BISNIS CILOK MEDOK


     Hari ini adalah hari pertama saya memulai usaha baru, yakni menjual Cilok Medok. Why???  Yuk, ikuti sejarahnya kenapa saya bisa mulai usaha ini. “JASMERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Check this out!
 
     Berawal ketika perut keroncongan di dalam perjalanan, di tengah matahari yang menyapa lembut ubun-ubun, asap knalpot tersebar kemana-mana. Dari balik kaca angkutan umum (Angkot), saya melihat ada pedagang cilok yang di dorong, terlihat bentuk cilok yang kecil dan diantara botol-botol saus juga kecap terdapat pedas cabe merah yang menggiurkan lidah. Hanya selintas terlihat karena angkot melaju menuju kampus. Tiba-tiba, saya tergoda untuk memakan cilok itu. Membelinya? Bukan, bukan membeli dari si amang itu, bukan. Akan tetapi, saya ingin memakan cilok dari hasil buatanku sendiri. Tiba-tiba dalam benak terbersit untuk membuat dan menjualnya. Lalu mengingat ketika lagi ada acara kumpul keluarga, utamanya saya bersama adik juga kakak gemar sekali rasanya membikin makanan dari bahan aci dan terigu. Entah itu dijadikan cimol, ciwang, bala-bala, dan cilok tentunya. Bereksperimen di rumah selalu dilakukan setiap membuat acara sebelum tidur. Haha, Ya, kehangatan tercipta di tengah keluarga yang bersahaja dengan masak rame-rame hingga tak terasa dapur sudah berantakan dengan tepung aci dan tepung terigu. (Jadi rindu...)

        Next..
     Setelah ide itu muncul, saya simpan dalam memori untuk dibuncahkan nanti ketika pulang ke kobong. Hari itu, saya pulang kemalaman karena harus rapat di BEM-J (HIMA Hukum Ekonomi Syariah). Hingga akhirnya malam itu tidak ada waktu untuk istirahat lebih. Ketika hendak tertidur, dalam bayangan adalah tentang cilok yang tadi dipikirkan sepanjang jalan menuju kampus. Sampai membikin hati ingin segera pagi dan langsung membuat cilok tersebut, karena yang membedakan antara cilok yang akan saya buat dengan cilok yang sebiasanya adalah terletak dari tekstur, bentuk, dan bumbu rahasia.

     Keesokan harinya, saya langsung pergi warung. Benar-benar dah kalau yang namanya Lina Fatinah ketika sudah mempunyai keinginan yang kuat ya pasti diusahakn untuk diwujudkan. Hehe. Niat bener pagi itu saya mencoba membeli tepung aci, cabe hijau, dan bumbu racik. Sebelumnya saya sarapan dulu dong. Lalu masak dan bereksperimen dari apa yang saya bayangkan tentang cilok unik yang enak, lezat dan mempunyai ciri khas. Akhirnya satu persatu bahan dicampurkan. Singkatnya, jadilah cilok yang dibaluti bumbu cabe hijau. Saya pun langsung keluar kobong dan mengumumkan kepada teman-teman ada cilok enaaaaak. Akhirnya teman-teman pada nyamperin dan WOW! Antusias yang baik, mereka bilang ENAK! Wah, dari sana saya semakin yakin harus bisa jualan ini dan sampai menjadi bisnis besar. Oke Fix! Siang itu saya harus langsung pergi ke kampus menjalani rutinitas perkuliahan yang baru berjalan beberapa hari. Semester 6 guys! Hehe

     Ketika berangkat menuju kampus sebelumnya saya mampir ke warung khusus penjualan plastik, macam-macam bumbu kue dan lainnya yang semacam dengan itu. Di sana, saya menanyakan tempat yang bening dan tusukan. Tidak tanggung-tanggung, saya langsung membelinya satu pack yang berisi 200 tempat, ditambah tusukan. Setelah membeli itu saya langsung naik angkot. Di dalam angkot pun belum selesai memikirkan hal bisnis cilok. Saya menghitungkan ini dan itunya, termasuk keuntungan yang akan didapat juga kerugian jika terjadi kejadian yang tidak diharapkan.

     Setelah kuliah, akhirnya saya mampir lagi ke warung yang tadi pagi saya singgahi untuk membeli tepung aci dan tepung terigu. Kali ini, saya akan mencoba mencampurkannya dengan tepung terigu. Saya pun mulai memasaknya. Benar-benar dengan ketulusan dan kecintaan! Karena aku suka masak! Apalagi main-mainin tepung terigu haha.

     Dan ternyata! Wah! Satu mangkok besar saya masak malam itu. Seperti biasa, kehidupan di pesantren pasti terasa hangat jika makan bersama-sama. Akhirnya, itu cilok yang semangkok besar ludes sama teman-teman se-Asrama. Wah! Keren! Meski kepedesan hehe.

     Akhirnya, keesokan harinya saya mulai berjalan di usaha cilok. Saya membuat 2 mangkok besar. Saya masak dengan ditemani teman-teman, jadi tidak terasa lelah. 2 mangkok besar menjadi 14 bungkus. Saya menjual dengan harga 2.500. Di kobong laku terjual 6 bungkus, di kampus 8 bungkus dengan kekecewaan karena membawa sedikit. Haha.

     Lalu, apa yang menyebabkan namanya menjadi "CILOK MEDOK"? Awalnya sih, ketika pertama saya membuat cilok itu, dan teman manggil-manggil ingin cilok serasa ada "Pengen Cilok Medok".. Padahal setelah ditelusuri sih katanya tidak berkata seperti itu. Ah, mungkin itu nama yang turun dari Allah yang langsung singgah ke pendengaranku. Sebuah nama sebuah awal yang bagus. :)

     Alhamdulillah, akhirnya malam ini adalah saksi pertama bahwa saya sudah melakukan usaha cilok. Mau tahu royaltinya? Besar kah? Ya, of course. Hehe

     Harapannya sih, saya bisa membuka cabang dimana-mana cuman masih bingung saya seorang perempuan yang mau usaha dan masih bermodalkan dengkul saja. Hehe! But, Never mind! We must believe a dream come true!

     Saya juga ingin mempunyai mesin pencetak sendiri, karena setelah tadi merasakan masak 2 mangkok besar saja saya sudah merasa membuang waktu. Sebenarnya senang memang, tapi saya harus melakukan banyak hal. Bukan hanya itu saja. Aku harus fokus kuliah, belajar, mengaji di pesantren, organisasi, mengembangkan passion, meluangkan waktu untuk keluarga, sahabat dan teman dan juga kegiatan lainnya. Makanya, tadi sempat saya surfing di Google searching mesin pencetak bakso. Dan ternyata itu ada! Wah, saya benar-benar ingin mempunyai mesin itu. Semoga terwujud dan mempunyai cabang dimana-mana dengan dipegang oleh pegawai yang benar-benar membutuhkan pekerjaan atas dasar untuk keluarga, dan orang-orang tercinta. Doakan ya kawan-kawan :)

     Ternyata, ketika googling mesin pencetak cilok, ada juga kisah tukang cilok yang mendapatkan penghasilan 2000 perbulan! Funtastic! Bisa shodaqoh banyak tuh kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan.

     Begitulah ceritanya :) Mau mencoba cilok buatan saya? Pesan saja langsung ya! Hehe.


Faidza Azamta Fatawakkal Alallah. :)

Kind Regards,
Lina Fatinah