Senja itu kelabu, mungkin akan
turun hujan deras sambut datangnya malam. Badanku terkulai lemah terbaring di
atas kasur. Sudah tiga hari tiada daya dan upaya. Sore itu, keluarga akan
membawa aku ke dokter. Raga ini benar-benar terkuras lemah, kaki pun tidak bisa
dijalankan. Karna mamah aku tidak kuat menggoyong aku, tiba-tiba tetangga dan
santri-santri menghampiri aku ketika di teras depan, dan mengangkat tubuh ini
sampai depan jalan. Saat itu aku antara sadar dan tidak sadar. Pelupuk mata
yang sudah tak tertahan. Aku terlentang diatas tangan-tangan mereka. Terdengar
suara-suara dengan nada cemas dan khawatir ke telinga sepanjang gang kecil saat
itu. Ketika sampai di depan jalan, aku di dudukan di kuris teras depan rumah
saudaraku. Ketika mata aku coba buka perlahan, orang-orang sudah mengkerumuni
tubuh ini, mengusap-usap kening, meremas lengan kecilku yang tak berdaya. Entah
apa yang harus aku katakan saat itu, bibir ini membisu hanya pusing, mual dan
perih yang ku rasa. Orang-orang tersenyum sedih melihatku. Suara-suara haru
mereka masih terdengar ketika aku diangkat ke dalam mobil. Semua wajah
orang-orang yang berkerumun tadi tertuju ke arahku—mobil melaju—berlalu.
Setelah sampai di ruang dokter, hujan
begitu deras. Sedih rasanya melihat suasana saat itu. Aku pun selesai diperiksa
dan pengambilan darah,ternyata keadaanku semakin parah hingga perlu perawatan
intensif. Keluarga berniat membawa aku ke Rumah Sakit besok pagi. Malam itu
hujan angin besar sekali, aku langsung di masukan ke dalam mobil dan pulang. Di
dalam mobil, aku sandarkan tubuh ini kepelukan mamah. Aku melihat wajahnya
tampak air mata berlinang di pipinya tersorot lampu-lampu etalase di jalan
raya.
“mamah, kenapa menangis?”
“makanya kamu cepet sembuh,
jangan sakit” dengan nada sendu mamah menjawab.
Aku tahu, mamah pasti sedih
melihat keadaanku seperti ini. Aku jadi sedih karna sudah membuat mamah
menangis gara-gara aku. Aku usapkan kepala ke dada hangat mamah.
*
*
*
Air hujan gerimis menitik di
pipi, tubuh dan kakiku. Ketika aku di angkat kembali keluar dari mobil. Tubuh
terlentang di atas jemari-jemari mereka dibawah langit hitam kelam—hujan. Aku
langsung dimasukan ke kamar dan di tidurkan, di rumah saudara yang di sisi
jalan. Sedang mamah dan bapak kembali ke rumah, aku dititipkan bersama
saudaraku. Karena besok pagi akan langsung berangkat ke Rumah Sakit agar tidak
perlu repot di angkat jauh jalan gang terlebih dahulu.
Malam itu aku tidak bisa tidur,
terus-terusan mual, perih dan cegukan. Hujan di luar juga semakin deras, suara
petir terus merambat ke jendela kamar. Beruntung ada saudara yang tiada
henti menghiburku, setidaknya aku jadi bisa tertawa kecil hambarkan luka akan
kehumorannya. Dia terus menyemangati, bahwa aku masih bisa untuk sembuh, dia
meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.
Pagi pun tiba, tampak
saudara-saudara sedang disampingku yang semakin melemah. Wajah mereka tampak
khawatir dan terharu, namun aku tetap tersenyum kecil karena tidak ingin semua
jadi sedih karna keadaanku. Banyak kata-kata yang mereka keluarkan: cepat
sembuh ya, semangat ya, nanti sembuh yang sabar aja, nanti ini-nanti itu,
apalah itu kata-kata yang terus terngiang ditelingaku. Mereka terus mengusap
kening, kaki, dan tanganku. Lalu, mamah dan bapak datang. Aku pun langsung
dimasukan ke dalam mobil.
Setibanya di IGD, tubuhku
yang dipangku langsung di dudukan di kursi roda oleh petugas desa yang
ikut membantu. Ketika terduduk di kursi roda, ada dokter yang aku kenali, dokter
itu juga mengenaliku. Kita saling bersua, karena sudah lama tak berjumpa—kita
bertemu saat sama-sama bertugas di pengobatan gratis di kampungku. Kebetulan
aku disana di tugasi memanggil para pasien yang berobat. Dan bapak dokter
inilah yang mengobatinya bersama dokter yang lainnya.
“eh, bapak” ucap aku sambil
melambaikan tangan dan tersenyum senang melihatnya.
“eeh, kau” sambil membalas
lambaian tanganku dan menghampiri.
