bertemu di dunia nyata. Amazing bukan? Bisa direnungkan kembali. Bagaimanapun itu adalah kekuasaan Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kun faya kun! Yang jelas saya akan tetap percaya dan meyakini bahwa gunung itu ada, meski aku tidak berhasil menemukannya sampai menutup mata, tapi masih ada peluang ditemukan oleh orang-orang berikutnya yang ada di dunia ini. Seperti pembuktian Gunung diselimuti salju yang ditemukan oleh Rebmann, pembenaran yang otentik mengenai keberadaan gunung salju di khatulistiwa itu tiga belas tahun setelah publikasi pertama yang kontroversial, dan akhirnya memang benar adanya. Ah, ini hanya berbagi cerita saja, selebihnya saya serahkan kepada pembaca yang budiman. Apa pendapatmu? Hehe

Terima kasih bagi pembaca yang sudah bersedia membaca ceritanya ya ;)



LFE
31/12/13
07.00

MEMAKNAI PERJUANGAN DARI LARI PAGI




Awalnya tak ada rencana lari pagi minggu ini, apalagi bagi jomblowati tidak akan semangat menyambut minggu pagi dengan lari, biasanya tidur lebih lama sampai kasur tempos dan amblas. (hehe bacanda).
Memang sih, kalau dibandingkan dengan yang pacaran pasti mereka semangat tinggi karena akan lari bersama sang pacar, dandan dulu sampai bedaknya 5 cm, pakai minyak wangi 1 liter, memilih baju olah raga yang matching dengan warna baju yang dipakai pacar biar jadi couple-an gitu deh (duh becanda lagi deh (¯―¯٥ ))
Hallooo! Biarpun jomblo, tapi semangat harus tetap dan bahkan lebih dari 1000%. Right? Yang setuju retweet *ala Ippho Santosa :D
Kan dalam islam tidak ada yang namanya pacaran ehehe, kata abang Felix juga jangan pacaran. *eeh.. kok jadi ngebahas pacaran ya? Sudah jelas judulnya “Memaknai Perjuangan Dari Lari Pagi” duh, maaf ya pembaca yang budiman. Oke, sekarang baru kita mulai tulisannya. Yang tadi hanya selingan saja, jangan dianggap bercanda yah
ˆ)
***
Seperti dikatakan Kang Bode Riswandi: Pelajaran kedua menulis sastra: setiap momen pasti membawa ceritanya sendiri -sendiri. Ia akan berharga, jika dikelola dengan baik. Momen akan bersejarah, jika diselamatkan dalam tulisan. Dan saat itu, ketika berlari pagi, saya mendapatkan sejarah dan makna hidup yang begitu berarti. Maka, saya tulis sepenggal cerita dalam tulisan ini.
Minggu pagi (05.10)
“lina.. bangun lina..”
“lina bangun..”
“lina bangun”
Sudah tak asing lagi rasanya, kata-kata itu selalu terulang berulang kali dan berulang kala disetiap subuh tiba. Di asrama Al-Muhajirot, tepatnya di kamar 4 tercinta. Ada teh neng, Iklima, Rizki, Laras dan Nadia. Mereka lah yang setia membangunkan aku yang seperti meninggal kalau tidur (susah dibangunkan) kalau dalam bahasa sundanya yang susah bangun tuh suka disebut kebluk haha. Utamanya teh neng dan Iklima, mereka sudah satu tahun lebih setia membangunkan saya setiap pagi
ˆ)| (Ah, thank you so much muah muah deh untuk yang membangunkan saya)
“lina.. bangun lina..”
“lina, olah raga yuk. Kita lari ke PAUN (Pasar Unpad)” teriak Rizki dari tempat kasurnya. Aku masih menggeliat, pandangan masih kabur, susah kutangkap. Badan masih lemas terbaring di atas kasur
“iya serius?” jawabku sembari masih tidur 50%, bangun 50%
“iya…ayo, mumpung masih pagi”
Aku masih tiduran
“iya iya”
“cepetan….”
Akhirnya aku beranjak, pergi ke WC. Membuang urine dan sekaligus mandi biar segar (haha).
Tak..tak…tak… beberapa menit kemudian.
“lina… cepetan..” teriak Rizki (lagi)
“iya….”
“ih kamu mandi dulu ya? Ah, curang. Aku aja belum mandi”
“nanggung tadi, sekalian mandi”
“ya sudah cepet”
Jurus seribu bayangan dimulai. Memakai baju, kerudung dan yang lainnya hanya dalam hitungan detik. Haha
“oke siap” ucapku
“bawa air”
“nanti aja beli di jalan”
Akhirnya kita berangkat, keluar dari gerbang asrama kita lupa belum pemanasan terlebih dahulu. Tanpa canggung dan malu, di tengah jalan kita pemanasan. Haha
Dengan mengenakan baju yang sama-sama merah, jadi couple-an deh kita hehe. Merah mempunyai arti berani. Ya, pagi ini saya lebih berani semangatnya. Aku dan Rizki pergi lari pagi, Laras ada kegiatan di UKM kampusnya, Nadia dan Teh neng akan pergi berenang, dan Iklima tentunya sama-sama olah raga, yang membedakan adalah pergi sama pacarnya. Hehe
Dari jalan Al-jawami kita jalan santai menelusur trotoar sampai UNPAD. Di tengah jalan dengan sedikit jokes, kita kongres (ngawangkong teu beres-beres) dengan sedikit tertawa sana-sini.
Di tengah trotoar saat kita jalan santai, tepat beberapa meter dari depan kita terdapat ibu-ibu yang sedang lari juga, namun dia sedikit-sedikit lari, sedikit-sedikit berhenti, dan itu dilakukannya berulang kali.
