I
Di atas kursi tua
Ku coba lenyapkan gejolak cinta
yang kian membakar rasa
memeluk erat kedua lutut; tertegun
II
Desir angin membelai
Tubuhku. Menelusup ke celah-celah ukiran kayu yang kumuh
Menerbangkan debu yang berabad-abad terpagut waktu
III
Daun-daun menguning kian berjatuhan
Ranting-ranting kering kian menua
Serabut akar kekar yang porak-poranda
Gemerincing daun dibalik bilah-bilah bambu
Seakan memberikan isyarat
: aku terlahir dalam keheningan,
Hidup di kesunyian yang menyisakan bau aroma jiwa yang hampa
Terperangkap dalam tanah rasa
Terjatuh dalam kebutaan cinta, hingga aku lumpuh
Karna terpaan gelombang yang maha daya
IV
Alunan irama yang mendesah, kian letih di udara
Terus terngiang ke dalam telinga
Merah mata nanar yang perih, dibaluti luka dalam dada
Menahan sakitnya yang membara
Membakar jiwa,
Aku mencabik-abik hati, sebab dirimu, cinta.
V
Wajah fatamorgana membayang dilengkung cahaya
Memaksaku untuk merindumu
Menyeretku menuju angan yang mengantongkan harapan-harapan beku
Yang lantas tersimpan dalam saku.
Namun semua, hanya menyita waktu yang kian membutakan hatiku
Dan membuat arah yang menyesatkan jalan hidupku
Karena cintaku padamu, buta !
Tapi kau,
Kau
Kau
Yang terus tersirat dalam benakku, hingga aku
Tak bisa lepas dari bayangmu
Terhempas dalam dunia hening, tak asing
Cahaya membersit di lenggokan bebatuan air yang mengalir
Menggoyangkan biji-biji indra
Dan menyentuh kornea dengan lembut
Senja pun menjemput
Setelah anganku terbang dalam mabuk kepayang, dalam rindu yang luluh.
Sedang aku membusuk.
Cianjur,
29 Maret 2011