Piala Rendra pun tiba. Aku harus bergegas pergi ke ledeng
dan menginap di sana. Kebetulan ada teman (Mbak Septi) yang punya kos dekat
UPI, jadi aku bisa menginap di sana.
Sore hari aku baru sampai di UPI, ternyata Ayah Iwan B.
Setiawan sudah duduk di taman Isola sedang mengajarkan baca puisi kepada
temanku yang akan ikut lomba juga. Namun aku menghampiri Hilmi (temanku yang
sekampus dan pindah ke UPI), setelah bersua aku langsung menghampiri Ayah Iwan
B. Setiawan, aku pun langsung latihan membaca puisi di sana. Setelah menjelang
maghrib, aku langsung pamit karena akan tidur di tempat kos Mbak Septi.
Matahari pagi menyapa dengan lembut, masuk ke bilah-bilah
rumput isola. Aku sudah janji bertemu dengan Ayah Iwan B. Setiawan di taman
Isola untuk berlatih kembali. Beberapa menit kemudian, ternyata ada Sandi,
Khoer Jurzani dan anak didiknya yang akan ikut lomba juga. Banyak juga
sainganku. Duh.
Di sana, kami latihan baca puisi. Hati degdegan karena mendapatkan nomor urut 4. -_- apapun, harus siap,
dan harus siap menang atau kalah huhu
Setelah jam 08.00 kami langsung memasuki gedung GBSI UPI di lantai 2. Melihat peserta lain membikin hati berlipat kali berdegup.
Aku pun langsung menampilkan kebolehanku. Membacakan puisi
W. S. Rendra “Perawan Tua”
Di sana, aku bertemu dengan Fasha dan Kartini yang juga ikut
lomba.
Sore hari, kami bersua di taman Isola bersama. Menunggu esok
malam tiba pengumuman.
Malam itu, setelah juri menjelaskan penilaian. Diumumkanlah siapa
juaranya. Ternyata, aku belum juara di tahun ini, namun temanku Fasha menjadi
juara 2. Aku ikut bahagia.
Harapanku, semoga di tahun depan bisa menjadi salah satu
juara Piala Rendra :)
Aamiin