“Nah, kalau larinya kayak gitu tuh enggak bener” Ucap Rizki sambil mengarahkan pandangan ke ibu-ibu itu. “malah bakal mudah capek, sedikit-sedikit lari, sedikit-sedikit berhenti, padahal harus konsisten, dan harus bertahap, dari mulai pemanasan sampai pendinginan” tambahnya. Membuatku menambah pengetahuan baru, dan menggerutup dalam hati “bener juga ya, dulu aku pernah melakukan hal seperti itu, dan memang jadi tidak bener larinya” hehe
Ketika berbelok ke arah depan gerlam (gerbang lama) unpad, kita mulai lari. Ternyata di depan gerlam UNPAD ada Laras, Husna dan teman-temannya. Melambai-lambaikan tangan deh sambil berteriak “semangaaaat!”
Baru sampai gerlam dengan jalan santai aku sudah berbangga diri, soalnya aku belum pernah jalan santai dari asrama sampai UNPAD dan langsung dilanjut lari. Hehe
Dengan rasa semangat yang masih menggelora, aku mulai lari dengan cepat.
“Lina, jangan kecepetan. Malah, nanti bakal cepet capek. Biasa aja dulu, santai biar bertahap”
“oh.. yaya” dan lagi-lagi Rizki yang lebih tahu trik olah raga, lebihnya dia anak PALAWA salah satu UKM di kampusnya, UNPAD. Pecinta alam gitu deh. Top deh buat dia, kecil-kecil smart and strong.
ˆ)
Udara bersih masih segar, daun-daun sepertinya menyambut pagi ini, bunga yang tak kulihat dipinggir jalan mungkin bersembunyi setelah berintiknasi semalam. Orang-orang lalu lalang di jalan, banyak sekali orang yang olah raga, tentunya mereka juga ingin hidup sehat dan berinvestasi untuk masa tua nanti. Para pedagang sudah menjajakan dagangannya dipinggir jalan.
Oke, tantangan pertama. Aku sudah lama tidak lari, walaupaun dulu aku suka lari bahkan juara satu lomba lari meskipun di sekolah, tapi itu jaman SD haha :D aku menjadi tidak suka lari sedari aku mulai sering jatuh sakit, kondisi fisik aku selalu tidak fit, jadi termasuk hatters sama lari. Jadi, kalau aku lari, itu berarti modalnya hanya semangat dan ada yang menyemangati. ˆ)
Dengan memasang wajah yang menawan (seperti yang dilakukan Bang Raditya Dika yang memasang wajahnya ketika hendak difoto), aku lari dengan semangat yang menggebu, baju warna merah membahana. Tanjakan pertama, kulalui. Nafas mulai ngos-ngos-an. Semangat masih ada, lari terus berlanjut. Beberapa menit kemudian, nafas semakin tidak bisa terkendali, keringat mencucur dari kening. Semangat dalam hati tetap ada. Keringat dingin mulai mendekap, rasanya ingin berhenti dulu.
“hah..hah..”
“ayo..semangat” Rizki selalu menyemangati dari awal
“capek..”
“ini baru sebentar, ayo semangat”
Aku tetap lari. Lari..lari..dan lari.
Rizki mendahului, aku berhenti mendadak sambil berjalan karena sudah tidak kuat dengan nafas yang tidak terkontrol. Ketika Rizki melihat ke belakang, dia meraihku berada lumayan jauh dibelakangnya.
“ayo..cepetan, jangan berhenti, nanti malah kembali lagi ke awal fasenya”
“aku gak kuat ki, capek”
“ayo cepetan ah.”
Rizki lari di tempat demi menungguku. Akhirnya aku lari lagi, Rizki meletakkan tangan kanannya di punggung dan mendorongku. Sembari mendorong dia menjelaskan
“Kalau mau berhenti jangan sampai total berhenti berlari, minimal lari kecil, karena kalau berhenti total nanti akan sulit untuk kembali ke kecepatan semula”
“Usahakan sewaktu menapakkan kaki sebaiknya bertumpu pada tumit dan berlanjut ke arah jari kaki. Nafas harus bisa diatur, dan diseimbangkan dengan derap langkah kaki” lanjutnya
Dari sana, aku mendapatkan ilmu baru dari dia. Dia luar biasa, lagi lagi kubilang dia kecil tapi dia smart and strong girl.
Nafas terus saling susul, antara menghirup dan membuang nafas jadi tidak terkendali. Kaki mulai melemas, seperti dikerumuni semut. Keringat terus mencucur.
[[hah heh hoh pokonya
(●¯¯●) larinya Lina rempong wkwk]]
“ayo semangaaat” Rizki tiada hentinya menyemangati sembari mendorong punggungku. Dengan semangatnya dia, semangat aku pun bertamabah.
“iya, semangaaaat” ucapku. Padahal capek. Tapi aku harus tetap semangat, dan harus bisa.
Setelah belokan, aku berhenti lagi. Tapi Rizki tetap mendorong “jangan berhenti, ayo sebentar lagi”.
“hah..hah..hah..” nafasku tersendat, seperti akan mati rasanya. perut sakit—kram.
“nafas aku gak teratur ki”
“ya udah, coba stabilkan, atur nafasnya”
Aku mencoba mengatur nafas semampuku, namun hasilnya tetap saja. Nihil. Wajahku tak terkontrol pula, tidak seperti di awal.
“perut aku sakit ki” lanjut keluhku
