OSPEK MABA (Mahasiswa Baru)



Ketika kabut masih menyelimuti, udara dingin mengecup tulang-tulang. Baju putih, kerudung putih dan rok hitam kukenakan. Pagi itu, dengan semangat yang membara aku berangkat dengan temanku Galuh dan Muthi dari Antapani Residance menuju kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ospek— Ya, inilah saatnya aku melaksanakan tugas awal yang menjadi tuntutan bagi Maba (Mahasiswa baru). Kebahagiaan menjelma, karena pada akhirnya aku akan beranjak dari seorang siswi menjadi seorang Mahasiswi , aku akan menerjuni dunia yang jauh sekali warnanya dari masa SMA yang masih abu. Dunia yang pasti berbeda, tentunya lebih njelimet dikata orang. Apapun itu, aku sudah siap. Seperti Spongebob yang selalu mengawali harinya dengan teriakan “aku bisa aku bisa aku bisa”.
Mimpi-mimpi terbayang, dunia seolah terbuka dan menyapa. Hari pertama mengikuti ospek universitas sangat mengasyikan, empat ribu maba berkumpul di aula bersama mengikuti ospek universitas. Dari sana aku mempunyai banyak sekali kenalan baru, lebihnya karena mungkin rasa sosialis aku yang tinggi dan mudah akrab dengan seseorang. Jadi, masalah beradaptasi mudah kuterjuni. Aku duduk paling depan saat itu, dengan bangganya aku bisa tepat berada satu arah dengan tempat duduk rektor di didepan, sehingga aku bisa melihat lebih jelas kepada rektor, guru-guru besar, dekan beserta staff jajarannya. Sebelumnya lagu kebangsaan dialunkan bersama, dengan berdiri tegap semua menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, ada sambutan dari panitia, pun rektor yang berbicara panjang lebar dan yang lainnya. Setelah acara formal selesai, acara-acara dari panitia pun saling bersusulan satu-satu termasuk pawai unit kegiatan mahasiswa, yang mana mengenalkan semua UKM yang ada di kampus dengan penampilan-penampilan dari setiap UKM. Dari sana mahasiswa baru jadi mengetahui seluk beluk masing-masing UKM.
Setelah hari pertama ospek selesai, aku pun kembali ke Antapani Residance bersama Galuh dan Muthi, kami hanya bertiga mengisi satu rumah yang ditinggal oleh saudaranya Galuh.
Hari kedua ospek, semua mahasiswa baru dipisah sesuai fakultas. Aku pun kumpul bersama teman-teman yang sejurusan dan sefakultas. Di sana, ada pengenalan kepengurusan fakultas, dari mulai dekan, pembantu dekan, ketua jurusan, sekretaris jurusan dan yang lainnya. Pun menjelaskan tentang selayang pandang fakultas.
Beberapa minggu kemudian, dilanjut dengan ospek jurusan dengan nama Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM). Wah, ternyata.. di sini lah aku baru mengetahui “konsolidasi” dari kakak tingkat terhadap adik tingkat. Di sana benar-benar membuat seluruh maba ketakutan dengan ayal kakak tingkat yang menjadi komdis (Komisi Disiplin). Baru saja tidur 2 jam maba langsung dibangunkan dan disuruh keluar mengambil air wudhu, semua yang maba lakukan serasa salah, semua disalahkan, kaki gemetar seperti hendak copot berjalan di tengah hutan dalam gelapnya malam. Ditakut-takuti dengan bermacam tindakan. Ah, ini benar-benar seperti pelatihan TNI. Gerutu temanku. Saat makan saja sulitnya minta ampun, pokoknya kurang tidur, kurang makan, lelah, jantung berdegup kencang, kakak tingkat yang menjadi komdis selalu memarahi. Aku tahu, ini adalah uji mental. Aku selalu mengacungkan tangan ketika komdis mulai memarah dan aku di sana kritis, berbicara meski lutut gemetar pengaruh dari suara bentakan dari semua komdis. Bentakannya membuat sebagian maba pingsan. Wah, horor deh kalau inget masa-masa ospek jurusan :D
Tapi, Alhamdulillah setelah selesai ospek jurusan selama 3 hari 4 malam aku benar-benar mendapatkan banyak bekal, dari mulai keberanian, kritis terhadap yang tidak benar dan lain-lain hehe. Dan bersyukur, aku bisa menjadi salah satu maba terbaik di jurusan. J
Dari sana jadi menambah value dan keeksisanku di kampus, kakak tingkat jadi mengenal dekat, apalagi yang satu angkatan hehe