MAN JADDA WA JADDA!
Penulis: Lina Fatinah
Harapan itu akan selalu ada, akan terus ada
dan selamanya ada. Aku percaya itu. Jika kita percaya dan yakin, semua akan dan
pasti terwujud. Walau bagaimana pun itu, sesulit apapun jika kita terus
berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tentunya dengan diiringi
munajat dan doa yang tiada henti serta terpanjat kepada Allah. Man Jadda Wa
Jadda!
Memang benar, kita harus mempunyai keberanian
yang lebih untuk mencapai apa yang kita inginkan. Seperti kata Mario Teguh “Tuhan tidak akan
memasangkan sayap kepada siapa pun yang tidak harus terbang. Jangan menunggu
sayap, sebelum Anda melompat memasuki kehidupan yang lebih berani. Siapa pun akan lebih baik hidupnya jika dia lebih berani.
Lakukan saja. Terjunlah.
Penyelamatan diri adalah perilaku manusia yang
paling mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Keajaiban
hanya berpihak kepada yang berani. Pemberani adalah orang yang merasakan
ketakutan yang sama, tapi tetap bertindak. Tapi penakut yang murahan akan
mencela, dari kehidupannya yang kerdil.”
Aku sang pemimpi dan orang yang berambisi. Kuliah—Ya,
saat itulah aku ingin memasuki jenjang perguruan lebih tinggi. Aku ingin
melanjutkan study-ku. Namun sayang
seribu sayang, ketika itu orang tua tidak bisa menjamin seratus persen untuk
bisa membiayai kuliah. Bahkan orang tua tidak pernah merencanakan aku setelah
lulus SMA untuk melanjutkan kuliah. Dengan alasan biaya apalah daya. Orang tua
pun bukan seolah tak peduli dengan mimpi dan harapan yang ingin kuwujudkan,
tapi jika terlalu memaksakan, mereka takut aku putus di jalan.
Hal pertama, itu yang harus aku lewati. Biaya.
Ya, aku pun bingung memikirkan hal itu. Jika harus memaksakan itu tidak baik
pula. Apa yang harus aku lakukan? Sedang mimpi terus membayang. Aku tetap ingin
kuliah, melanjutkan study-ku.
Selebihnya aku ingin bisa menyejahterakan kehidupan keluarga, dengan kuliah
kita mempunyai tiket untuk memasuki era globalisasi tinggi. Mencari ilmu, itu
yang utama. Aku anak ke lima dari delapan bersaudara, tidak ada satupun kakak
yang melanjutkan kuliah, paling tinggi adalah di bangku SMA, adik-adikku masih
duduk di bangku SD dan SMP. Bapakku seorang pengajar di pesantren, sedang Ibu
menjadi Ibu rumah tangga. Kakak-kakakku, ada yang menikah dan kerja. Itu pun
tidak bisa menjamin bisa membantu biaya untuk kuliah. Aku tahu, biaya kuliah
tidak sedikit. Selain untuk pembayaran di kampus, kita pun butuh biaya hidup
untuk merantau dan jauh dari orang tua.
Pra pendaftaran kuliah, aku sering mengikuti
seminar yang diadakan para Mahasiswa dari berbagai Universitas yang diadakan
tidak jauh dari sekolahku. Saat itulah aku mempunyai bekal dan keyakinan lebih
untuk bisa kuliah. Masalah biaya, itu bukan menjadi alasan untuk tidak bisa
kuliah. Banyak mahasiswa yang terlahir dari orang-orang yang kurang mampu tetapi
dapat melanjutkan kuliah dengan prestasi yang membanggakan dengan mendapatkan
beasiswa dari pemerintah. Dari sana, aku termotivasi, bertekad dan memberanikan
diri untuk bisa kuliah. Masalah biaya itu belakangan. Yang terpenting adalah
niat, tekad dan keberanian yang lebih.
