Kesepian di Ponpes



15.40 WIB
10-01-13
Sore ini, hujan turun begitu deras. Asrama sangat sepi seperti rumput hijau atau air payau yang berjelaga. Aku sendiri di kobong (sebutan kamar di Pondok Pesantren). Teman-teman yang lain sudah pada pulang ke kampung halamannya, ada juga yang mengisi waktunya berlibur ke tempat-tempat wisata. Sedangkan aku masih berdiam diri mengisi hari dengan sepi, sunyi, secarik kertas, ballpoint, laptop, modem, dan instrument music yang melankolis. Aku sedih sebenarnya jika dirasa-rasakan, melihat teman yang mungkin sedang tertawa bahagia mengisi hari dengan orang-orang yang dicintainya sedang aku berpijak mencari celah-celah cahaya sendiri dan buahnya untuk orang-orang yang aku cintai. Ah, tak sepantasnya pula aku meratapi hal ini, aku rasa kesedihan ini perjuangan, dan aku harus tetap menjalani sebagai mana mestinya, hidup ini harus mereguk pil pahit terlebih dahulu kawan, barulah menikmati minuman dan buah yang manis dicicipi nanti.
Kemarin sempat datang teman satu kobong, sayangnya dia hanya mengambil barang dan pergi berlalu kembali untuk mengisi liburan bersama kawan-kawannya di sana. Setelah dia pamit, air mata tak tertahan dan menangis karena kesepian sebenarnya. Namun pada akhirnya, kesepian memberikan makna yang dalam, bahwa kita masih perlu orang-orang yang kita cintai dan kita masih butuh orang-orang untuk menemani karena kita tidak bisa hidup sendiri, dengan itu kita harus berjuang dulu sekarang untuk orang-orang yang kita cintai. Berjuang untuk membuat senyum dan bangga pada orang-orang yang kita cintai. <3 span="">
Alasan mengapa aku harus dan masih tetap di sini adalah karena banyak hal yag harus aku selesaikan, dari mulai mengurusi surat, kartu rencana studi, khususnya mengaji di Pondok Pesantren tidak libur. Pun yang sedang saya garap adalah planning magang di Radio Elshifa FM Subang, jadi saya harus mengisi hari libur di sana. Baiklah, semua yang diperjuangkan akan ada hasilnya, meski itu kecil tapi akan berpengaruh kedepannya nanti, entah itu jangka pendek ataupun jangka panjang. Yang jelas saya harus tetap semangat, sabar, istiqomah menjalani apa yang memang harus dijalani, meski itu harus melewati berbagai terjalan, seperti kesepian ini misalkan yang menjadi penghalang saya untuk terus berlanjut.
Alhamdulillah, mengurusi urusan surat dan kartu rencana studi sudah selesai, baru saja tadi siang dirampungkan. Sekarang hanya menunggu kabar dari Kantor Radio Elshifa FM. Jenuh sebenarnya, saya ingin segera pulang dan menikmati suasana hangat di tengah keluarga. Atau mengisi liburan ke papua, bali, Singapore atau Malaysia yang sudah aku agendakan, sayang rizkinya tidak ada hehehe, mesti mengeluarkan budget yang lumayan. Daripada minta uang ke orang tua dan menghamburkannya mending menikmati perjuangan sekalipun menyakitkan hehehe*Think Again*.
Betapapun, nanti pasti ada saatnya. Apapun itu. Yakin.
Sekarang, untuk menutupi tulisan yang singkat ini mari berdoa:
“Tuhan, berikan yang terbaik, dekatkan dengan rizkimu, lapangkanlah, lindungilah. Sukseskanlah aku sesukses-suksesnya di usia semuda mungkin, kayakanlah aku sekaya-kayanya, kaya hati, kaya ilmu dan kaya harta, sejahterakanlah dan damaikanlah” Aamiin.