“sudah, itu tidak akan apa-apa kok. Waktu aku latihan di PALAWA saja sampai sakit tapi tetap harus terus berlanjut naik-turun tangga. Coba bayangkan betapa sakitnya saat itu dan harus tetap naik-turun” ucap Rizki agar aku tidak putus asa dan terus berlanjut lari. “Tapi pada akhirnya aku jadi tahu, kalau itu tuh tidak akan kenapa-napa, dan kerasa manfaatnya di akhir, tenang aja, lanjut aja lari” tambahnya. Dia berbagi cerita dari pengalamannya sendiri, lagi-lagi ilmu baru kudapatkan, bara semangat kuraih kembali. Aku jadi bangga dengan dia terhadap cerita-ceritanya di palawa. Hebat ya dia ;)
Lari dilanjutkan. Cahaya matahari mulai menelusup dedaunan yang jangkung, jalan pun mulai tersorot cahayanya. Rizki terus memegang punggungku, sembari bercerita. [[padahal lari sambil ngobrol nambah capek ya? Tapi dia terlihat enggak. Dengan semangatnya dia terus bercerita dan menyemangati temannya. Keren!]]
Lagi-lagi nafasku berkelahi saling susul, tersendat-sendat. Kecepatan mulai menurun.
“Ayo, sebentar lagi. Tuh, sampai gerbang itu, kita harus sampai sana” ucap Rizki sambil mengarahkan pandangannya ke Gerbang belakang UNPAD dekat daerah Keratas yang berdekatan dengan lapang Giri Gahana Golf.
(Ini dia gambar gerbangnya, terlihat sepi. Tapi kalau hari minggu padat sangat)
Tiba-tiba kaki aku berhenti. Pusing merambat sampai ubun-ubun.
“yah, ayo jangan berhenti. Sedikit lagi.” Ucapnya sambil berlari dan meraihku
“berarti kalau kamu berhenti di sini sama saja ketika dalam perjuangan kamu berhenti begitu saja, putus asa dan meinggalkan. Ini salah satu perjuangan, kamu jangan berhenti begitu saja. Ayo, sedikit lagi. Semangat.. ayo semangat ayo semangat…lina semangat..lina semangat..”
Mulut terkunci hanya bisa mendengarkan, hati ini bersuka cita sebenarnya dengan semangatnya dia, tanpa dia sadari, dia sudah memberikan pelajaran yang berarti, dari awal sampai akhir semua berharga, tidak sia-sia begitu saja. Akhirnya, perlahan aku berlari. Semangat aku kobarkan lebih tinggi, bangunan gerbang yang kokoh tersorot sinar matahari mulai terlihat, lebih atasnya lagi terlihat lebih ramai oleh orang-orang yang sedang asyik mengisi kehidupan di atas titik kecil dari alam raya ini. Dan aku harus bisa mencapai sampai sana, sebagai hadiahnya nanti menikmati makanan di tempat setelah melewati gerbang itu. Bersakit dahulu bersenang kemudian, berjuang dahulu kesuksesan kemudian. Selagi ada harapan dan semangat yang tinggi dan berusaha, pasti semua akan terwujudkan.
Aku memgimajikan, perjuangan dalam lari ini diimplementasikan dalam perjuangan kehidupanku, jika saja saya sedang memperjuangkan hal yang aku usahakan sedari dulu untuk mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan untuk orang-orang tercinta lalu kandas di tengah jalan begitu saja, berarti saya ini sudah menjadi pecundang yang kalah dengan kecapean, dengan hal yang konyol. Dari sana, semangat bertambah berkobar, bara-bara semangat menyala, tak pedulikan sakit, capek, tidak enak, nafas tak terkendali, kaki lelah, dan ini semua butuh perjuangan, semua hanya terasa selintas saja, seperti debu yang hinggap di tubuh lalu terbang kembali terbawa angin. Hingga pada akhirnya, pada tanjakan yang tidak begitu tinggi untuk mencapai gerbang itu, aku bayangkan itu tantangan paling puncak, terjalan terakhir yang harus dilewati dan harus kulewati penuh kesungguhan. Akhirnya aku dengan Rizki lari, Rizki berada dekat di depanku. Hentakan langkah ke satu, ke dua, dan ke tiga…
“Yea! Sampai” Ucap Rizki
“Yeaaah! Berhasil” Ucapku dengan suara lantang dan bahagia. Membuat orang sekitar tertuju kepada kita. Kaki hampir terpeleset, tapi Rizki meraihku.
“Alhamdulillah…”ucap Rizki “Akhirnya, sampai juga kan”
“hah..yah” aku masih mengatur nafas, keringat dingin membasahi
“nih, minum dulu” ucap Rizki dengan mengulurkan tangan kanannya memberikan air larutan. Aku pun langsung meraihnya, dan meminumnya sambil berdiri (saking lupa gegara kecapean, minum pun berdiri, gak peduli apapun, yang penting minum), setelah itu Rizki pun minum, tapi bagusnya dia, dia sempatkan untuk merendahkan posisi tubuhnya, dan minum sambil duduk. (Ah, jadi malu
ƪ))
“ayo kita cari tempat istirahat” ucap Rizki sembari melihat kanan-kiri jajakan bermacam dagangan
“iya ayo..”
“kepalaku jadi pusing ki, merambat nih”
Padahal, lari dari depan gerbang lama UNPAD sampai gerbang belakang UNPAD yang di dekat lapang golf itu bisa dikatakan dekat, memang dekat sebenarnya, tapi bagiku jauh, so far..far…far…
Ini dia petanya jalan yang harus kita tempuh dengan ditandai warna merah:


Akhirnya, gerbang yang dituju pun kuraih, bibir merekah membentuk senyum—bahagia. Aku bisa melihat jajakan bermacam jajanan, melihat orang-orang dari yang tua sampai yang terkecil sekalipun ada, berbeda kebutuhan tentunya, ada ibu-ibu yang hanya ingin berbelanja semata, ada remaja-remaja yang mencuri waktu untuk berdua-duaan dengan pacarnya, ada para pedagang yang semangat mencari nafkah untuk istri dan anak di rumah, ada orang-orang yang memang ingin berolah raga, ada yang menunggangi kuda, asap sosis mengepul, jajakan makanan memanjakan lidah merayu ƪ(˘ڡ˘)ʃ, berbagai minuman, dan aneka ragam miniatur dan hiasan semua ada di sana.
Setelah mendinginkan tubuh dengan jalan santai. Aku membeli susu murni, karena Rizki tidak membeli, aku suruh Ibu penjual susu murninya membagi susu itu ke dalam kantong menjadi dua kantong. Lalu, aku kasihkan satu kantong untuknya, karena berbagi itu indah, meski sedikit hehe. Lalu, kita berjalan kembali mencari makanan, walau sempat galau dan pilih-pilih makanan, akhirnya kita memilih makanan masakan sunda. Dengan menu makanan yang banyak, kita pun milih-milih menu yang disuka, dan menyantapnya ditempat lesehan.
ƪ(˘ڡ˘)ʃ
Dari sana lah aku mengambil filosofi perjuangan dari lari pagi, berawal dari semangat untuk mencapai titik tujuan (anggap tujuan tempat itu adalah cita-cita atau harapan yang ingin diraih dalam kehidupan kita), setelah mulai berlari kita di sana berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tempat itu, saat berusaha harus pandai mengatur nafas, bertumpu pada tumit, lengan teratur (kita anggap semua itu adalah poin-poin penting dalam mencapai tujuan), di tengah lari kita mendapatkan rintangan, capek, keringat mencucur, kaki melemah, hati bekerja lebih keras dari biasanya, putus asa, dan yang lainnya (pun dalam kehidupan kita sendiri, pasti rintangan itu akan ada, hal itu pula lah yang membuat kita semakin dewasa, jika kita terus berusaha, kita pasti akan mampu menerjal rintangan itu, semua butuh proses secara bertahap), dan ketika mencapai titik puncak akhir, sampailah sudah, lari pun selesai lalu pendinginan dan menikmati segarnya badan, sehat, dan tanpa disadari secara signifikan kita punya investasi untuk masa depan secara perlahan (jika diimplementasikan kedalam perjuangan dalam hidup, jika kita sudah mencapai titik puncak tujuan, cita-cita, harapan-harapan dalam hidup, kesuksesan pun terwujudkan, karena sukses adalah keniscayaan dari kerja keras, semua pahit berujung menjadi manis, menikmati hasil yang telah diusahakan dari awal “orang-orang yang hebat saat ini adalah orang-orang yang dulunya penuh keringat”, ketika sudah mencapai dan mewujudkan itu semua kita menikmati hasilnya, bahkan bisa diwariskan sampai tujuh turunan) hehe ;)
Ini nih ada Quote “Perjuangan yang benar akan memberi kita samudra bahagia di tengah mata air derita,
memberi makna keberartian di tengah keterasingan, memberi rasa pengharapan dan kepasrahan yang mendalam kepada Allah di tengah kesewenang-wenangan.
Perjuangan adalah sungai bahagia yang panjang.
Huluy adalah janji Allah,
Hiliry adalah kemenangan & peneguhan.
Itulah rahasia besar para pejuang, sekaligus alasan mengapa perjuangan selalu melahirkan orang-orang perkasa, tegar nan kokoh.
Kuatkan azzammu dan teteplah semangat kawan.
ヅツ
Ini foto kita berdua, sesaat setelah selesai makan. Sebagai kenangan. Jejak kehidupan hehe