Akhirnya, sekalipun orang tua tidak bisa
menjamin membiayai kuliah dengan seratus persen, aku memberanikan diri untuk
melanjutkan study-ku. Aku fokus pada
mimpi-mimpi yang kutulis, dan serius dengan usaha. Saat itulah aku meyakinkan
orang tua
“Mah, Pak.. Lina ingin tetap kuliah” Ucapku di
tengah obrolan hangat keluarga di beranda
“Tapi mamah tidak bisa menjamin dapat
membiayai pembiayaan di kuliah nanti” jawab mamahku. Sedih sebenarnya orang tua
berkata seperti itu. Hati ini tersentuh dan ingin mengeluarkan air mata. Tapi
kucoba tahan saat itu, hanya memerlihatkan wajah dengan ketegaran dan
keyakinan. Karena saat itu aku ingin orang tua bisa mengijinkanku untuk kuliah.
Jika orang tua sudah merestui, insyaAllah Allah pun memudahkan. Karena
sesungguhnya keridhoan Allah terdapat pada keridhoan orang tua.
“Mamah tenang, masalah rizki itu sudah Allah
yang tentukan, rizki sudah ada tapi kita yang harus cari” Ucapku dengan
perlahan. “Lina hanya ingin keridhoan dari mamah dan bapak untuk mengijinkan”
tambahku.
“Iya, boleh saja. Mamah ijinkan, tapi kembali
lagi ke masalah utama. Biaya”
“Iya” jawabku dengan nada rendah sembari
menghela nafas karena takut juga, takut jika memang benar-benar tidak bisa.
Tapi apalagi yang harus dipunya selain keberanian yang lebih untuk mencoba.
Dengan mengharapkan keajaiban Tuhan yang tidak mustahil serta.
Aku memberanikan diri, meyakinkan diri, dan
usaha yang selalu serta. Keinginanku kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI) Bandung dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer dan Ilmu Komunikasi.
Pilihan kedua, di Institute Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Ilmu
Komputer. Aku mendaftarkan diri lewat jalur Bidik Misi. Dengan pengharapan yang
besar, aku bisa lulus dan mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Dengan
bidik misi setidaknya beban orang tua bisa terbantu.
Sore itu, aku dan teman-teman terdekat Neidya,
Muthi dan Galuh janjian di Warungkondang, untuk berangkat ke Sukabumi. Karena tempat
SNMPTN tulisnya di SMA1 Sukabumi. Jarak Cianjur-Sukabumi lumayan dekat, butuh waktu
satu jam. Beruntung, aku dan teman-teman mempunyai guru baik hati, cantik dan friendly yang mau menampung kami saat
berjuang demi salah satu mimpi. Ibu Fauziah, dialah orang yang memersilahkan
kami untuk menginap di sana.
Setelah mengikuti SNMPTN tulis di daerah
Sukabumi selama tiga hari. Aku pun kembali ke Cianjur bersama teman-teman.
Tentunya dengan pengharapan yang besar dan kabar baik akan datang.
Setelah beberapa minggu, hasil SNMPTN pun
sudah diumumkan lewat online. Aku yakin
pasti masuk dan keterima, aku percaya itu. Rasa itu selalu kutumbuhkan dalam
keyakinan setiap helanya. Namun ternyata keinginan kita tidak selalu sama
dengan kehendak Allah. Aku dan termasuk teman-temanku yang bertiga tidak lulus
di Universitas yang diinginkan. Sedih sebenarnya, tapi tidak kuratapai begitu
dalam. Aku percaya pasti ada hikmah dibalik semua ini, ada kado terindah yang
sudah tentu Allah siapkan. Ada hal yang lebih baik dari yang terbaik.
Kulapangkan semua yang terjadi, mungkin tidak ada rizkiku di sana. Aku bingung,
entah apa yang harus dilakukan lagi. Uang pembekalan untuk pendaftaran sudah
tak ada sisa. Sedang teman-temanku dengan segera mendaftarkan dirinya ke
universitas lain, karena sebentar lagi pendaftaran hampir di seluruh wilayah
akan ditutup. Aku ingin ikut daftar juga sebenarnya, tapi kasihan orang tua
jika terus kupinta uangnya untuk pendaftaran yang belum tentu hasil. Aku tidak
bisa memaksakan itu semua. Namun tak kusangka kakak-kakak yang tadinya tidak
begitu setuju untuk aku kuliah, karena ketakutan masalah biaya. Akhirnya semua
mendukung dan menyuruhku untuk mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri
Sunan Gunung Djati Bandung. Orang tua pun bertambah support-nya terhadap keinginanku yang kuat. Itu sebuah dorongan
yang kuat untuk aku tetap semangat menghadapi semua, aku merasa lebih kuat dari
sana. Ada keluarga yang masih tetap mendukung. Sudah kubilang, keajaiban Tuhan
tidak mustahil akan setia serta.