“haduh, kenapa? Ketemu-ketemu
lagi kok sudah kaya begini?” tanya bapak yang berpenampilan rapi, cool, cakep
dan kaca mata yang agak turun ke hidung 2 cm.
Disana kita ngobrol-ngobrol. Dan
aku langsung di beri infusan oleh perawat lelaki. Dan ternyata perawatnya pun
mengenali orangtuaku.
Pemuda yang bertampang korean,
berparas, rapi dan sopan itu menyapa orang tuaku.
"Ibu, bapak. Ini aku Asep,
anaknya Bapak Ujang" ucap pemuda itu sambil menyodorkam tangan
"Oh, iya. Dikira siapa.
Nambah cakep aja, nak" jawab orang tuaku
"hehe, bisa saja pak,
bu" mereka tersenyum-senyum.
Lalu pemuda itu menyuntik aku
kembali
“sebentar ya, takutnya kena
infeksi” ucapnya
Ketika di suntikan di tangan,
terasa sakit sekali. Aku langsung menendangkan kaki ke kaki dia, karena kesakitan.
“Sebentar..sebentar. Tahan ya,
tidak sakit kok” ucapnya
Lalu, dia beri tanda di bekas
suntikan itu. Ternyata aku tidak terkena infeksi.
Aku pun senang di sana, karena
banyak dokter yang mengenali. Hingga aku pun langsung ditangani, tidak seperti
pasien-pasien lainnya yang sudah 2-3 hari masih di ruang IGD belum dipindahkan
ke ruang Instalasi Rawat Inap. Karena ruangannya penuh. Mereka tidak
seberuntung aku. Perawat pria yang bernama Asep itu langsung menelfon semua
ruangan-ruangan untuk disisakan satu. Tidak lama kemudian, aku pun langsung
dipindahkan ke ruang Instalasi Rawat Inap, tepatnya di ruang samolo lantai dua
kamar nomor satu dengan nomor rekam medis 48-38-21.
Aku langsung di istirahatkan di
sana. Karena banyak perawat-perawat yang mengenal keluarga, jadinya setiap saat
tiada henti perawat datang melihat keadaanku, dan perawat-perawat itu pun
memberikan motivasi-motivasi baru saat aku diinjeksi olehnya.
Di hari pertama banyak sekali
keluarga yang datang satu persatu. Dan ketika sorenya datang sahabatku, Neidya.
Dia menangis ketika tiba di ruangan, dia duduk di samping memegang tanganku
yang lemah ini. Mungkin dia sedih melihat keadaanku yang sudah tak berdaya ini.
Lalu, beberapa menit kemudian dia menyuapiku makan nasi tim, dia pun
menghiburku saat itu, membacakan cerita-cerita lucu dari Majalah Isma, kita
tertawa kecil. Aku senang dibuatnya. Tapi dia segera pulang, karena senja sudah
berlalu menjelang malam. Dia pun pamitan kepada orang tuaku, dan menyimpan
kecupan hangat di keningku.
Malam pertama aku tidak bisa
tidur, tiada henti muntah-muntah, makanan pun tidak aku makan karena mual.
Lalu, datanglah perawat dan memeriksa aku. Setelah muntah-muntah nafasku
tersendat, tanganku dipegang oleh perawat itu.
"Lina..lina..istighfar"
ucap perawat itu
sedang aku tak bisa bernafas,
mamah duduk di samping mengusap keningku. Lalu, perawat itu memanggil perawat
pria untuk membawakan oksigen. Ketika selang oksigen dimasukan ke hidungku, aku
merasa nafasku terbantu tidak tersendat lagi. Dari sana aku sangat lemah.
Mataku berlinang air mata, tanganku di pegang oleh perawat.
"gimana lina?
Lina..lina.." dia mengangkat tanganku dan menjatuhkannya, dia mencoba
melihat apakah aku masih kuat?
Saat itu benar-benar tak
berdaya, perawat tiada henti manggil nama aku dan menyuruhku beristighfar.
"lina..lina..jawab
lina"
"iya.." aku mencoba
menjawab, namun anehnya mereka tidak mendengar suaraku, sampai aku menjawab
yang ke tiga kalinya baru mereka mendengar suara aku.
"iya" jawab aku dengan
sendu
"sudah ya, istirahat.
Jangan mikirin apa-apa. Tugas sekolah di simpan dulu. Yang penting lina sembuh
agar nanti bisa sekolah kembali, ya." ucap perawat itu, aku hanya
mengedipkan mata. Perawat pun keluar dari ruanganku.
*
*
*
Pagi pun tiba. Sekitar jam 07:00
ketika aku keluar dari WC, sudah tampak dokter, perawat dan empat pemuda-pemudi
yang mengenakan jas putih, kelihatannya calon-calon dokter. Lalu, mereka
mengkerumuni kasur yang aku tiduri, dan dokter itu bertanya tentang keadaanku.
