SAJAK-SAJAK AKHIR INI

Salam Sastra.
Sebenarnya saya malu memposting sajak-sajak ini, namun saya tekadkan untuk memberanikan diri mempostingkannya, saya harap kalian membaca keseluruhan sajak-sajak ini. Dan jangan lupa saran juga masukannya ya..
Terimakasih ^_^
Selamat Membaca . . .

Secangkir Embun
Masih saja kau setia dibalik selimut itu ?
Mengabaikan sayup-sayup embun berjatuhan
yang membelai mesra di pagi buta.

Tak pernah terlihat
beribu kepak sayap depan mata
menjemput diriku dengan tari.
Mungkin mereka masih saja mengurung
dalam sangkar terkurung

Bibir membiru-beku
bersama kabut menyelimutiku.
Dan membawa secangkir embun teh, untuk kau reguk
bersama lumpuh dan malasmu dipojok hujan.

Titipkan angan
di celah kapas
agar terbawa angin.
Dan petik kuncup bunga
di ujung bahtera.
                                          09 Juli 2011

Menuju Tanah
Aku kembali menuju tanah
membawa hujan, langit, dan kubur-kubur.
Tubuh terbujur dingin merambat melekat
ke ujung ubun: Ijrail menjemput
melesat dari pasar-pasar
yang menawarkan kefanaan
menuju keabadian
Hanya iman yang mengantongi
gerbang kematian
Menyisakan peti-peti kenangan
di ranting kehidupan
                                         09 Juli 2011

Dibalik Pasir
Kerikil pasir mencakar selubung udara
menyumbat nafas kehidupan
meraut rumput kering di dada
menyentuh perigi hingga melumpuhkan diri
mata kian nanar
bibir putih-memucat
O, mungkin aku terlalu berani
melawan ombak yang menghadang
ke daratan. Hingga aku lumpuh
bersama kesakitan.
Aku bukan batu karang, sayang.
                                                     27 Juli 2011

Bertanya Pada Hujan
Ini kah saatnya ku pergi ?
Meninggalkan embun-embun
yang selalu aku hitung
dengan jemari yang berjatuhan
memasukannya ke bola lampu
disimpan di tirai-tirai hujan
bersama telapak kaki-kaki peri
menaburkan cahaya bening
dari sayap putihnya
setelah hujan reda
menghiasi rumput-rumput
ranting dan daun.
Badanku telah terkulai lemah
melayang bersama ruh-ruh sebelumnya.
Kantuk menjemputku
O, inikah kantuk yang terakhir kalinya ?
dan mengkatupkan pelupuk untuk selamanya
meninggalkanmu dengan senyuman
yang dihujani mutiara di punggung air mata.
                                                                       28 Juli 2011


Tentang Rindu
Aku rindu merindu
memaksa rindu untuk merindu,
merindumu.
Kadang rindu hanya menyisakan fatamorgana
di lengkung cahaya.
Namun ku rela tenggelam di lautan rindu
bersamamu.
O, rindu..
Kau selalu hadir di hidup sepiku
di tirai hujan mendekapku.
                                                 29 Juli 2011

PIL
Haruskah kau bertahan dengan pil-pil
yang belum tentu menghanyutkan
atau bias saja menenggelamkan
Bukankah kehidupan itu ditangan Tuhan ?
beribu pil kau telan bersama kebencian
berharap kau terbang melihat keindahan
“Sayang, kau harus sembuh. Minumlah obat itu”
Ucap mamah merayu membawakan pil-pil seperti hantu
“Jangan makan ini ya, jangan makan itu ya”
Ucap doktor menasehatkan. Sedang kau membusuk,
menuruti yang tak kau mau.