Tanpa pikir panjang lebar, aku pun segera
untuk mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati
Bandung. Sedari pengumuman SNMPTN, aku dan teman-temanku yang bertiga lost contact, karena sibuk mengurusi
dirinya sendiri, mereka pun tentu bingung menentukan pilihan lagi untuk
memasuki Universitas lain.
Akhirnya dengan modal keberanian dan bekal
seadanya, aku memberanikan diri ke Bandung sendiri untuk registrasi. Jarak
Cianjur-Bandung itu lumayan jauh, butuh waktu tiga sampai empat jam perjalanan.
Lebihnya, aku tidak pernah ke Bandung sendiri, dan tidak tahu daerah Bandung
seutuhnya. Ketakutan serta, tapi mulut tiada henti berdoa.
Aku yakin pertolongan Tuhan itu akan selalu
ada, lewat tangan-tangan hambanya yang lain. Ketika aku takut kesasar di tengah
jalan, waktu itu masih di jalan tol padaleunyi. Akhirnya, ada Mahasiswi UIN,
syukurku dipertemukan dengan perempuan itu. Dengan rupawan yang anggun, pakaian
muslim yang menenangkan hati aku serasa dipertemukan dengan seorang kakak.
Setelah bertemu dengan perempuan itu, aku pun diantar ke kampus UIN. Aku sama
sekali belum pernah ke kampus UIN. Saat itulah pertama aku turun di tanah UIN
SGD Bandung. Kesan pertama ketika melihat kampus UIN memang tidak begitu baik,
sinar matahari menyengat ubun-ubun, debu mengendap di tenggorokan. Jika
dibandingkan dengan kampus yang kucita-citakan memang berbeda, tapi inilah
perjuangan, bagaimanapun itu yang penting ingat tujuan dan mimpi-mimpi, di sini
niatnya untuk belajar bukan untuk mencari kampus dengan fasilitas yang mewah,
itu bonus.
Siang itu, aku pun memasuki aula kampus.
Mengambil kertas pendaftaran untukku isi. Di sana, aku bingung. Menentukan
pilihan jurusan. Ini memang tidak ada persiapan sama sekali. Setelah membaca
buku yang menjelaskan jurusan-jurusan yang ada di UIN, aku pun menjatuhkan
pilihan untuk memilih Hukum Ekonomi Syariah. Padahal basic aku adalah sastra,
sinematografi, dan IT. Entahlah, ketika itu aku jadi tertarik ketika membaca
penjelasan tentang jurusan Hukum Ekonomi Syariah yang nantinya akan ada konsentrasi
di perbankan syariah dan hukum bisnis syariah. Aku sendiri, tertarik dengan
perbankan syariah. Dengan berkeinginan untuk menjadi Direksi di Bank Syariah
atau menjadi praktisi ekonomi syariah. Di sanalah kita harus bercita-cita dan
keinginan yang tinggi, karena dengan mimpi kita akan menjadi hidup.
Dengan proses yang lumayan panjang, dan
setelah aku mengikuti tes mandiri, akhirnya di tengah bulan puasa, malam itu
aku melihat pengumuman di web site
UIN, tepat pukul 00.20 aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, di sana
tertera keterangan kelulusan saya. Aku pun langsung sujud syukur, air mata
tiada henti mengalir lembut di pipi, inilah yang dimaksudkan hadiah dari Tuhan,
inilah rahasia Tuhan. Aku menangis bahagia. Ketika sahur, aku langsung
mengabari kabar bahagia ini kepada keluarga. Paginya, aku harus segera ke
kampus UIN untuk segera melaksanakan daftar ulang.
Dalam perjalanan menuju Bandung. Aku
menghubungi teman-temanku yang berjuang bersama-sama ketika SNMPTN. Ternyata
mereka pun lulus di UIN Sunan Gunung Djati. Tetapi temanku yang satu lagi tidak
mengambil yang di UIN, dia memilih untuk kuliah di UNSIL Tasik.
