Harta
melimpah palsu, jabatan tinggi dan terhormat palsu. Tidak diragukan lagi dengan
keuangan—uang palsu. Semua tinggal dinikmati. Bak pemabuk memenggal leher botol
bir dan
mereguknya penuh kesenangan—palsu. Terbang dari kota kulit sawo ke kota kulit
albino dengan visa-visa palsu, menikmati daging-daging babi hot. Hanya untuk membuncitkan kantong
kadut dengan kertas berangka hijau busuk.
Sulpa
bangga dengan proses kehidupan orang tuanya yang palsu.
Belajar dengan palsu dan sekolah di sekolah palsu. Dia bersikeras memungut
jawaban butir soal dari kismin yang miskin. Dari dusun yang kumuh dan jelata makin. Memakan nasi aron.
Kismin menyambung hidup dengan buku-buku bekas dan ikhtiar dengan yang namanya
jujur. “Terkadang aku ingin seperti Sulpa yang ada apanya” harapnya dalam hati.
Lembaran
kertas berangka dan bergambar tokoh adalah jembatan hidup Sulpa yang
mengantarkannya ke kursi panas berharga. Otaknya diminati orang banyak dari
luar negeri, seperti
Negara Jepang yang gencar mencari otak yang orisinil tidak berkarat sedikitpun
karena hanyut dalam kepalsuan yang membias.
Sedang
kismin tetap terduduk di kursi yang semakin reyot, tangannya setia lihai dibilah-bilah
bambu menjadi alat musik
yang mengharumkan nama dusunnya tanpa mengharumkan baju lusuh dan namanya.
Berabad lamanya berjuang menjulang cita
tetap saja tak terakui jika tanpa kertas-kertas yang berangka, walau otaknya
berkarat.
Di malam rembulan yang sama, Sulpa dan Kismin terseret ke
dunia mimpi yang sama. Sulpa terlelap di atas kasur kapuk harum dan empuk,
sedang Kismin di atas tikar yang sudah bolong-bolong dimakan tikus.
Suatu hari Sulpa dan Kismin dipertemukan di Alam Mizan,
yang mana hari itu adalah hari pertimbangan segala amal perbuatan di dunia.
“Kismin apa yang kamu kerjakan di dunia?”
“Saya selalu beribadah, ikhtiar demi mimpi. Balance antara duniawi dan ukhrowi”
“Lalu, kau Sulpa! Apa yang telah kau lakukan selama di
dunia?”
“Saya hidup dalam kesenangan palsu, berasal dari
keturunan palsu, memakan uang rakyat dengan slogan-slogan palsu, dan bekerja
dengan palsu”
“Kismin masuklah kau ke surga. Dan kau Sulpa! Tidak
berhak masuk ke surga. Karena hidupmu penuh dengan kepalsuan”
“CAG!”
Lina Fathiinah ElJamil
19 Januari
2012