Ini Foto Rizki (Foto juara satu Senyum Bahagia) :D


Setelah puas menyantap makanan, akhirnya kita kembali pulang dengan jalan kaki, sembari menikmati minggu pagi, melihat berbagai macam kegiatan dan kebutuhan yang berbeda di Pasar Unpad. Kita memutuskan mengambil jalan belakang UNPAD untuk pulang. Ketika berada di kawasan kampus UNPAD, aku difoto dulu, lagi-lagi untuk kenangan hehe
Dan ini foto Rizki di lorong cinta UNPAD, sedang mencari sang pangeran rupanya hehe


Dan yang paling asyik pun menyenangkan adalah kita divideo sembari diiringi lagu Nidji “Di Atas Awan” dan hal itu pula lah yang membuat aku semakin terpukau dengan sebuah perjuangan, utamanya dari lirik lagu abang nidji itu hehe
“Yea! Aku senang hari ini! Berhasil berlari, berhasil berkeringat murni, dan mendapatkan arti yang begitu banyak dari Rizki. Alhamdulillah, Allah telah mempertemukan kami, dan membuat skenario untuk pagi yang indah seperti ini”
"Kenang-kenanglah kami" begitu kata Chairil Anwar | Dan ini video kenangan kami setelah lari pagi yang penuh perjuangan, khususnya untuk saya, yang mengambil banyak arti dari setiap hela nafas dan setiap kaki yang terpijak.

