Pergi Menuju Keabadian




Mata masih terkatup, namun telinga mendengar orang-orang yang sedang panik. Lalu perlahan kubuka mata dan duduk di atas kasur.
“Lina, tahu gak mamahnya iki meninggal?” tanya Husna di depan pintu dengan wajah resah
“Hah?” sontakku “Mamah iki meninggal? Ya Allah” lanjutku
Badan seketika melemas, hati tak karuan. Sahabatku, Rizki telah ditinggal oleh Ibunya ke Rahmatullah. Gerutup dalam hati. Pikiran memflashback saat semalam
“Lina, malam ini aku tidak pulang. Mamahku sedang di rawat di RS” kirimnya lewat pesan singkat
“Innalaillahi, iya insyaAllah didoakan. Iki yang sabar ya. Laa syifa illa syifauka” jawabku ketika hendak mengaji di mesjid Al-Jawami
Lalu aku melihat handphone, ternyata ada pesan singkat darinya
“Lina, Ibuku meninggal. Mohon Doanya”
Ya Allah, begitu tegarnya ia.
Aku langsung memberi kabar kepada teman-teman asrama yang lainnya, dan mengumumkan siapa saja yang akan ikut ke Rumah Rizki. Kami saling kejar dengan waktu agar tidak terlambat datang ke rumahnya.
Bersama Laras, Husna, Cima, Teh Ai, Teh Wafi dan Teh Ilis, aku pergi dengan menggunakan angkutan menuju Riung Bandung. Dengan bertanya-tanya jalan rumah yang telah dikirimkan alamatnya lewat pesan singkat. Aku lupa jalan menuju rumahnya, karena baru satu kali ke rumahnya saat merayakan ulang tahun Rizki dan itupun bekerja sama dengan Mamahnya. Itulah yang membuat hati ini nelangsa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika posisi aku berada di posisinya Rizki.
Singkat cerita, kami pun sampai di depan rumahnya Rizki, bendera kuning sudah terpasang, wajah-wajah sembab terlihat dari orang-orang yang sedang berdiri di halaman rumahnya.
Ketika kulangkahkan kaki ke dalam rumah, mayat Mamah Iki sudah dibaluti kain kafan. Hati sedih.
Aku langsung bersalaman dengan kakaknya, dia sangat tersedu. Kami langsung mengaji, sedang Iki masih berada di kamar. Setelah selesai mengaji, iki pun datang. Aku langsung merangkulnya.
Yang saya banggakan di sana adalah iki bisa tegar. Ia mencium pipi kanan-kiri dan keningnya secara perlahan, lalu mengecup tangannya yang sudah tertutup kain kafan sebelum dishalatkan. Air mata mengalir di pipiku. Teman-teman yang lain ikut sedih. Betapapun aku sangat berduka cita.
Kami langsung ikut menyolatkan jenazah, air mata setia mengalir.
Karena tidak langsung dikuburkan, karena saudaranya belum ada yang datang disebabkan perjalanan yang jauh. Kami pun pulang duluan, karena akan ada perkuliahan siang itu.
Tidak tega rasanya meninggalkan iki.
Esok harinya, aku langsung membuatkan puisi untuk Rizki.




Rizki Mulia.

Akan banyak bab-bab yang dibuka; sekarang
Tentang cinta dan kehangatan
Ibu

Dekapan yang tidak ingin kita lepaskan, sebenarnya

Betapapun, kau tahu.
Semua yang dicipta akan kembali pada-Nya
Lembaran-lembaran yang dilalui hanya akan menjadi kenangan
Yang tersimpan dalam ranting kehidupan

Aku tahu, kau kuat!
Bahkan lebih kuat dari apa yang kutahu

Pada akhirnya, kita harus pandai mengasuh rindu.
Bermuajahah dalam Doa
Karena kita tahu, Allah lebih dekat dari urat leher kita.


Sabar dan tabah lah, sayang.
Meski sulit.
Innallaha ma’ana.
insyaAllah, Allah telah menempatkan Ibumu di tempat yang mulia. Semoga.




