Ini kisah tentang aku...
Di pagi buta, dimana burung masih mengurung dalam sangkarnya, embun masih berjatuhan dari dedaunan, percikan butiran air tersusun di ujung-ujung rumput, hawa basah dan dingin yang menusuk rongga-rongga dalam tubuh.
Aku berdiri di ruang tamu melihat keadaan luar rumah yang masih gelap kelabu dari balik kaca. Lalu, aku duduk di sofa menghadap ke jendela dimana persawahan tepat berada di belakang rumahku, aku tertuju ke persawahan yang membeku itu. Terus ku pandang tiada henti memandang, entah apa yang lantas terfokus dalam pikirku, semua teraduk menjadi satu: tentang keadaanku yang terus terkuras lemah, tentang sekolah, tentang pelajaran yang terus meninggalkanku, tentang nilai yang belum mampu aku kejar, tentang tugas-tugas yang masih menumpuk di pojok hujan, tentang teman, sahabat, tentang mamah dan bapak, tentang keluarga. Semua menyatu di benakku. Setelah semalam aku menangis, menangis karena kesakitan yg ku dera kambuh kembali. Malam itu aku terkulai lemah tak berdaya, mamah dan kakak perempuan saya yang terus mencoba mengusap hambarkan luka. Dengan peringatan-peringatan dari mulut mamah yang tiada henti keluar:
"makanya kata mamah juga jangan sekolah dulu, jadi sakit lagi"
"Di sekolah sama saja beraktifitas seperti orang sembuh"
"Di sekolah tadi makan apa?"
"Kamu ngeyel, dibilangin gini-gitu tetep aja sekolah"
"Sudahlah, jangan sekolah lagi, mungkin tidak ada takdir dari Tuhan untuk kamu bersekolah"
"Sudah, keluar dari sekolah saja jika terus-terusan sakit"
"Mamah tidak meminta kamu jadi apa-apa, hanya untuk jadi anak shalehah, rajin mengaji"
"Sangat kukuh banget sih kamu ke sekolah?" selang kakak lelaki saya yang berucap datang ke kamarku.
"Di akhirat juga gak bakalan di tanya tentang fisika, kimia"
"Lina, coba nurut apa kata mamah, sudah jangan sekolah dulu" ucap kakak perempuanku yang sedang mengusap-usap punggungku.
"Biarkan nilai dan tugas jangan dipikirin. Pikirkan dulu kesehatanmu".
Semua kata demi kata masuk ke dalam gendang telinga, dan tersimpan di hati ini.
(Belum Selesai
Di pagi buta, dimana burung masih mengurung dalam sangkarnya, embun masih berjatuhan dari dedaunan, percikan butiran air tersusun di ujung-ujung rumput, hawa basah dan dingin yang menusuk rongga-rongga dalam tubuh.
Aku berdiri di ruang tamu melihat keadaan luar rumah yang masih gelap kelabu dari balik kaca. Lalu, aku duduk di sofa menghadap ke jendela dimana persawahan tepat berada di belakang rumahku, aku tertuju ke persawahan yang membeku itu. Terus ku pandang tiada henti memandang, entah apa yang lantas terfokus dalam pikirku, semua teraduk menjadi satu: tentang keadaanku yang terus terkuras lemah, tentang sekolah, tentang pelajaran yang terus meninggalkanku, tentang nilai yang belum mampu aku kejar, tentang tugas-tugas yang masih menumpuk di pojok hujan, tentang teman, sahabat, tentang mamah dan bapak, tentang keluarga. Semua menyatu di benakku. Setelah semalam aku menangis, menangis karena kesakitan yg ku dera kambuh kembali. Malam itu aku terkulai lemah tak berdaya, mamah dan kakak perempuan saya yang terus mencoba mengusap hambarkan luka. Dengan peringatan-peringatan dari mulut mamah yang tiada henti keluar:
"makanya kata mamah juga jangan sekolah dulu, jadi sakit lagi"
"Di sekolah sama saja beraktifitas seperti orang sembuh"
"Di sekolah tadi makan apa?"
"Kamu ngeyel, dibilangin gini-gitu tetep aja sekolah"
"Sudahlah, jangan sekolah lagi, mungkin tidak ada takdir dari Tuhan untuk kamu bersekolah"
"Sudah, keluar dari sekolah saja jika terus-terusan sakit"
"Mamah tidak meminta kamu jadi apa-apa, hanya untuk jadi anak shalehah, rajin mengaji"
"Sangat kukuh banget sih kamu ke sekolah?" selang kakak lelaki saya yang berucap datang ke kamarku.
"Di akhirat juga gak bakalan di tanya tentang fisika, kimia"
"Lina, coba nurut apa kata mamah, sudah jangan sekolah dulu" ucap kakak perempuanku yang sedang mengusap-usap punggungku.
"Biarkan nilai dan tugas jangan dipikirin. Pikirkan dulu kesehatanmu".
Semua kata demi kata masuk ke dalam gendang telinga, dan tersimpan di hati ini.
(Belum Selesai