LAGU BULAN MEI
Adakah derap langkah menghampirimu?
Dari dua titik embun yang bertemu menjadi satu
Kamu menunggu. Masih menunggu dan tetap menunggu
: lagu yang menjatuhkan angin, embun juga sunyi
Saban demi saban berlalu berganti menyusutkan usia
bintang-bintang tersemai di pekarangan lesung pipimu
sedang kau masih bukan apa-apa, dan memang bukan siapa
tangga-tangga rindu lepuh kau tapaki semakin
menelusur jalan untuk bertemu dengan penyebab dirimu ada
doa-doa terpanjat dari hati-hati orang mencinta
selintas atau khusyuk, formalitas atau benar ada
tapi Tuhan Maha Mendengar, sebab itu Dia akan mengabulkan
sekarang atau nanti, masih ada atau telah tiada
Ketika langit kau tembus dan semakin jauh dari pasar fana
tanpa hymne dan kue berlilin, hanya dengan tarian dalam mihrab
Lalu berdoa:
“Terima kasih, Tuhan. (masih) mengijinkanku menghela nafas. Untuk mengukir tari, menyulam rindu pada kerling tasbih hingga tubuh ini terkulai dalam dekap-Mu”
Selamat panjang umur Lina Fatinah.
Jiwamu semakin muda. Hanya bajumu yang tua, dan tulisan-tulisan yang kau simpan rapi lah yang kelak akan menjadi anak dan cucu-cucu bercerita, menapaki tentang euforia suka juga duka.
Bandung
LF
Mei 2014
Mengecup Crampon di Gletser UNPAD
02.10—Alarm berbunyi di mana-mana, angin dingin menelusup ke celah-celah baju membangunkan satu-satu peserta MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Mesjid Raya UNPAD.
Aku langsung bergegas mengambil air wudhu melewati orang-orang yang masih mengkatupkan pelupuknya di lantai 2.
Kaki menapaki lantai yang begitu dingin, sesaat setelah wudhu kaki ini melangkah ke teras Masjid, perlahan berjalan dan berjalan. Kutatapi dari sudut kanan hingga sudut kiri dengan slow motion. Pagi buta. Daun mengering merekat bersuara terbelai angin. Lorong-lorong menju tanjakan cinta UNPAD membeku dan menyimpan cerita, gedung Fakultas Kedokteran tertutupi daun-daun. Cahaya yang membias. Lalu tengadah dan kudapati bintang-bintang bertaburan menghiasi wajah langit. Angin dingin sepertiga malam mendekap semakin, lantai masjid membekukan jari-jari kaki. Seperti “Mengecup Crampon di Gletser UNPAD”
Sejenak—tertegun. Mata tiba-tiba menjadi hangat. Air mata menitik lembut di pipi. Tidak terasa, umur baru menyapa. Tepat pada tanggal 25 Mei 1993 Ibuku berjuang sekuat tenaga, antara hidup dan mati. Hanya demi melahirkan seorang anak dari rahimnya. Meski rahimnya meluruh, sakit peluh. Mamahku luar biasa, berhasil mengenalkanku pada dunia, membesarkan dengan penuh cinta dan tentunya seorang Bapak, yang tidak kalah luar biasa. Membesarkanku dengan keringatnya. Mereka aset dalam hidupku yang tidak akan pernah aku bisa tanpa mereka.
21 Tahun. Ya, 21 tahun menyapa diriku yang sedang berdiri tegap di teras Mesjid Raya UNPAD. Bintang-bintang menjadi saksi. Tanpa kue, tanpa lilin, tanpa lagu. Dan itu tidak lebih indah dari alunan suara-suara yang melantunkan ayat Al-Qur’an di dalam Masjid.
Dan tentunya tanpa ucapan-ucapan yang menjadi alarm pengingat tanda jatah menghela nafas di dunia semakin menyusut.
Lalu aku menghela nafas panjang sembari memejamkan mata dan berucap dalam hati:
“Terima kasih Ya Allah. Sudah memberikan umur yang panjang dalam hidupku. Semoga keberkahan Kau limpahkan. Aamiin”
Mamah, Bapak. Anakmu kini sudah dewasa. Terima kasih kuhaturkan, telah membesarkanku tanpa berkeluh akan lelah. Terima kasih sudah menjadi sosok yang patut menjadi teladan. Maafkan, aku belum menjadi seperti yang kalian impikan. Tapi selalu kuusahakan untuk menjadi yang terbaik di mata kalian. Doaku selalu.
UNPAD, Jatinangor
25 Mei 2014 || 2.30
Lina Fatinah
Alarm Kematian
Kriing.. kriing..
Alarm berbunyi
Kriing.. kriing..
Alarm mati untuk hidup
abadi, berbunyi
Kriing.. kriing..
Alarm pengingat kematian
berbunyi
Kriing.. kriing..
Satu pesan diterima;
“Selamat Mencicipi Umur Baru Lina Fatinah!”
Katanya
Ah, semua hanya menjadi alarm
: pengingat tanda bahwa jatah untuk menghela nafas berkurang.
Kriing..
kriing..
Hingga sunyi
dan tak berirama lagi
Cileunyi, Bandung 25 Mei 2014
LF
Adakah derap langkah menghampirimu?
