Senja kemarin lewat telfon genggam, sahabatku Neidya menyanyikan untukku musikalisasi puisi, yang katanya di dalam puisi itu seperti kisah kami; sekarang. Di dalamnya ada tentang jarak, hujan dan tenung rindu. Ada empat puisi yang dia nyanyikan, mengalun pada gendang telinga, hati dan perigi, dalam semakin dalam. Dengarkan:
1. "Engkau begitu jauh dalam rindu. Tapi betapa lekat dalam lukaku. Engkau begitu asyik dalam sunyi. Tapi betapa sejuk pisaumu mengiris urat leherku. Kekasih menyingkirlah sejenak, agar bisa kuhayati jarak atau mendekatlah untuk kukecup, kukecup lukamu."
2. "Pada gerimis telah kau menitipkan segalanya. Batang-batang rindu yang tak jelas arahnya. Jadi gerimis baru, jadi embun yang menjentik. Pada hujanlah kau sendiri benturkan wajahmu. Jadi gerimis baru, jadi embun yang menjentik. Di daun waktu."
3. "Siapakah yang melangkah meninggalkan jejak gerimis. Lengkung langit sejak semula hanya kekal jadi saksi yang bisa diam. Dan angin risih. Dan daun-daun dingi, batu mewarnai waktu. Siapakah yang melangkah dan bergegas meninggalkan jejak kesedihan. Aku bayang-bayang, dan bulan hanya berpandangan menunggu. Dan taman lebih bisu juga pohon-pohon dan batu-batu. Juga waktu. Siapakah yang melangkah meninggalkan jejak kesedihan?”
4. "Dan selalu lewat jendela, aku memahamimu. Dan selalu rindu yang minta, ditulis dengan darahmu. Hari-hari berpendar ke rumah yang lain, ke dalam dada dan kebun-kebun jiwa. Engkau seperti alamat tenung, atau serupa kemuskilan yang diciptakan. Tapi melulu aku bertamu saban waktu, saban waktu.
Saban waktu aku mendatangimu dengan tubuh yang pucat, tapi kau menulisnya ketika darah di badan tinggal segurat." 8 maret