Malam tadi tepatnya di malam terakhir 2013, dalam tidur yang panjang saya bermimpi:
Saya menemukan gunung batu-batu andesit basaltik—gunung megalithic yang megah, seperti Stonehenge dari Inggris, Carnac dari Prancis, Guci dari Laos, Nan Madol dari Mikronesia atau Mount Padang West Java, Terrace Pyramid from Ancient Megalith Era!
Yang
membedakan adalah bebatuan yang muncul dalam mimpi ini menjulang
seperti gunung padang yang ada di daerah saya—Cianjur, namun lebih
besar. Batu-batu yang menumpuk menjadi satu itu ukurannya besar dan
lebar, tidak seperti batu Stonehenge, Carnac ataupun batu di
gunung padang yang bentuk batunya persegi panjang. Akan tetapi batu ini
tebal, lebar, panjang dan di atasnya atau teras batunya terdapat banyak
tempat tinggal yang minimalis seperti sanggar (satu teras batu, satu
sangar). Uniknya bentuk tumpukan batu yang membentuk gunung itu bukan
seperti gunung biasa, melainkan seperti gunung yang sudah meletus, di
tengahnya membentuk lubang, kosong melompong menjadi kawah.
Dengan
mobil Jeep Wranger yang kunaiki dan dikendarai oleh supir, melaju
seperti di tengah padang kerikil batu yang masih terdapat rerumputan
hijau dicelah-celahnya. Saya berdiri di atas Jeep dan melihat
pemandangan ke atas gunung yang megah dan unik itu. Seperti belum
terjamahi. Saat hendak memasuki tumpukan batu besar yang membentuk
gunung itu bau hawanya seperti di pedalaman—dusun.
Sayangnya,
saat itu saya langsung terbangun dari tidur. Dalam mimpi itu saya hanya
bisa menikmati pemandangan gunung dari kejauhan saja, belum menjamah
dan mendaki ke atasnya.
Yang menjadi pertanyaan dan renungan setelah mimpi menemukan gunung megalithic itu adalah:
Apakah gunung megah yang kulihat dalam mimpi itu ada? Jika ada, di mana? Sudah ditemukan kah oleh orang-orang sebelumnya?
Dalam hati menggelitik, saya pikir pasti ada, dan belum terjamahi. Barangkali.
Saya
harap bisa menemukan gunung itu, seperti Johann Rebmann seorang
misionaris dari Bangsa Swiss yang menemukan gunung diselimuti salju di
garis khatulistiwa—Gunung Kilimanjaro yang ada di Afrika. Dia menemukan
gunung yang berselimut salju dengan mata kepalanya sendiri, meski
pendapatnya dan catatannya tentang penemuan gunung itu dipublikasikan
dalam Chruch Missionary Intelligencer (dikutip dari buku Norman
Edwin) akan tetapi banyak kontroversi, seperti yang dikemukakan oleh
William Desborough Cooley, seorang ahli geografi pedalaman Afrika,
mengejek Rebmann dengan mengatakan bahwa penglihatannya ke arah Gunung
Kilimanjaro adalah kombinasi antara imajinasi dan pandangan mata yang
buruk.
Lalu bagaimana dengan saya? Yang menemukan Gunung Megalithic Megah dan Unik dari alam mimpi hehe
Bagaimanapun
saya akan percaya bahwa gunung itu ada, dan Tuhan tidak akan senonoh
memberikan mimpi yang tidak bermakna (menurut saya). Atau mungkin Tuhan
menyuruh saya untuk mencari gunung itu? Akan menjadi kado terindah bagi
saya jika saya berhasil menemukannya di dunia nyata, dan itu entah
berantah di mana keberadaannya. Karena saya mempunyai prinsip baru
setelah membaca buku Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam. Saya
mencintai alam dan saya ingin menjamahi alam yang belum terjamah orang.
(termasuk alam akhirat kali ya yang belum kujamahi hehe *jokes*)
Saya ingin mendaki dan bukan hanya sekedar mendaki untuk taddabur alam,
menyalurkan hobby atau gaya-gaya-an mendaki, tetapi untuk mencari
sesuatu yang baru dan mencerahkan, memiliki pengetahuan baru yang
nantinya dijadikan ilmu seperti metode ilmiah yang dipakai para filsuf,
menemukan apa yang belum ditemukan, entah itu akan menjadi sejarah atau
menemukan prasejarah. Dan menunjukan pada dunia bahwa gunung yang saya
temukan dalam alam mimpi, saya temukan pula di alam nyata. It’s so
Amazing!! *laugh* Ya..bisa disamakan dengan pemikiran Plato, bahwa dunia
ini lahir berawal dari dunia ide. hehe
Ya..
walaupun pasti ada orang yang menganggapku aneh bahkan gila, atau
apalah yang membuat orang mencibir bahkan mengucilkan. Pertanyaan yang
lantas timbul: masa iya gunung yang ditemukan dalam mimpi ditemukan
dalam dunia nyata?. Berbanding lurus lah jika disamakan dengan penemuan
Rebmann, dia menemukannya di dunia nyata dan dibuktikannya pun pasti
akan nyata karena ada peluang. Lah ini? Ya..kembalikan lagi ke
masing-masing diri kalian, mau menganggap ada, bagus, dan menganggap
tidak ada juga harus. Hehe
Andai ada perintis kartografi, dan menunjukan keberadaan gunung dalam mimpi saya itu ada di dunia nyata pasti akan kudaki. *wink*
Kenapa
aku percaya ada? Karena aku ingat kejadian kakak saya yang bermimpi
diberi nomor telfon oleh seseorang, lalu saat mau menghubungi nomor itu
(di dunia nyata) ternyata nomor itu menghubungi duluan, dan yang punya
nomor itupun sama memimpikan nomor kakak saya, dan akhirnya mereka bisa
bertemu di dunia nyata. Amazing bukan? Bisa direnungkan kembali.
Bagaimanapun itu adalah kekuasaan Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin di
dunia ini. Kun faya kun! Yang jelas saya akan tetap percaya
dan meyakini bahwa gunung itu ada, meski aku tidak berhasil menemukannya
sampai menutup mata, tapi masih ada peluang ditemukan oleh orang-orang
berikutnya yang ada di dunia ini. Seperti pembuktian Gunung diselimuti
salju yang ditemukan oleh Rebmann, pembenaran yang otentik mengenai
keberadaan gunung salju di khatulistiwa itu tiga belas tahun setelah
publikasi pertama yang kontroversial, dan akhirnya memang benar adanya.
Ah, ini hanya berbagi cerita saja, selebihnya saya serahkan kepada
pembaca yang budiman. Apa pendapatmu? Hehe
Terima kasih bagi pembaca yang sudah bersedia membaca ceritanya ya ;)
LFE
31/12/13
07.00