Dari dua titik embun yang bertemu menjadi satu
Kamu menunggu. Masih menunggu dan tetap menunggu
: lagu yang menjatuhkan angin, embun juga sunyi
Saban demi saban berlalu berganti menyusutkan usia
bintang-bintang tersemai di pekarangan lesung pipimu
sedang kau masih bukan apa-apa, dan memang bukan siapa
tangga-tangga rindu lepuh kau tapaki semakin
menelusur jalan untuk bertemu dengan penyebab dirimu ada
doa-doa terpanjat dari hati-hati orang mencinta
selintas atau khusyuk, formalitas atau benar ada
tapi Tuhan Maha Mendengar, sebab itu Dia akan mengabulkan
sekarang atau nanti, masih ada atau telah tiada
Ketika langit kau tembus dan semakin jauh dari pasar fana
tanpa hymne dan kue berlilin, hanya dengan tarian dalam mihrab
Lalu berdoa:
“Terima kasih, Tuhan. (masih) mengijinkanku menghela nafas. Untuk mengukir tari, menyulam rindu pada kerling tasbih hingga tubuh ini terkulai dalam dekap-Mu”
Selamat panjang umur Lina Fatinah.
Jiwamu semakin muda. Hanya bajumu yang tua, dan tulisan-tulisan yang kau simpan rapi lah yang kelak akan menjadi anak dan cucu-cucu bercerita, menapaki tentang euforia suka juga duka.
Bandung
LF
Mei 2014
Mengecup Crampon di Gletser UNPAD
02.10—Alarm berbunyi di mana-mana, angin dingin menelusup ke celah-celah baju membangunkan satu-satu peserta MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Mesjid Raya UNPAD.
Aku langsung bergegas mengambil air wudhu melewati orang-orang yang masih mengkatupkan pelupuknya di lantai 2.
Kaki menapaki lantai yang begitu dingin, sesaat setelah wudhu kaki ini melangkah ke teras Masjid, perlahan berjalan dan berjalan. Kutatapi dari sudut kanan hingga sudut kiri dengan slow motion. Pagi buta. Daun mengering merekat bersuara terbelai angin. Lorong-lorong menju tanjakan cinta UNPAD membeku dan menyimpan cerita, gedung Fakultas Kedokteran tertutupi daun-daun. Cahaya yang membias. Lalu tengadah dan kudapati bintang-bintang bertaburan menghiasi wajah langit. Angin dingin sepertiga malam mendekap semakin, lantai masjid membekukan jari-jari kaki. Seperti “Mengecup Crampon di Gletser UNPAD”
Sejenak—tertegun. Mata tiba-tiba menjadi hangat. Air mata menitik lembut di pipi. Tidak terasa, umur baru menyapa. Tepat pada tanggal 25 Mei 1993 Ibuku berjuang sekuat tenaga, antara hidup dan mati. Hanya demi melahirkan seorang anak dari rahimnya. Meski rahimnya meluruh, sakit peluh. Mamahku luar biasa, berhasil mengenalkanku pada dunia, membesarkan dengan penuh cinta dan tentunya seorang Bapak, yang tidak kalah luar biasa. Membesarkanku dengan keringatnya. Mereka aset dalam hidupku yang tidak akan pernah aku bisa tanpa mereka.
21 Tahun. Ya, 21 tahun menyapa diriku yang sedang berdiri tegap di teras Mesjid Raya UNPAD. Bintang-bintang menjadi saksi. Tanpa kue, tanpa lilin, tanpa lagu. Dan itu tidak lebih indah dari alunan suara-suara yang melantunkan ayat Al-Qur’an di dalam Masjid.
Dan tentunya tanpa ucapan-ucapan yang menjadi alarm pengingat tanda jatah menghela nafas di dunia semakin menyusut.
Lalu aku menghela nafas panjang sembari memejamkan mata dan berucap dalam hati:
“Terima kasih Ya Allah. Sudah memberikan umur yang panjang dalam hidupku. Semoga keberkahan Kau limpahkan. Aamiin”
Mamah, Bapak. Anakmu kini sudah dewasa. Terima kasih kuhaturkan, telah membesarkanku tanpa berkeluh akan lelah. Terima kasih sudah menjadi sosok yang patut menjadi teladan. Maafkan, aku belum menjadi seperti yang kalian impikan. Tapi selalu kuusahakan untuk menjadi yang terbaik di mata kalian. Doaku selalu.
UNPAD, Jatinangor
25 Mei 2014 || 2.30
Lina Fatinah
Alarm Kematian
Kriing.. kriing..
Alarm berbunyi
Kriing.. kriing..
Alarm mati untuk hidup
abadi, berbunyi
Kriing.. kriing..
Alarm pengingat kematian
berbunyi
Kriing.. kriing..
Satu pesan diterima;
“Selamat Mencicipi Umur Baru Lina Fatinah!”
Katanya
Ah, semua hanya menjadi alarm
: pengingat tanda bahwa jatah untuk menghela nafas berkurang.
Kriing..
kriing..
Hingga sunyi
dan tak berirama lagi
Cileunyi, Bandung 25 Mei 2014
LF