Salam Rindu Dari Dandelion Yang Terbawa Angin



Angin begitu kencang, menyapu langit menjadi cerah; sirus. Menyapa tubuh kami yang sedang berjalan di atas bukit. Dari ketinggian kudapatkan padang ilalang, dandelion yang beterbangan terbawa angin.
“Dek, liat itu” ucapku sembari merangkul tangan adik kecilku, Nova. Untuk memperlihatkan burung-burung putih bercorak hitam beterbangan yang tak terhitung jumlahnya.
Kami menikmati pemandangan yang memanjakan mata, menikmati angin yang mendekap erat hingga mengantarkan kami di sini. Ya, di sini. Duduk berdua, memaknai hidup untuk hidup yang sebenar-benarnya hidup.
Lalu, aku terbangun dari tidurku. Membuka pelupuk mata dan seketika rindu. Rindu adik-adikku. Entah kenapa tiba-tiba bermimpi indah seperti itu. Aku merindu dan mencari hikmah dari balik mimpi yang menyapaku sebelum beranjak dari tempat tidur.
O, aku tahu.
Aku tidak merindu yang seharusnya kurindu. Sedang aku hidup untuk menghidupkan, berdiri untuk membuat yang lain berdiri lebih. Aku, di sini; diciptakan Tuhan bukan tanpa alasan. Ada hal indah yang harus cicipi dan dinikmati bersama.
Pagi itu, kutuliskan sepucuk surat beramplop merah jambu untuk Adik tercinta:
Dik, kakak rindu. Rindu bermain bersama, menghabiskan waktu pagi dan senja atau sekedar berbagi cerita di beranda. Maaf, kakak tidak begitu bisa memperhatikanmu. Tidak bisa berdiri seutuhnya berdiri di sampingmu. Menemani tidurmu, mengaji, atau mengisi soal matematika bersama. Tapi, satu hal. Salah satu alasan berdirinya kakak di sini adalah untukmu, untuk kakak, untuk Ayah dan Ibu kita. Dan kau, kau adalah ruh yang mengisi kekosongan hati, kau salah satu ruh yang menggelorakan semangat kakak. Terima kasih dik, kau sudah menitipkan rindu pada kuncup dandelion yang terbawa angin, terbang hingga menepi di permadani mimpi yang indah.

Salam rindu,
Kakakmu Tercinta.

Bandung, Pondok Aljawami - 08 Maret 15
Lina Fatinah

Recomended untuk ditonton :)