"apa yang di rasa pagi ini,
Lina?"
"masih mual, perih dan
lemes"
"kenapa bisa di
rawat?"
"karena di suruh sama dokter
lain sebelumnya"
"oh, jadi karena di suruh
dokter kamu jadi di rawat, gitu?" ucap dokter yang duduk di sampingku
sambil menurunkan kaca matanya ke hidung, mengangkat alisnnya, dan melihatkan
matanya kepadaku dengan tersenyum konyol. Membuat semua pemuda-pemudi dan
perawat itu tertawa renyah.
"oh, enggak pak. Maksud
saya karna keadaanku yang semakin melemah, hehe" semua tersenyum kepadaku
"coba bangun dulu sebentar
ya"
Aku langsung dibangunkan oleh
dua pemuda di sampingku. Sedikit-sedikit setelah dokter bertanya tentang
keadaanku, dia langsung memaparkannya ke empat pemuda- pemudi itu. Aku jadi
penasaran sebenarnya mereka sedang apa dan kenapa?
"maaf pak, kalau boleh
tanya sebenarnya ini sedang apa?" tanya aku sambil mengerutkan kening
"kita kan sedang
berdiskusi" dokter menjawab dengan nada kekonyolan dan senyum ceria
kepadaku
"hmm, sedang co-ast
yah?"
"iya, ini dari UNPAD
(sambil menunjuk ke dua pemuda), dan yang cantik ini dari UMJ"
"oh.." aku tersenyum
ke empat pemuda-pemudi itu mereka pun tersenyum
"kamu sekolahnya dimana?"
tanya dokter
"di MAN Cianjur"
"dia juga dari MAN Cianjur
hehehe" sambil menunjuk ke salah satu pemudi itu
"ah, bapak ada-ada
saja"
"teteh dari UMJ kan?"
tanya aku ke pemudi itu
"iya, hehe" sambil
senyum
"nanti kamu mau pilih yang
mana? Ke UNPAD ke UMJ?" tanya dokter
"hehe, yang mana aja deh,
ditunggu saja" aku jadi malu, mereka semua tersenyum ceria
Lalu, mereka pun bergegas keluar
karna pemeriksaan sudah selesai.
Pagi itu senang sekali, karena sudah
bisa bercanda bersama dokter, perawat, dan pemuda-pemudi yang ganteng dan
cantik-cantik itu. Membuatku membayangkan nanti kedepannya aku akan seperti
mereka untuk mengambil jurusan kedokteran di kuliah nanti. Hihi..ah,ngayal !
Disana juga aku sempat merasa
jemu dan menangis sendu. Karena merasa bosan tidak bertemu kawan-kawan, aku
rindu suasana sekolah, kelas yang selalu ramai, sudah lama tak ku jumpai itu
semua. Tapi, pada keesokan harinya mereka datang, teman-teman dari kelas people
sains empat berduyun-duyun datang ke rumah sakit. Saat itu aku senang sekali,
bisa melihat senyuman teman-teman, mereka menghiburku, menyemangati, dan
memberikan sesuatu yang sangat aku sukai. Mereka juga berfoto bersama di
sampingku, aku jadi malu, wajahku yang pucat tak berpenampilan di foto-foto,
padahal kalau aku sedang sehat aku lah yang paling suka di foto, memang aku
fotogenetic. Ha ha
Dengan kedatangan mereka, aku
nambah semangat untuk cepat sembuh. Di malam harinya aku nangis, ingin cepat
pulang. Merindui semua yang telah lama tak kujumpai. Tiada hari di sini selalu
sepi, perawat tiada hentinya bolak-balik menginjeksi, mengganti infusan,
mengontrol tabung oksigen.
*
*
*
Pagi itu hari ke tiga aku di
rawat. Dokter melihat dan memeriksa keadaanku. Setelah dokter memeriksa, dengan
senyum yang melebar dokter berkata "Oke, kamu bisa pulang hari ini"
Senangnya saat itu, aku langsung
tersenyum kepada mamah yang duduk di sampingku. Mamah aku pun terlihat bahagia.
Mamah langsung di suruh mengambil obat untuk aku di rumah dan mengurus
surat-surat. Sambil menunggu semua urusan kelar, aku menelfon teman-teman dan
memberitahukan kabar baik hari itu. Merekapun tampak ikut senang, suara mereka
di telfon sangat seru. Membuat aku ingin cepat-cepat masuk kelas.
Ketika jam dua siang, semuanya
beres, barang-barang pun sudah siap dibawa pulang. Aku langsung dipindahkan ke
kursi roda dan pamitan kepada semua pasien di ruang samolo sana. Melihat
wajah-wajah pasien yang lain tampak ingin seperti aku yang hanya cukup di rawat
tiga hari dua malam saja. Sedang mereka sudah berpuluh hari di sana di rawat.
