Gumpalan Amarah

Setumpuk rasa sesal, kesal dan amarah autentik mengendap di dada dan ingin ku luapkan semua padamu, ku campakkan ke wajahmu. Meski kau tak salah padaku.
Dan aku tertawa ngakak jika kau tergeletak: Mati.

Kini
hanya sekepal sesal tersimpan. (mengingat wajamu syarat kedamaian)
...
Maaf. Maaf. Maaf.

Ku sesali,
aku pun tak dapat memaafkan diri.

LINA FATHIINAH ELJAMIL
Cianjur, 2011