Tepat pukul 05.30 di lantai dua
asrama Al-Muhajirot, Ponpes Al-Jawami Cileunyi, Bandung. Saya menatap langit
yang begitu megahnya. Dengan gulungan awan yang berwarna merah jambu
bergradasi, biru yang tenang menjadi figura. Allah sudah melukiskan semua ini
di wajah langit, agar supaya kita mensyukurinya. “Lalu nikmat yang mana lagi
kah yang kalian dustakan?” Q.S Ar-Rahman.
Alhamdulillah, aku awali pagi ini
dengan Bismillah, dan memanjatkan syukur atas karunia-Nya yang telah diberikan.
Betapapun, aku tidak akan bisa membalas semua nikmat-nikmat yang bertelekkan
ini. Subhanallah.
Aku suka memandang langit lebih
lama, karena dari sana kita bisa bertafakkur dan merasakan lebih dekat dengan
Allah ketika kita tahu bahwa semua yang diciptakanNya tidak ada yang sia-sia.
Beberapa menit kemudian wajah
langit berubah, gulungan awan merah jambu tadi menghilang perlahan dan berubah
menjadi biru. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan laptop pun buku-buku yang
berserakkan. Aku menulis.
Ketika menulis laptop tiba-tiba
saja mati, ternyata lowbatt. Aku pun langsung memasukan charger, sekedar ingin
menghembus udara segar pagi, aku kembali ke luar dari lantai dua asrama.
Melihat langit dan menghirup udara yang tidak pernah dibeli ini. Sungguh,
betapa Allah Maha Segalanya.
Lalu, aku melihat ke arah bawah,
ada anak lelaki yang masih duduk di bangku SD dan memanggil nama temannya
“Mi...Mi...” sudah biasa anak lelaki kecil itu datang menjemput teman ke
rumahnya yang tepat berada di bawah asrama yang kutinggali. Lalu Bapak yang
punya rumah itu bicara ke anak lelaki kecil “Satu hari lagi mungkin Za.. masih
sakit”. Ternyata teman yang sedang dia jemput itu jatuh sakit beberapa minggu
ini. Lalu anak lelaki kecil itu langsung meninggalkan tempat sambil berkata
“oh..iyaaa”
Melihat anak lelaki kecil itu
mengenakan celana dan baju merah putih, menggendong tas yang kegedean dan
menjemput temannya untuk berangkat bareng, jadi ingat ke beberapa tahun lalu.
Ketika saya duduk di bangku SD.
2000—Tahun Milenium. Saat itu aku
baru masuk ke kelas satu SDN Jambudipa 3. Saat itu pula menginjak tahun
milenium. Aku tidak tahu apa arti milenium ketika itu sebenarnya, hanya saja
ada di tas tertera nama “2000 Milenium” dengan figura yang berbentuk oval.
Hingga sekarang masih selalu saja ingat dengan tulisan “2000 Milenium” yang ada
di tas itu. Ternyata, sekarang tahu bahwa Milenium adalah bilangan untuk tiap
jangka waktu
seribu tahun
dalam kalender.
Tahun 2000 disebut sebagai awal dari alaf baru dalam memasuki alaf ketiga
(tahun 2000 sampai tahun 2999).
Saat duduk di bangku SD, teman
dekatku adalah Irman. Dia lelaki yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
Sehingga setiap saat ketika hendak bermain pasti bersamanya. Atau kalau tidak,
sama Mukit dan Muhajir juga. Teman-temanku mayoritas lelaki, karena saat itu di
sekitar rumahku tidak ada anak perempuan yang sepantaran. Saat itu juga ketika
hendak berangkat sekolah, pasti bersamaan. Akulah orang yang dijemput oleh
teman-temanku. Ketika berangkat dan pulang kita suka lari-lari menelusur gang.
Indah sekali.
Hingga duduk di bangku SMP, aku
masih tetap suka dijemput oleh Irman, Mukit dan Muhajir untuk berangkat bareng.
Lucunya, atau anehnya.. aku seorang perempuan yang suka telat, malah pernah suatu
waktu. Irman, Mukit dan Muhajir sudah memanggil-manggil namaku di depan rumah,
sedang aku masih tertidur di kamar. Membikin aku cepat-cepat bergegas. Pagi
masih berkabut, kami berempat berangkat bersama menaiki angkot karena jalan
yang ditempuh menuju MTsN Rancagoong lumayan jauh, memakan waktu 25-30 Menit.
Awalnya kami berempat takut, karena belum biasa pergi jauh naik angkot tanpa
ada orang tua yang menemani. Akhirnya kami saling melindungi. Ketika hendak
pulang pun kami berangkat bareng. Indah sekali jika mengingat-ingat ke masa
itu. Wajah berbinar, dan senyum yang merekah setia menemani.
Tidak terasa waktu sudah
menghantarkanku ke kepala 2. Saya sedang mengenyam studi S1 di Bandung. Sedang
temanku yang bertiga itu masih tetap tinggal di Cianjur. Irman kuliah di UNSUR
Cianjur, Mukit dan Muhajir mesantren di pondok pesantren yang memang dekat
dengan rumah kami, yaitu Ponpes Darul Falah. Pondok pesantren peninggalan dari
eyang-eyang kami.
Betapapun, aku masih mempunyai
kenangan indah di saat masih kecil. Kenangan yang abadi, yang akan menjadi
saksi bahwa Aku, Lina Fatinah menyimpan kenangan dengan rapi.
Salam
Bandung, 10/05/14
LFE