Mereka ikut bahagia melihatku bisa pulang."semoga sembuh ya kedepannya,
selamanya" ucap para pasien disana.
Aku tersenyum, dan berkata
"semoga cepat sembuh juga ya".
Aku langsung di dorong keluar
oleh petugas Rumah Sakit. Para perawat melambaikan tangannya ketika aku hendak
pergi dan tersenyum.
Jiwa dan hatiku yang sudah
terselubungi dengan kegembiraan, terbersit senyum dari bibir kecilku. Dengan
perlahan melaju, aku lirik kanan-kiri melihat semua ruangan-ruangan di
sepanjang koridor rumah sakit. Berharap semoga tidak akan kembali di rawat,
kecuali aku kembali menjadi orang penting di sana. ^_^
Dengan haru-biruku tersenyum
sepanjang koridor RS sambil mengenang semua dan merekam perjalananku. Sedang
mamah dan bapak di belakangku. Sesampainya di tempat pemarkiran mobil, aku
langsung di masukan ke dalam mobil dan pulang. Sepanjang jalan aku tampak
bahagia, dan tiada hentinya aku bertahmid panjatkan syukurku. Ketika tiba di depan
jalan menuju rumahku, semua orang di jalan menghampiri kedatanganku, aku pun di
dudukan di kursi depan rumah saudaraku. Semuanya tampak senyum bahagia, aku pun
tersenyum kepada mereka. Banyak ucapan syukur yang keluar dari mulut mereka,
ketika di depanku.
"Alhamdulillah ya Allah,
terimakasih"
"akhirnya pulang juga,
Alhamdulillah"
Dan kata-kata syukur yang
lainnya.
Dan semua orang yang berkerumun
di depan aku yg terduduk berkata-kata kepada orang tuaku. Bahwa melihat
keadaanku kemarin ketika hendak dibawa ke rumah sakit sepertinya sudah tidak
ada harapan lagi, dikira mereka aku akan pergi untuk selamanya, sepertinya
tidak akan lama lagi, dan pikiran mereka ternyata sama seperti keluargaku,
terutama Ibuku sendiri. Yah, begitulah ternyata pikiran mereka waktu itu. Aku
terdiam saja saat mereka berkata-seperti itu dan tersenyum mendengarnya. ^^
Ternyata, pikiran semua orang
saat itu terhadapku seperti itu. Huhu
*
*
*
Setelah beberapa menit di sana,
aku langsung di gendong oleh bapak ke rumah karena aku masih lemah. Sekitar
beberapa meter dari jalan untuk sampai rumah. Sepanjang gang, aku tertawa.
Karena aku yang sudah gede, sudah remaja di gendong sama bapaknya. Ya
ampuun..hehe
Aku senang sekali saat ada
dipangkuannya, dia rela berat-berat membawa aku. ^_^
Tetangga-tetangga pun
menghampiri dan datang ke rumahku. Mereka ikut senang atas kepulanganku.
Sepulang dari rumah sakit, banyak
sekali kerabat, saudara, dan tetangga-tetangga yang datang ke rumah setiap
hari. Aku pun merasakan senangnya.
^_^
Semoga semua ini pelajaran
hidup bagiku, untuk bisa lebih hati-hati lagi menjaga kesehatan. Karena sehat
itu nikmat dari Allah yang sangat mahal dan berharga.
Kesehatan ada di tangan
kita, kembali ke kita bagaimana kita menjaga titipan dari yang kuasa. Dengan
kesehatan semua mimpi-mimpi yang sudah kita gantungkan di langit sana, bisa
kita gapai dan bisa kita kejar dengan segala usaha dan ikhtiar.
Semoga untuk kedepannya aku
sehat selalu, dan beraktifitas dengan semestinya. Mengikuti kegiatan belajar di
sekolah, mengaji, membantu ibu, melanjutkan studiku, itu pun kalau ada nasib.
Semoga aja ada nasibnya yah :)
Dan semoga citaku dapat aku
raih, dapat membanggakan orang tua. Dan apa yang aku lakukan di dunia ini
hanyalah semata karna Allah untuk menggapai ridho-Nya. Aamiin.
Terimakasih untuk kedua orang
tua saya, kakak adik, keluarga, sahabat dan semua orang yang telah menyayangi
saya, yang selalu setia ada untuk saya.
Semoga keberkahan dan rahmat
berlimpah kepada kehidupan kita.
Tidak lupa kepada sahabat, yang
telah membaca note saya ini sampai selesai. Ada pesan terakhir dari saya:
Gantungkanlah harapan-harapanmu
hanya kepada Allah SWT.
Percayalah, Allah selalu
disampingmu.
Cianjur,
24 September 2011
di balik jendela ruang tamu.
^_^