Lihat,
masih banyak yang renta di depanmu
rindu sayap jibril menjemput
mereka sehat dengan senyum yang menyihir
pil-pil itu. Mereka rindu, rindu ruh-ruh
yang pergi dulu.
Kau jangan egois !
atau juga lupa kulitmu
selamilah perut bumi
telan ramuan memahitkan
Hidup ini seperti asap, sayang
dari ada ke tiada.
                                                    29 Juli 2011

Dalam Perenungan
Sebenarnya aku ingin kembali
mungkin faktor ekonomi
atau mungkin tahta
dunia pasar-pasar fana
tapi tidak dapat aku rogoh
disaku; secuir, sehelai
sebiji tasbih pun tidak
Ya. Aku tahu !
selami lubuk bumi
untuk sampai di surga nanti
roda ini sedang berputar
menuju jembatan
kita pun berputar
atom juga.
O, betapa egoisnya kau
ingin nikmati, sedang kau
tak pernah mabuk
di kalam-kalam alam
                                                  30 Juli 2011

-Teruntuk Ayah Iwan B. Setiawan
Di Kerling Matamu
Angin dingin di pagi ini
menusuk rongga-rongga dalam tubuh
jam antik yang berdetak
: aku saksikan
Telah lama aku tak merasakan kelembutan
di kerlingan mata itu
dan memahat gelombang di ujung kedua pelipis
atau di sela rambut yang memutih
O, ayah..
Aku tak seperti putri-putrimu mungkin
yang pandai merangkai kata
dari segala penjuru dunia
yang disatukan menjadi setangkai bunga
dan dipersembahkannya untukmu
sebagai pertanda; Rindu.
Namun aku hanya budak yang merangkak
kehausan, berharap secercah cahaya
akan kau berikan
dan meminta restu sihir dunia
dengan syair-syair rindu.
                                                             2011

Kepingan Hati
Terhempas di tengah padang pasir
mencari setitik embun
yang tak kunjung ku temukan

Ketika mereka di lembah
bersama dekapan penyair
menyiar syair-syair
membawa sampan-sampan kecil
dan mengayunkan tirai
hujan mutiara

Sedang aku di sini
dihujani api melelehkan hati
hanya wajah langit yang meluruh
: hambar, terpekik.

Ingin hati bersua denganmu
namun huruf-huruf busuk
mengakar karat-karat besi
tunggu aku dengan tubuh yang melepuh
berharap kau menancapkan sepasang sayap dibahuku
bersama peri-peri kecil dari surga
untukku pergi meniti pelangi
                                                                     2011

Isyarat Terakhir
Jangan hantarkan aku dengan air mata
namun hantarkan aku dengan doa
Dan
Jangan menangis jika ternyata
aku meninggalkanmu lebih dulu.
                                                      2011

AKU MAU MAUKU
Malam ini aku menangis
bukan karna sebab dan
atau karena dirimu,
namun aku menangis
berharap bisa menjadi
seorang doktor, dan
memakai baju putih.
Yang membebaskan pasien-pasiennya
dari pil, serum, suntikan, penenang
atau apalah itu.
Aku akan membebaskannya dengan apa
yang mereka inginkan, selagi dia sebelum mati
aku akan mengabulkan keinginan dan mimpinya
yang belum tercapai, bukan memenjarakan
batin pasien secara perlahan.
                                                             2011

RASA ITU
Seandainya kubungkam rasa itu
aku akan terus bersyair
mendaki gunung penyair
tanpa pasir dan kerikil
yang menyumbat hidupku
namun bimbang
dan raguku
terus kureguk
menghantuiku.
                                     15 Agustus 2011

BARA MEMBARA DI MATAKU
Aku reguk pil
kemudian benciku
aku diberi serum
kemudian amarahku
segumpal darah hitam
kau kecup menghantam
bagai drakula di pekatnya malam
membunuhku dengan taringmu
bualkan saja semua ke mulutku
sekarang agar tenang
tidak nanti menanti
membuatku terus berharap
malaikat setia menyulam
salut selaput di paruku
namun aku selalu menangis di malam itu.
                                             15 Agustus 2011