https://www.youtube.com/watch?v=DsRE-I1-S6w
Ini lirik lagu nidji “Di Atas Awan”
Cinta satukan hati
Kuatkan jiwa menghadapi dunia
Segala cinta dan luka
Kuatkan semua persahabatan
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sedih
Ingatlah bahwa kau tak sendiri
Tanpamu tak akan sama, tanpamu semua berbeda
Kisahmu juga kisahku, selalu bersama
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
Melangkah di bawah mentari yang sama
Mencari tempat kita di masa depan
Berjanji kita tak akan putus asa
Walaupun semua tak akan mudah
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang

Hari ini, aku belajar dari semuanya. Mengambil arti dari setiap hela nafas, dari setiap yang kupijak. Langkah satu ke langkah lain yang ditempuh pasti ada pada ruang hati tersimpan rapi, dan menjadi cerita yang tersimpan dalam peti-peti kenangan dalam ranting kehidupan.
Aku harap, kita selalu berbagi, saling merasakan emosi. Seperti hari-hari yang telah kita lalui, semua tidak ada yang kebetulan, semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Pun kalau ada masalah, itu adalah wajar, bahkan sebagai pelengkap indah dalam hidup kita. Agar tali hidup persahabatan yang kita jalani bergradasi, tidak monoton hanya begitu-begitu saja. Lebihnya jika kita bersahabat karena Allah, kita tidak akan membiarkan membuat seorang berteman dengan kita hanya pertemanan biasa, tapi teman yang membuat disetiap pertemuannya ada hal yang berharga, ada hal yang berarti tidak sia-sia begitu saja, karena teman yang baik tidak akan membiarkan temannya jatuh ke dalam jurang yang salah.
Dari semua pelajaran aku dapat menjalani hidup dengan pasti.
Terima kasih untuk Rizki Mulia yang setia berbagi. Berbagi arti, berbagi semangat, berbagi gairah perjuangan, berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan, berbagi perhatian, berbagi adanya diri disamping orang yang memang sangat membutuhkan. Berbagi, dan berbagi. Seperti dua bintang yang saling berpegang tangan, saling membutuhkan.
Berbagi itu memang indah kawan.
Terkadang, perhatian kecil itu sangat lebih berarti, dan memberikan makna yang terdalam.


-The End-


LFE: 12/11/13

MAN JADDA WA JADDA!



MAN JADDA WA JADDA!

Penulis: Lina Fatinah

Harapan itu akan selalu ada, akan terus ada dan selamanya ada. Aku percaya itu. Jika kita percaya dan yakin, semua akan dan pasti terwujud. Walau bagaimana pun itu, sesulit apapun jika kita terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tentunya dengan diiringi munajat dan doa yang tiada henti serta terpanjat kepada Allah. Man Jadda Wa Jadda!
Memang benar, kita harus mempunyai keberanian yang lebih untuk mencapai apa yang kita inginkan. Seperti kata Mario Teguh Tuhan tidak akan memasangkan sayap kepada siapa pun yang tidak harus terbang. Jangan menunggu sayap, sebelum Anda melompat memasuki kehidupan yang lebih berani. Siapa pun akan lebih baik hidupnya jika dia lebih berani. Lakukan saja. Terjunlah. Penyelamatan diri adalah perilaku manusia yang paling mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Keajaiban hanya berpihak kepada yang berani. Pemberani adalah orang yang merasakan ketakutan yang sama, tapi tetap bertindak. Tapi penakut yang murahan akan mencela, dari kehidupannya yang kerdil.”
Aku sang pemimpi dan orang yang berambisi. Kuliah—Ya, saat itulah aku ingin memasuki jenjang perguruan lebih tinggi. Aku ingin melanjutkan study-ku. Namun sayang seribu sayang, ketika itu orang tua tidak bisa menjamin seratus persen untuk bisa membiayai kuliah. Bahkan orang tua tidak pernah merencanakan aku setelah lulus SMA untuk melanjutkan kuliah. Dengan alasan biaya apalah daya. Orang tua pun bukan seolah tak peduli dengan mimpi dan harapan yang ingin kuwujudkan, tapi jika terlalu memaksakan, mereka takut aku putus di jalan.
Hal pertama, itu yang harus aku lewati. Biaya. Ya, aku pun bingung memikirkan hal itu. Jika harus memaksakan itu tidak baik pula. Apa yang harus aku lakukan? Sedang mimpi terus membayang. Aku tetap ingin kuliah, melanjutkan ­study-ku. Selebihnya aku ingin bisa menyejahterakan kehidupan keluarga, dengan kuliah kita mempunyai tiket untuk memasuki era globalisasi tinggi. Mencari ilmu, itu yang utama. Aku anak ke lima dari delapan bersaudara, tidak ada satupun kakak yang melanjutkan kuliah, paling tinggi adalah di bangku SMA, adik-adikku masih duduk di bangku SD dan SMP. Bapakku seorang pengajar di pesantren, sedang Ibu menjadi Ibu rumah tangga. Kakak-kakakku, ada yang menikah dan kerja. Itu pun tidak bisa menjamin bisa membantu biaya untuk kuliah. Aku tahu, biaya kuliah tidak sedikit. Selain untuk pembayaran di kampus, kita pun butuh biaya hidup untuk merantau dan jauh dari orang tua.
Pra pendaftaran kuliah, aku sering mengikuti seminar yang diadakan para Mahasiswa dari berbagai Universitas yang diadakan tidak jauh dari sekolahku. Saat itulah aku mempunyai bekal dan keyakinan lebih untuk bisa kuliah. Masalah biaya, itu bukan menjadi alasan untuk tidak bisa kuliah. Banyak mahasiswa yang terlahir dari orang-orang yang kurang mampu tetapi dapat melanjutkan kuliah dengan prestasi yang membanggakan dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Dari sana, aku termotivasi, bertekad dan memberanikan diri untuk bisa kuliah. Masalah biaya itu belakangan. Yang terpenting adalah niat, tekad dan keberanian yang lebih.
Akhirnya, sekalipun orang tua tidak bisa menjamin membiayai kuliah dengan seratus persen, aku memberanikan diri untuk melanjutkan study-ku. Aku fokus pada mimpi-mimpi yang kutulis, dan serius dengan usaha. Saat itulah aku meyakinkan orang tua
“Mah, Pak.. Lina ingin tetap kuliah” Ucapku di tengah obrolan hangat keluarga di beranda
“Tapi mamah tidak bisa menjamin dapat membiayai pembiayaan di kuliah nanti” jawab mamahku. Sedih sebenarnya orang tua berkata seperti itu. Hati ini tersentuh dan ingin mengeluarkan air mata. Tapi kucoba tahan saat itu, hanya memerlihatkan wajah dengan ketegaran dan keyakinan. Karena saat itu aku ingin orang tua bisa mengijinkanku untuk kuliah. Jika orang tua sudah merestui, insyaAllah Allah pun memudahkan. Karena sesungguhnya keridhoan Allah terdapat pada keridhoan orang tua.
“Mamah tenang, masalah rizki itu sudah Allah yang tentukan, rizki sudah ada tapi kita yang harus cari” Ucapku dengan perlahan. “Lina hanya ingin keridhoan dari mamah dan bapak untuk mengijinkan” tambahku.
“Iya, boleh saja. Mamah ijinkan, tapi kembali lagi ke masalah utama. Biaya”
“Iya” jawabku dengan nada rendah sembari menghela nafas karena takut juga, takut jika memang benar-benar tidak bisa. Tapi apalagi yang harus dipunya selain keberanian yang lebih untuk mencoba. Dengan mengharapkan keajaiban Tuhan yang tidak mustahil serta.
Aku memberanikan diri, meyakinkan diri, dan usaha yang selalu serta. Keinginanku kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer dan Ilmu Komunikasi. Pilihan kedua, di Institute Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer. Aku mendaftarkan diri lewat jalur Bidik Misi. Dengan pengharapan yang besar, aku bisa lulus dan mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Dengan bidik misi setidaknya beban orang tua bisa terbantu.
Sore itu, aku dan teman-teman terdekat Neidya, Muthi dan Galuh janjian di Warungkondang, untuk berangkat ke Sukabumi. Karena tempat SNMPTN tulisnya di SMA1 Sukabumi. Jarak Cianjur-Sukabumi lumayan dekat, butuh waktu satu jam. Beruntung, aku dan teman-teman mempunyai guru baik hati, cantik dan friendly yang mau menampung kami saat berjuang demi salah satu mimpi. Ibu Fauziah, dialah orang yang memersilahkan kami untuk menginap di sana.