Segalanya kulakukan sendiri, tanpa diantar
orang tua seperti yang lainnya. Tanpa diantar atau dijemput, aku sendiri
pulang-pergi Cianjur-Bandung. Kadang rasa sedih dan iri itu ada, tapi jika kita
pandai mengatur ego itu semua akan menjadi cair sendiri dan malah membuat kita
lebih semangat lagi. Bagaimanapun yang terpenting adalah doa dan restu dari
orang tua. Itulah yang membuat semua mengalir.
* * *
Hari
pertama ketika aku menjadi mahasiswa setelah beberapa hari mengikuti ospek
universitas, semua mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah kumpul di Gedung X, untuk
perkenalan jurusan, saat itu hadir ketua jurusan, sekretaris jurusan dan
asisten dari ketua jurusan. Yang menarik saat itu adalah asisten dari ketua
jurusan, seorang mahasiswa yang masih muda mendampingi ketua jurusan dengan
membawa laptop. Wajahnya yang rupawan serentak saat itu mahasiswi baru
terpesona dengan tampilannya yang cool, namun
sayangnya dia jutek. Aku tidak tahu sebenarnya dia siapa, saat itu aku jadi
penasaran dibuatnya. Setelah selesai perkenalan jurusan aku sama temanku hendak
pergi ke fakultas untuk mengambil buku panduan, ketika aku dan temanku tiba di
ruangan ketua jurusan, ada lelaki tadi yang mendampingi kajur dan sekjur.
“maaf
kak, saya mau ngambil buku panduan” ucapku kepada lelaki itu
“oh,
nanti ya. Ketua jurusannya sedang keluar dulu”
“Yah,
padahal pengen sekarang. Ya sudah gak apa-apa, makasih ya kak”
“maaf
ya, nanti ke sini aja lagi” jawabnya dengan senyum yang merekah membikin hatiku
terbang melayang—senang.
Akhirnya,
aku dan temanku keluar ruangan. Ketika itu, aku menepuk pundak temanku seraya
meyakinkan dia dengan ucapan “Nad, lihat ya nanti aku bakalan membuat hati dia
meleleh suka samaku”
Entah
kenapa saya bisa berucap seperti itu, mungkin karena lelaki itu terlihat dingin
sekali, jadi saya ingin membuatnya meleleh. Inilah yang menjadi salah satu poin
penyemangat dalam kuliah.
Hari
demi hari pun terlewati, aku selalu melihat lelaki itu. Hingga pada akhirnya
aku mengetahui dia yang sebenarnya. Ternyata dia mahasiswa semester 3, namanya
Rifky. Dia tinggal dalam satu rumah bersama ketua jurusan, itulah sebabnya dia
selalu menjadi pendamping ketua jurusan.
Aku
mulai mengenal dia lebih dekat lewat dunia maya, kita chattingan dan saling menukarkan informasi. Hal yang tidak aku
sangka adalah dia bisa mengetahui nomor handphone-ku.
Awalnya ada sms dari nomor baru yang meminta untuk aku mengumpulkan semua kosma
di fakultas, di bawah pesannya tertera nama dia “Rifky”. Dari sanalah kita
lebih dekat lagi, ternyata dia mencari nomorku dari arsip yang ada di jurusan.
Tak lama dari sana, dia sering menghubungiku, aku pun senang dibuatnya dengan
segala perhatiannya, hingga pada akhirnya dia mengungkapkan perasaan suka
terhadapku.
Tidak
kusangka sebenarnya, ceritanya bisa seperti ini. Tapi, dari sana aku mengambil
pelajarannya, aku masih ingat ketika aku meyakinkan Nadia bahwa saya bisa
membuatnya meleleh, dan ternyata itu benar. Jika dianalogikan ke dalam mimpi
pun seperti itu, jika kita bisa meyakinkan kita bisa mendapatkannya, maka kita
pun bisa meraihnya, sesulit apapun itu.
Tak
lama dari sana aku mengikuti ospek jurusan (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa).
