Aku Lelah, Terlalu Lelah.

Saat ini; aku terduduk sembari hati melompong.
Di sejuknya masjid, membikin aku harus lebih kuat.
Aku merindu, sebenarnya.
Rindu bercengkrama seperti dulu.
Duduk berdua lalu bersua setiap saat, dan selalu.
Menceritakan tentang; kita.
Atau sekedar tertawa dalam sahaja.
Sekarang, berbeda.
Perlu berlipat kali untuk bagaimana memulai.
Bibir terkaku seolah ada yang menahan. Padahal hati ingin bicara. Apapun itu.
Kemarilah, temani saya. ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja.
Haruskah aku meminum obat tidur hingga tenang? 
Aku lelah, Terlalu lelah.

Aku, mengantongi sepotong senja untukmu.
Jika nanti, kau sudah puas menggerogoti hati diam-diam.
Duduklah di sini, di sampingku.
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Bukankah dalam kitab Bidayatul Hidayah dijelaskan bahwa seorang teman itu seperti sendal yang sama, di mana sendal itu menyerupainya sesuatu dan yang lain, mempunyai ukuran dan kemiripan, hati yang satu menjadi petunjuk bagi hati yang lain ketika berjumpa.
 Nabi Saw. bersabda, “Perumpamaan dua orang saudara adalah seperti dua tangan, yang satu membersihkan yang lain.”
Nabi Saw. juga berkata, “Tidaklah dua orang bersahabat, melainkan yang paling dicintai Allah Swt. adalah yang paling mengasihi temannya.”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Temanku, aku lelah. Terlalu lelah.
Jika seperti ini aku mati. Aku mati tanpamu.
Maafkanlah dengan lapang
Ingatkanlah jika alfa
Untuk apa kita mempunyai hati?
Untuk apa kita mempunyai pikiran?
Untuk apa kita mempunyai mulut?
Jika semua diam. Diam
Akankah diam akan mengeluarkan kita dari kelelahan ini?

Temanku, aku lelah. Terlalu lelah.
Seperti menelan butiran peluru hingga empedu.

Temanku, aku lelah. Terlalu lelah.
Aku rindu. Rindu kasih sayang yang tercurah karena-Nya.
Aku rindu. Bak pungguk yang merindui bulan
Aku rindu. Rindu senyum cherry merah di pipi yang tulus
Bukan, bukan tentang paksaan. Melainkan Ketulusan.
Seperti tulusnya dandelion yang terbang menghilang terbawa angin.
Aku rindu. Rindu menikmati kabut bersama.
Bukankah kabut mengukir cerita kita saat itu?
Bukankah Allah mempertemukan dengan tanpa alasan?
Aku rindu.
Rindu.
Aku ingin keluar dari suasana seperti ini.
Menyakitkan.
Diam-diam menyimpan lebih banyak luka daripada dibicarakan.
Betapapun aku tahu, jika kita memaku pohon, maka lubang bekas paku itu tidak akan pernah hilang.
Begitupun luka di hati.

Temanku, kemarilah.
Saling menguatkan bahu.
Berpegang tangan menuju Firdaus-Nya.
Aku ingin persahabatan ini diridhoi, seperti yang diamanatkan dalam kitab sebelumnya. Bahwa kita harus saling memenuhi hak dan kewajiban persahabatan.

Temanku, suasana kita sedang rumit.
Aku tidak ingin kerumitan yang sedang dialami masing-masing bertambah rumit dengan hal ini.
Mungkin ini tidak terlalu penting bagimu. Tapi, hal inilah yang lebih penting dari urusanku sekarang.
Jika aku diamkan, urusanku yang lain terbengkalai. Aku ingin, serumit apapun keadaan yang dialami kita tetap saling berpegang tangan, bahu membahu dan saling bertukar cerita. Biasa saja. Agar kita saling menguatkan meski ada urusan berat yang sedang kita hadapi masing-masing.
Sakit memang, ketika tidak bisa membantu teman sendiri. Bahkan bercerita tentang kepenatanpun tidak. Tapi dengan yang lain kau bercerita panjang lebar. Dan itu wajar, karena aku tidak pandai dalam hal itu. Maafkan. Setidaknya jika kau bercerita tentang keluhmu, mungkin aku bisa memberi semangatmu lebih meski jauh dari kata kesempurnaan dan meminjamkan bahuku. Setidaknya aku berusaha sekemampuanku. Aku hanya ingin mengusahakan yang terbaik dalam keadaan apapun itu. Atau mungkin kau memang sudah tidak membutuhkan.

Temanku, mari kita lihat kembali pembahasan dalam kitab Bidayatul Hidayah.
Manusia itu ada tiga jenis: ada yang seperti makanan dimana memang selalu diperlukan, ada yang seperti obat di mana hanya sewaktu-waktu saja diperlukan dan ada pula yang seperti penyakit di mana sama sekali tak diperlukan.
Dan aku menjadikanmu yang selalu diperlukan. Entah bagaimana denganmu.
Jauh dari lubuk hati, kau pun pasti sama. Hanya saat ini saja suasana kita sedang tidak bersahabat.
Temanku, nyamankah dengan suasana seperti ini?
Temanku, betahkah jika kita harus terus terdiam meski duduk, makan, dan tempat tidur berdampingan?
Temanku, aku sakit ketika kau terdiam. Aku sakit ketika berusaha untuk tersenyum tetapi tak ada balasan, aku sakit ketika berusaha untuk menanyakan apapun itu agar mencairkan suasana tapi tetap dingin membeku.
Temanku, aku lupa bagaimana caranya bercengkrama seperti dulu. Jika sudah seperti ini aku kaku. aku takut yang aku lakukan salah di matamu. Beritahu aku bagaimana caranya agar suasana kita hangat seperti dulu.
Temanku, jika kau merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan saat ini. Mari kita cairkan bersama, mari kita hangatkan kembali suasana kita. Saling menopang, bahu membahu, saling mengasihi, memenuhi hak dan kewajiban persahabatan dan menguatkan meski urusan-urusan diluar ini lebih rumit.
Aku yakin, jika urusan rumit serumit apapun itu bisa berjalan lebih baik jika suasana kita hangat penuh kasih dan sayang seperti biasa, saling bertukar kabar dan cerita, juga melukiskan pelangi di hari-hari kita. Aku yakin, Allah sedang ingin melihat seberapa kuatkah kita menghadapi masalah dalam ikatan persahabatan ini. Semoga Allah senantiasa mencurahkan cinta, kasih dan sayang-Nya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah, meridhoi persahabatan kita. Semoga Allah menunjukan jalan kepada kita agar sama-sama tidak saling egois. Semoga Allah menguatkan persahabatan kita, hingga kehidupan abadi nanti. Aku ingin ditempatkan di Surga yang sama yakni di Firdaus yang lebih dekat dengan Arsy-Nya.
Jika tujuan kita sama. Mari. Mari kita tetap berjalan bersama, dan apapun yang terjadi kita selesaikan bersama. Semoga Allah senantiasa mengiringi langkah kita. Betapapun aku tahu, bahwa sesungguhnya Allah lebih dekat dari urat leher kita.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lagu ini kupersembahkan untukmu, semoga berkenan.