Setelah mengikuti SNMPTN tulis di daerah Sukabumi selama tiga hari. Aku pun kembali ke Cianjur bersama teman-teman. Tentunya dengan pengharapan yang besar dan kabar baik akan datang.
Setelah beberapa minggu, hasil SNMPTN pun sudah diumumkan lewat online. Aku yakin pasti masuk dan keterima, aku percaya itu. Rasa itu selalu kutumbuhkan dalam keyakinan setiap helanya. Namun ternyata keinginan kita tidak selalu sama dengan kehendak Allah. Aku dan termasuk teman-temanku yang bertiga tidak lulus di Universitas yang diinginkan. Sedih sebenarnya, tapi tidak kuratapai begitu dalam. Aku percaya pasti ada hikmah dibalik semua ini, ada kado terindah yang sudah tentu Allah siapkan. Ada hal yang lebih baik dari yang terbaik. Kulapangkan semua yang terjadi, mungkin tidak ada rizkiku di sana. Aku bingung, entah apa yang harus dilakukan lagi. Uang pembekalan untuk pendaftaran sudah tak ada sisa. Sedang teman-temanku dengan segera mendaftarkan dirinya ke universitas lain, karena sebentar lagi pendaftaran hampir di seluruh wilayah akan ditutup. Aku ingin ikut daftar juga sebenarnya, tapi kasihan orang tua jika terus kupinta uangnya untuk pendaftaran yang belum tentu hasil. Aku tidak bisa memaksakan itu semua. Namun tak kusangka kakak-kakak yang tadinya tidak begitu setuju untuk aku kuliah, karena ketakutan masalah biaya. Akhirnya semua mendukung dan menyuruhku untuk mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Orang tua pun bertambah support-nya terhadap keinginanku yang kuat. Itu sebuah dorongan yang kuat untuk aku tetap semangat menghadapi semua, aku merasa lebih kuat dari sana. Ada keluarga yang masih tetap mendukung. Sudah kubilang, keajaiban Tuhan tidak mustahil akan setia serta.
Tanpa pikir panjang lebar, aku pun segera untuk mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Sedari pengumuman SNMPTN, aku dan teman-temanku yang bertiga lost contact, karena sibuk mengurusi dirinya sendiri, mereka pun tentu bingung menentukan pilihan lagi untuk memasuki Universitas lain.
Akhirnya dengan modal keberanian dan bekal seadanya, aku memberanikan diri ke Bandung sendiri untuk registrasi. Jarak Cianjur-Bandung itu lumayan jauh, butuh waktu tiga sampai empat jam perjalanan. Lebihnya, aku tidak pernah ke Bandung sendiri, dan tidak tahu daerah Bandung seutuhnya. Ketakutan serta, tapi mulut tiada henti berdoa.
Aku yakin pertolongan Tuhan itu akan selalu ada, lewat tangan-tangan hambanya yang lain. Ketika aku takut kesasar di tengah jalan, waktu itu masih di jalan tol padaleunyi. Akhirnya, ada Mahasiswi UIN, syukurku dipertemukan dengan perempuan itu. Dengan rupawan yang anggun, pakaian muslim yang menenangkan hati aku serasa dipertemukan dengan seorang kakak. Setelah bertemu dengan perempuan itu, aku pun diantar ke kampus UIN. Aku sama sekali belum pernah ke kampus UIN. Saat itulah pertama aku turun di tanah UIN SGD Bandung. Kesan pertama ketika melihat kampus UIN memang tidak begitu baik, sinar matahari menyengat ubun-ubun, debu mengendap di tenggorokan. Jika dibandingkan dengan kampus yang kucita-citakan memang berbeda, tapi inilah perjuangan, bagaimanapun itu yang penting ingat tujuan dan mimpi-mimpi, di sini niatnya untuk belajar bukan untuk mencari kampus dengan fasilitas yang mewah, itu bonus.
Siang itu, aku pun memasuki aula kampus. Mengambil kertas pendaftaran untukku isi. Di sana, aku bingung. Menentukan pilihan jurusan. Ini memang tidak ada persiapan sama sekali. Setelah membaca buku yang menjelaskan jurusan-jurusan yang ada di UIN, aku pun menjatuhkan pilihan untuk memilih Hukum Ekonomi Syariah. Padahal basic aku adalah sastra, sinematografi, dan IT. Entahlah, ketika itu aku jadi tertarik ketika membaca penjelasan tentang jurusan Hukum Ekonomi Syariah yang nantinya akan ada konsentrasi di perbankan syariah dan hukum bisnis syariah. Aku sendiri, tertarik dengan perbankan syariah. Dengan berkeinginan untuk menjadi Direksi di Bank Syariah atau menjadi praktisi ekonomi syariah. Di sanalah kita harus bercita-cita dan keinginan yang tinggi, karena dengan mimpi kita akan menjadi hidup.
*                              *                                  *
Dengan proses yang lumayan panjang, dan setelah aku mengikuti tes mandiri, akhirnya di tengah bulan puasa, malam itu aku melihat pengumuman di web site UIN, tepat pukul 00.20 aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, di sana tertera keterangan kelulusan saya. Aku pun langsung sujud syukur, air mata tiada henti mengalir lembut di pipi, inilah yang dimaksudkan hadiah dari Tuhan, inilah rahasia Tuhan. Aku menangis bahagia. Ketika sahur, aku langsung mengabari kabar bahagia ini kepada keluarga. Paginya, aku harus segera ke kampus UIN untuk segera melaksanakan daftar ulang.
Dalam perjalanan menuju Bandung. Aku menghubungi teman-temanku yang berjuang bersama-sama ketika SNMPTN. Ternyata mereka pun lulus di UIN Sunan Gunung Djati. Tetapi temanku yang satu lagi tidak mengambil yang di UIN, dia memilih untuk kuliah di UNSIL Tasik.
Segalanya kulakukan sendiri, tanpa diantar orang tua seperti yang lainnya. Tanpa diantar atau dijemput, aku sendiri pulang-pergi Cianjur-Bandung. Kadang rasa sedih dan iri itu ada, tapi jika kita pandai mengatur ego itu semua akan menjadi cair sendiri dan malah membuat kita lebih semangat lagi. Bagaimanapun yang terpenting adalah doa dan restu dari orang tua. Itulah yang membuat semua mengalir.
*                              *                                  *
Hari pertama ketika aku menjadi mahasiswa setelah beberapa hari mengikuti ospek universitas, semua mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah kumpul di Gedung X, untuk perkenalan jurusan, saat itu hadir ketua jurusan, sekretaris jurusan dan asisten dari ketua jurusan. Yang menarik saat itu adalah asisten dari ketua jurusan, seorang mahasiswa yang masih muda mendampingi ketua jurusan dengan membawa laptop. Wajahnya yang rupawan serentak saat itu mahasiswi baru terpesona dengan tampilannya yang cool, namun sayangnya dia jutek. Aku tidak tahu sebenarnya dia siapa, saat itu aku jadi penasaran dibuatnya. Setelah selesai perkenalan jurusan aku sama temanku hendak pergi ke fakultas untuk mengambil buku panduan, ketika aku dan temanku tiba di ruangan ketua jurusan, ada lelaki tadi yang mendampingi kajur dan sekjur.
