Sudah mendarah daging sepertinya kebiasaan yang kurang baik—fluktuatif
ketika hendak akan bertambah umur beberapa hari lagi. Menjadi tidak karuan,
berpikir lebih dalam dari sebiasanya, dan sedikit galau. Sebab aku memikirkan; usia. Semakin sini semakin bertambah
angka usiaku, semakin menyusut kesempatan untuk menghela nafas dan menari di
pasar fana. Yang aku pikirkan adalah Aku. Ya, aku. Aku bukan siapa-siapa dan
belum menjadi siapa-siapa. Dan memang bukan tentang siapa.
Hanya seonggok daging yang bernyawa. Seseorang yang asyik
bermain dengan imajinya, setia mengirim surat pada selubung embun dengan amplop
merah jambu tak beralamat, meraba dan membaca dari raut muka dan cerita. Dalam
diamnya berpikir, berlipat kali dari berpikir orang yang sebiasanya, menjamah
dan menelusur sepersekian detik. Aku. Ah, tidak mengerti.
Sikap dan sifat masih
jauh dari kata sempurna. Masih tetap seperti ini. Tanpa piagam dan medali. Atau
barangkali.
Tidak ada yang bisa aku berikan atau simpan sebagai kenangan
yang baik dan manis. Hanya keangkuhan dan keacuhan. Tidak ada yang bisa
membuatku semakin dekat untuk mempertemukanku dengan-Nya. Akhirnya, hanya
Rahmat-Nya yang aku harapkan. Betapapun, akan tiba waktunya aku pasti kembali
pada-Nya.
Tuhan, rengkuh aku dalam doa.
Bandung, 15/05/14
LFE
14:00