Tentang Rindu, Tuhan dan Filsafat

Sudah tak terhitung lagi jika kita membicarakan tentang rindu.
Ya, RINDU. Penyakit yang asyik untuk dinikmati seperti menenggak secawan anggur hitam.
Ah, rindu. Mengelumuti darah, tulang dan ronga-rongga dalam badan.
Setiap hela nafasku; rindu.
Rindu yang menghantarkanku pada perut bumi, mihrab, altar-altar dan kubur-kubur.
Barangkali. Dalam titik embun pagi, dengusan nafas, sirus, kabut, hujan dan peti sunyi; di sana ada rindu yang lepuh—jauh dari pasar fana yang menenggelamkan jiwa-jiwa yang disebut manusia. Mereka lupa pesan Tuhan, terlena dengan dunia semakin dalam, dan dalam. Tidak salah juga para filsuf yang keluar mencari Tuhan, padahal tak perlu jauh-jauh mencari Tuhan, Tuhan ada pada dirimu, Sayang.

20/12/13
LF