Sirus, kau kah itu?
aku sengaja bertamu lebih awal
melihat rona merah jambu dipenghujungmu
dan bintang yang masih lekat dalam pelukan
Di sini dingin. Tanpa mantel, secangkir coklat hangat, atau kursi goyang
Aku ingin mengabarimu. Ah, mungkin kau sudah tahu, bahkan lebih tahu dulu dariku
: Tentang kepergian seorang berkalung dandelion atau mata kaca buku-buku
Sekarang, dia pergi menanggalkan—begitu saja.
ini bukan tentang menanggalkanmu, atau yang lainnya. Tapi menanggalkanku.
kau tahu? Alifku tak utuh kembali. Aku di sini sendiri (lagi)
tanpa wujud nyata yang setiap saban setia bercerita padamu
rupanya cerita seperti ini yang mengurat
dipertemukan lalu sekejap saja Dia pisahkan.
Ini sebuah keputusan, bukan paksaan
semoga dipertemukan kembali di bawah sirus yang Ia ciptakan; pintaku
Dan menjamah dunia seutuhnya.
Tak sadar tenggelam dalam lamunan. Perlahan embun dan langit hitam tersapu oleh mentari
Membikin kau yang tampak seperti bayi dilahirkan menjadi sirus dengan kristal es seutuhnya
Kau kawanku yang setia, tidak akan pergi menanggalkan. Atau hilang dikecup malam.
Bandung,
LF: 19/08/13 Pagi ini