“maaf kak, saya mau ngambil buku panduan” ucapku kepada lelaki itu
“oh, nanti ya. Ketua jurusannya sedang keluar dulu”
“Yah, padahal pengen sekarang. Ya sudah gak apa-apa, makasih ya kak”
“maaf ya, nanti ke sini aja lagi” jawabnya dengan senyum yang merekah membikin hatiku terbang melayang—senang.
Akhirnya, aku dan temanku keluar ruangan. Ketika itu, aku menepuk pundak temanku seraya meyakinkan dia dengan ucapan “Nad, lihat ya nanti aku bakalan membuat hati dia meleleh suka samaku”
Entah kenapa saya bisa berucap seperti itu, mungkin karena lelaki itu terlihat dingin sekali, jadi saya ingin membuatnya meleleh. Inilah yang menjadi salah satu poin penyemangat dalam kuliah.
Hari demi hari pun terlewati, aku selalu melihat lelaki itu. Hingga pada akhirnya aku mengetahui dia yang sebenarnya. Ternyata dia mahasiswa semester 3, namanya Rifky. Dia tinggal dalam satu rumah bersama ketua jurusan, itulah sebabnya dia selalu menjadi pendamping ketua jurusan.
Aku mulai mengenal dia lebih dekat lewat dunia maya, kita chattingan dan saling menukarkan informasi. Hal yang tidak aku sangka adalah dia bisa mengetahui nomor handphone-ku. Awalnya ada sms dari nomor baru yang meminta untuk aku mengumpulkan semua kosma di fakultas, di bawah pesannya tertera nama dia “Rifky”. Dari sanalah kita lebih dekat lagi, ternyata dia mencari nomorku dari arsip yang ada di jurusan. Tak lama dari sana, dia sering menghubungiku, aku pun senang dibuatnya dengan segala perhatiannya, hingga pada akhirnya dia mengungkapkan perasaan suka terhadapku.
Tidak kusangka sebenarnya, ceritanya bisa seperti ini. Tapi, dari sana aku mengambil pelajarannya, aku masih ingat ketika aku meyakinkan Nadia bahwa saya bisa membuatnya meleleh, dan ternyata itu benar. Jika dianalogikan ke dalam mimpi pun seperti itu, jika kita bisa meyakinkan kita bisa mendapatkannya, maka kita pun bisa meraihnya, sesulit apapun itu.
Tak lama dari sana aku mengikuti ospek jurusan (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa). Hari pertama pembukaan diadakan di aula Fakultas Syariah dan Hukum, hari itu Rifky meminjamkan almamaternya untukku, karena aku belum punya almamater saat itu. Ketika semua mahasiswa baru berkumpul di gazebo, aku bertemu dengan Rifky dan memberikan almamaternya.
“coba pakai dulu” ucap Rifky
“nanti aja” jawabku
“engga, coba aja cukup atau engga” mintanya kukuh
Akhirnya aku pakai almamaternya, dia memperhatikan. Hatiku berbunga-bunga, membuat semua mahasiswi baru ngiri melihatku dengannya, apalagi dipinjamkan almamaternya. Setelah kupakai, dia pun tersenyum.
“ya sudah, aku berangkat dulu ya. Semangat mengikuti LKM-nya” ucapnya
“iya, terima kasih ya” jawabku dengan rasa senang gak kepalang
Aku pun langsung kembali ke barisan teman-teman yang di gazebo.
“wih.. dipinjemin almamater sama dia?” tanya temanku. Semua pandangan teman-teman tertuju padaku.
“iya dong, hehe” jawabku bangga
“iiih wangi” ucap temanku yang lain “sini pinjam lah..” teman-temanku pada heboh
“haha jangan dong” jawabku. Hari itulah, aku semangat dan senang.
Ketika pembukaan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa, aku dipilih menjadi perwakilan mahasiswi baru untuk diberikan penyematan sebagai tanda dibukanya acara LKM. Senang sekali rasanya, bisa disematkan co-card oleh ketua jurusan.
Hari selanjutnya, LKM dilaksanakan di Arjasari Banjaran Bandung selama 4 hari. Di sanalah, baru terasa ospek yang sebenar-benarnya ospek yang diberikan senior kepada junior. Setiap kegiatan pasti ada masalah yang diperdebatkan dengan komisi disiplin, ketika ada hal yang menjadi masalah, semua mahasiswa harus mencari rasionalisasi agar supaya semua masalah selesai, di sana kita dituntut untuk menjadi orang yang kritis, di sana kita diuji mental dengan kuat, dan harus lebih berani lagi. Ekspektasi yang dibuat harus bisa diimplementasikan. Di sana, semua mahasiswa baru tidak punya waktu untuk mandi, tidur baru dua jam lalu dibangunkan dengan suara yang keras dari komisi disiplin, selanjutnya mengikuti materi-materi. Ketika bidang acara masuk, semua mahasiswa baru senang karena bebas dari komisi disiplin. Pun sebaliknya, ketika komisi disiplin datang seolah bencana besar, semua gugup, detak jantung berdegup berlipat. Di sana aku selalu mencoba memberanikan diri untuk intrupsi sekalipun lutut selalu gemetar karena ketakutan. Apalagi ketika jurit malam dimulai, ketegangan semakin tinggi, angin dingin setia serta mengecup tubuh. Melewati hari-hari di sana seperti seribu satu malam. Namun tidak terasa ketika peleburan dimulai, semua berakhir dan senang, berbagai pelajaran didapatkan dari sana, saat itu aku menjadi salah satu peserta terbaik.
Banyak hal yang tak terduga menghampiri hidup kita, selagi kita meyakinkan hal yang baik itu ada, maka hal yang terbaik itu pun akan menghampiri dalam kehidupan kita, yang terpenting adalah niat yang tulus disertai rasa ikhlas dan menyerahkan semua pengharapan hanya kepada-Nya. Tidak kusangka aku pun mendapatkan beasiswa, dari sana aku percaya bahwa pengharapan, perjuangan serta doa itu harus ada. 
Jangan menakutkan hal yang belum tentu menyapa dalam kehidupan kita, dicoba dan lakukan saja, yang penting lakukan yang terbaik disetiap langkahnya. Kita analogikan bahwa masalah itu sepeti angin, maka jangan dijauhi. Karena angin sendirilah yang akan membuat kita terbang jauh lebih tinggi.
Dan bermimpilah, karena dengan mimpi kita bisa hidup.
Mimpi, cita, cinta dan pengharapan adalah perjuangan. Man jadda wa jadda!