Hari pertama pembukaan diadakan di aula Fakultas Syariah dan Hukum, hari itu
Rifky meminjamkan almamaternya untukku, karena aku belum punya almamater saat
itu. Ketika semua mahasiswa baru berkumpul di gazebo, aku bertemu dengan Rifky
dan memberikan almamaternya.
“coba
pakai dulu” ucap Rifky
“nanti
aja” jawabku
“engga,
coba aja cukup atau engga” mintanya kukuh
Akhirnya
aku pakai almamaternya, dia memperhatikan. Hatiku berbunga-bunga, membuat semua
mahasiswi baru ngiri melihatku dengannya, apalagi dipinjamkan almamaternya.
Setelah kupakai, dia pun tersenyum.
“ya
sudah, aku berangkat dulu ya. Semangat mengikuti LKM-nya” ucapnya
“iya,
terima kasih ya” jawabku dengan rasa senang gak kepalang
Aku
pun langsung kembali ke barisan teman-teman yang di gazebo.
“wih..
dipinjemin almamater sama dia?” tanya temanku. Semua pandangan teman-teman
tertuju padaku.
“iya
dong, hehe” jawabku bangga
“iiih
wangi” ucap temanku yang lain “sini pinjam lah..” teman-temanku pada heboh
“haha
jangan dong” jawabku. Hari itulah, aku semangat dan senang.
Ketika
pembukaan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa, aku dipilih menjadi perwakilan
mahasiswi baru untuk diberikan penyematan sebagai tanda dibukanya acara LKM.
Senang sekali rasanya, bisa disematkan co-card oleh ketua jurusan.
Hari selanjutnya, LKM dilaksanakan di Arjasari
Banjaran Bandung selama 4 hari. Di sanalah, baru terasa ospek yang
sebenar-benarnya ospek yang diberikan senior kepada junior. Setiap kegiatan
pasti ada masalah yang diperdebatkan dengan komisi disiplin, ketika ada hal
yang menjadi masalah, semua mahasiswa harus mencari rasionalisasi agar supaya
semua masalah selesai, di sana kita dituntut untuk menjadi orang yang kritis,
di sana kita diuji mental dengan kuat, dan harus lebih berani lagi. Ekspektasi
yang dibuat harus bisa diimplementasikan. Di sana, semua mahasiswa baru tidak
punya waktu untuk mandi, tidur baru dua jam lalu dibangunkan dengan suara yang
keras dari komisi disiplin, selanjutnya mengikuti materi-materi. Ketika bidang
acara masuk, semua mahasiswa baru senang karena bebas dari komisi disiplin. Pun
sebaliknya, ketika komisi disiplin datang seolah bencana besar, semua gugup,
detak jantung berdegup berlipat. Di sana aku selalu mencoba memberanikan diri
untuk intrupsi sekalipun lutut selalu gemetar karena ketakutan. Apalagi ketika
jurit malam dimulai, ketegangan semakin tinggi, angin dingin setia serta
mengecup tubuh. Melewati hari-hari di sana seperti seribu satu malam. Namun
tidak terasa ketika peleburan dimulai, semua berakhir dan senang, berbagai
pelajaran didapatkan dari sana, saat itu aku menjadi salah satu peserta
terbaik.
Banyak hal yang tak terduga menghampiri hidup
kita, selagi kita meyakinkan hal yang baik itu ada, maka hal yang terbaik itu
pun akan menghampiri dalam kehidupan kita, yang terpenting adalah niat yang
tulus disertai rasa ikhlas dan menyerahkan semua pengharapan hanya kepada-Nya.
Tidak kusangka aku pun mendapatkan beasiswa, dari sana aku percaya bahwa
pengharapan, perjuangan serta doa itu harus ada.
Jangan menakutkan hal yang belum tentu menyapa
dalam kehidupan kita, dicoba dan lakukan saja, yang penting lakukan yang
terbaik disetiap langkahnya. Kita analogikan bahwa masalah itu sepeti angin,
maka jangan dijauhi. Karena angin sendirilah yang akan membuat kita terbang
jauh lebih tinggi.
Dan bermimpilah, karena dengan mimpi kita bisa
hidup.
Mimpi, cita, cinta dan pengharapan adalah
perjuangan. Man jadda wa jadda!