***
Tak terasa, hari ke-7 sepeninggalnya Mamah Rizki, hari itu aku langsung ke rumahnya. Untuk berziarah dan menengok Rizki.
Karena Rizki masih di luar rumah sedang membeli kebutuhan untuk tahlilan, aku berdua bersama neneknya.
Siang ini, aku menemukan sosok seorang nenek yang luar biasa. Ia melahirkan 11 anak, 5 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Suaminya meninggal 26 tahun yang lalu. Ia berhasil membesarkan anak-anaknya hingga anak-anaknya berumur. Usianya 78 tahun. Dari perawakannya terlihat sehat dan kuat. Wajahnya bersih, sewaktu mudanya pasti cantik.
Ia sedikit mengeluh ketika sedang berbagi ceritanya di beranda. Terkadang ia sakit dada, sering berkeringat membikin gerah dan gampang capek. Jadi kalau lagi capek langsung diistirahatkan sebentar. Namun sayang, rasa lelah itu selalu datang. Keluhnya.
Anaknya yang kedua meninggal lima hari lalu. Ia menceritakan kekecewaannya karena tidak bisa menemani ketika anak yang kedua itu menghembuskan nafas terakhir pada pukul tiga pagi—20 Mei 2014 di Rumah Sakit. Air matanya menitik terlihat dari sudut mata, menahan duka dengan menekan bibirnya dalam. Air mataku pun ikut membasahi pipi.
ditinggalkeun ku hiji anak oge atos sedih” (“Ditinggalkan oleh satu anak saja sudah merasakan sedih teramat dalam”) Ucapnya. Lalu kuusap dan kurangkul pundaknya.
Aku merasakan kesedihannya. Ya, aku merasakan bagaimana seorang Ibu kehilangan seorang anak yang dari buaian hingga besar terurus oleh tangannya sendiri, lalu meninggalkan lebih dulu.
Nenek yang sudah mempunyai puluhan cucu ini terlihat tegar, sama seperti salah satu cucunya anak dari Ibu yang baru meninggal itu. Ia pun menceritakan cucunya, “dia kuat, bisa menghadapi semua ini” Ucapnya (dalam bahasa Sunda) “Pagi-pagi sudah bangun, langsung nyuci, beres-beres rumah dan masak” lanjutnya.
Memang benar apa yang dikatakan Nenek itu, cucunya yang satu itu memang tegar. Dia teman dekatku. Sekamar di asrama. Selama bersamanya, aku tidak pernah melihat dia mengeluh apalagi menangis. Sedang aku sudah tak terhitung lagi berapa kali kah air mata yang terjatuh di hadapannya dan meminjamkan bahunya untukku menangis. Sewaktu Ibunya meninggal dia tidak menangis histeris seperti orang-orang sebiasanya yang jika ditinggal oleh orang tercinta menangis berlebih.
Hari itu, ketika mendapatkan kabar di pagi buta bahwa Ibunya meninggal, aku dan teman-teman langsung bergegas pergi ke rumahnya dari asrama dengan hati yang tak karuan. Sedapatnya di rumah, dia memegang Al-Qur’an dan sapu tangan untuk mengusap air mata yang mengalir lembut di pipinya perlahan. Dia duduk di depan jasad Ibunya. Ketika jasad Ibunya hendak dibawa ke Mesjid untuk disolatkan, dia kecup perlahan di kening, pipi kanan dan kiri, juga tanggannya. Sungguh, aku yang melihatnya begitu merasakan kesedihan yang teramat dalam. Air mataku pun membasahi pipi.
Nenek yang sedang asyik bercerita ini tiba-tiba langsung berdiri dan ke kamarnya, ternyata Ia membawa foto berukuran besar dan sedang. Di dalam foto itu terdapat kesebelas anaknya dan cucu-cucunya. Kebanyakan dari kesebelas anaknya itu tinggal diluar kota, yang dekat hanya beberapa termasuk anak yang kedua. Anak yang kedua inilah yang sering mengunjungi Ia ke rumah.
“Mah, di rumah ada siapa?”
“Sendiri” Jawabnya
“Dia langsung datang ke rumah menengok dan sering nelfon, dia yang sering datang ke rumah. Hingga tiga kali seminggu” Pungkasnya bercerita padaku.
Sayang, anaknya itu meninggalkannya lebih dulu. Usia, benar rahasia.
“Betapapun, kau wanita hebat Nek. Percayalah, insyaAllah kelak akan dikumpulkan di Surganya Allah. Aamiin.” Ucapku dalam hati
Aku sungguh berterima kasih kepada Nenek yang sudah kuanggap nenek sendiri, Ia telah menambah kekuatan dalam hidupku. Ia mampu menjadi kaca dalam sekejap dan diikuti selamanya.

Beberapa jam kemudian Rizki baru datang, namun sayang hari semakin larut. Aku harus pulang ke pondok, saat itu aku diantarkan oleh keluarganya, saya pun foto bersama nenek hebat itu di dalam mobil


Beberapa hari kemudian, ada kabar bahwa iki tidak akan tinggal di pesantren dulu, aku pun merasakan kehilangan. Sedih.
Ini puisi yang kubuat saat mendengar kabar itu.
Perlu tertegun beberapa saat untuk menerima keputusanmu

Bak darah dalam rahim yang meluruh—keluh

Daun-daun jatuh

Bintang-bintang yang tersemai di lesung pipimu rapuh



Bunga dandelion terempas lepas

Terbang bersama sebungkus cerita

Tentang suka juga duka



Kehilangan

Ya, aku kehilangan.



Kehilangan dua cherry merah

Dan gigi yang tersusun rapi



Ia, setia membuka jendela embun

Ketika bunga telah berintiknasi semalam



Sekarang,

Bidadari setia menyulam hujan di atas langit

Dan mengecup hari meski pahit



Di tengah kerling tasbih

Aku setia menunggu,

Menunggu dihujani mutiara di atas punggung


Bandung, 02/06/14


Ternyata iki hanya meminta ijin selama bulan Ramadhan ia tidak ikut mengaji. Dan akan kembali lagi. Alhamdulillah :)