Hujan Mempertemukan Kita



Hujan mempertemukan kita.
 —Ya, senja itu.

Hari ini, rasa semangatku sedang menurun. Sebab rindu ingin menikmati senja di Beranda. Setelah sampai asrama aku langsung merebahkan diri di kamar. Menghela nafas, menyatukan sisa-sisa semangat yang telah berkeping. Ponsel aku raih dan mulai surfing di facebook—kebiasaan buruk karena terlalu candu. Melihat notification tidak ada yang istimewa. Lalu teringat, setelah sehari kemarin aku saling berkirim pesan di facebook dengannya. Panggil saja dia; Dokgi. Kemarin kami sedang membahas foto yang aku minta dari salah satu panitia acara yang telah aku ikuti, dan panitia itu temannya Dokgi.
“Ada kabar kah?” tulisku di obrolan menanyakan keberadaan fotoku kembali, meski sebenarnya sedikit “modus”. Hah, sedikit? Entahlah, lupakan.
Oke, akhirnya dari sana kami saling berkirim pesan. Dari yang tadinya formal hingga pakai “haha” “wkwkwk” dan yaaaah terjerembab pada “kegombalan”.
Ketika saling berkirim pesan, hujan turun dengan derasnya. Menjelma kedamaian dan kebahagiaan. Tentu, kebahagiaan ini datang bukan hanya dari datangnya hujan, melainkan datangnya dia. Ya, dia yang tersimpan rapi di hati.
Disela obrolan di facebook, aku jadi mengetahui keadaannya sekarang; baru bangun dan mager. Sigh. So, I said “Padahal tadi hujan salju loh, tuh kan yang tidur itu jadi ketinggalan jaman”
Lalu dia balas: “Emangnya? Saljunya juga lagi tidur.. . Mager juga.. . wkwkwk
Ketinggalan sedetik.. gapapa lah.. .”
Jadi maksudnya dia salju, begitu? Gerutu dalam hati.
Hah? Masa iya salju tidur? Saljunya sudah turun menyisakan kesejukan di hati. Jangan gapapa tapi bagaimana” jawabku
Duh.. . Hatinya banjir kasian penghuninya nanti harus ngungsi.. . Haha
Ooiya, ketinggalan sedetik bakal mendahului sampai beberapa menit.. . Haha”
Absurd memang obrolan kami saat itu. Tapi, bibirku merekah membentuk senyum dan kebahagiaan menjelma. Lalu aku pun membalasnya kembali.
“Yah..kalau harus ngungsi kemana dong? Ya enggak laaah, yang ada ketinggalan beberapa abad cahaya huuuu. Pasti tidur lagiii, terbawa sama sulaman hujan haha
Ngungsi ketempat yg ada harapan hidup.. . Hahaha
Wah.. . Cahaya? Cepet banget? Kalo gitu naik energi yg dapat mengalahkan kecepatan cahaya biar terkejar.. .
Iya terbuai irama rintikan hujan. . Haha
Aku tersesat.. gak tau tempat. Huhu
Hahaaa gak akan bisa naik energi deh kayaknya kalau diam di atas kasur dan melamun di pojok hujan haha.
Untung gak terbuai roma irama ya haha. Duh, hujan ini menenangkan memang.. sejuk, dan membuka kenangan diam-diam..”
Tanya sama ahlinya biar ga tersesat.. . Haha
Iya naiknya nanti sekarang lagi melepas lelah.. .
Ga melamun, tapi bermimpi.. . Hha
Gamau dibuai sama roma irama.. hahaha
Kenangan apa?? Wkwkwk”
Hah, “sedikit” senang gak kepalang. Bahagia ketika dia menanyakan kenanganku. Serius kah? Itu berarti dia aware. Aaah! Hujan semakin deras. Bahagia semakin menjelma. Sembari tertawa kecil dan guling kanan-guling kiri sendiri. Seperti orang gila memang. Padahal jika dibaca sama orang yang biasa aja pesan ini tuh tidak ada istimewanya. Atau barangkali.
Next, aku balas lagi. Pasti.
Kan kamu ahlinya, jadi sekarang aku mau tanya: harus kemanakah aku?
Bermimpi apaaa?
Hm, mau tau atau mau tau aja?? Wkwk
Btw, dulunya alay yah wkwk”
Pesan langsung terbaca, dan terlihat dalam keterangan dia sedang menulis pesan untukku. Sembari menunggu, aku kepoin facebook dia deh. Sekali-kali boleh lah ya.
Hanya beberapa detik, langsung ada pesan lagi:
“Ketempat yg ada cahayanya.. . Haha
Mimpi jadi manusia super.. .
Apa yaa?? Mau tau.. . Hha
Tau dari mana dulunya alay?? :D”
Sontak, saat itu juga hati merekah, bahagia. Hanya karena dia bilang “Mau tau”. Haha. Oh, Tuhan...
“Itu mah absurd -_-
Jyah.. jadi supernafi wkwk
Haha goceng duluuu wkwk
Liat postingan jaman nomadennya haha”
“Oo... . Maaf.. . Hha
Itu rasional tapi gatau pastinya.. .wkwk
Hahaha iya dong biar manfaat bagi orang lain..
Jaman nomadennya kapan emang?? Hahaha”
“Huuu
Sudah sudaaah kalau mau jadi manusia super sekarang bangun, mandi, shalat ke mesjid.. hehe
Setelah shalat baru berbagi cerita yaaa hehe
Jaman nomadenmu saat rambut dibelah dua wkwk”
Sore itu, aku bahagia karena “kehadirannya” mampu membuat aku hidup.
Akhirnya, hujan reda tepat ketika aku meninggalkan pesan itu. Karena akan pergi ke Bioskop bersama teman satu kamar. Oh, ini malam minggu! Tapi, tidak berarti apa-apa tuh buatku. Mau malam minggu kek, malam jumat kek, it’s same for me.
Dan siang tadi, ya tepatnya pukul 13.20 aku melihat ada inbox masuk di facebook dari dia.
“Besok pulang kuliah jam berapa?”
Saat membacanya membikin jari-jari melemas, hati mengembang. Ah! Kenapa?
Dan ternyata setelah saling berkirim pesan, dia ingin menitipkan adik tingkatnya untuk ikut menginap di asramaku.
Begitulah wanita—suka ke-Gran. Haha
Oke, aku menunggu hari esok. Tepatnya, senja esok, entah itu akan hujan atau mentari yang menguning emas akan menemani. Yang jelas, kita akan berjumpa.
Detik ini, saat ini..saya curhat yang jelas tidak penting tapi ingin aku tulis karena membuatku bahagia menulisnya. Ditemani lagu Dekat di Hati dari RAN, mendukung sangat.
Senja, aku tunggu kau.

Hujan mempertemukan kita.
 —Ya, senja itu.


: edisi curcol